Menuju Ramadhan Mubarak – Palu Ekspres
Opini

Menuju Ramadhan Mubarak

Oleh Tasrif Siara

BULAN Ramadhan 1438 Hijriyah sisa menghitung hari. Dalam beberapa hari ke depan lebaran Idul Fitri akan kita jelang.

Apakah Ramadhan yang akan berakhir itu telah memberi pengaruh yang signifikan terhadap tumbuhnya kesalehan personal dan kesalehan sosial kita, dan seperti apa orang-orang merespon Bulan Ramadhan di tahun ini?

Bagi mereka yang memiliki pemahaman keagamaan yang baik, puasa ramadhan dipandang sebagai kesempatan untuk memperbanyak ibadah, menyucikan diri dari sebelas bulan sebelumnya yang mungkin masih menyimpan noktah hitam.
Inilah bulan untuk menghapus segala dosa untuk kemudian melahirkan ekses peningkatan kualitas keimanan dan ekses kesalehan sosial.

Bagi pemilik media elektronik sekelas televisi, merespon Bulan Ramadhan secara khusus pula. Puasa adalah kesempatan untuk menampilkan program acara yang bernuansa religius, dari yang serius sampai banyolan yang kadang tak mencerdaskan.

Target akhirnya menaikkan rating, dan itu adalah kesempatan meraup iklan sebanyak mungkin.
Bagi pemilik pusat perbelanjaan sekelas mall, juga mendapat keberuntungan. Bulan puasa adalah peluang pasar.
Mereka sangat memahami psikologi belanja umat Islam yang memperlakukan Bulan Ramadhan secara istimewa.
Di Bulan Ramadhan ini, konsumsi rumah tangga pasti meningkat drastis.

Apalagi jelang idul fitri inginnya menampilkan properti serba baru. Semua mall pasti gencar promosi sembari tebar rayuan discount (potongan harga) tinggi. Tak lupa lagu bergenre religius diputar sebulan penuh.

Rayuan pusat perbelanjaan itu, biasanya berdampak pada shaf di mesjid, apalagi jelang idul fitri, shaf mengalami “kemajuan” pesat.

Ada semacam simbiose antara promosi produk dan pusat perbelanjaan yang saling menguntungkan. Mesin kapitalisme bekerja sangat efektif selama ramadhan, dan kita tak mungkin bisa menghindar dari getaran mesin itu karena efek psikologi sosial lebih dominan.

Kita seperti tercebur ke kolam pasar kapitalisme dunia. Lihatlah misalnya, minuman bersoda yang miskin manfaat buat tubuh itu, menjadi minuman “wajib” bagi semua rumah tangga saat lebaran nanti.

Bagi sejumlah pejabat eksekutif, legislative, BUMN, partai politik dan lainnya, juga memberi respon secara beda. Ucapan selamat menjalankan ibadah ramadhan dan selamat Idul Fitri ditebar melalui spanduk dan baliho di sejumlah titik jalan raya, masjid, juga di media elektronik.

Bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk menampilkan citra kesalehan sosial dan religiusitas. Ada lagi yang beda. Safari ramadhan sepertinya tak seheboh seperti pada tahun-tahun saat daerah kita akan akan laksanakan Pilkada.

Padahal makna shaum di Bulan Ramadhan ini adalah menahan. Menahan diri dari hal yang tak produktif dan nafsu-nafsu duniawi lainnya. Tapi efek psikologi sosial itu membuat kita meresponnya secara berbeda, tergantung seperti apa posisi anda hari ini.

Apakah sebagai insan kamil yang memahami urgensi ramadhan atau sebagai pedagang, pejabat, politisi dan profesi lainnya.

Puasa itu sesungguhya adalah media untuk peningkatan kesalehan personal dan kesalehan sosial agar melahirkan perilaku yang sublime. Dari pemahaman seperti itu hingga bulan ramadhan mestinya direspon sebagai sarana pembersihan fisik dan spiritualitas atau physical and spiritual cleansing.

Buat anda yang berpikir seperti itu, saya ucapkan selamat menjalankan ibadah ramadhan mubarak, ramadhan yang penuh berkah. Moga memberi efek terhadap peningkatan kualitas kesalehan individual dan kesalehan sosial diantara kita. Selamat menyongsong Idul Fitri 1438 Hijriah. Wassalam.

Penulis merupakan Praktisi Komunikasi Massa

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!