Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Pegawai Pemkot Kerasukan Mengenakan Sampolu

250

PALU, PE – Ada yang berbeda di Kantor Walikota Palu, Kamis 3 Maret kemarin. Seluruh aparatur sipil negara (ASN) berseragam tidak seperti biasanya mengenakan seragam hijau.

Para ASN ini mengenakan kemeja batik bomba ragam warna. Pria dilengkapi tutup kepala simbol adat Siga. Sedangkan wanita mengenakan sampolu, juga  sebutan untuk tutup kepala yang melambangkan tradisi dan budaya.

Motif batik bomba dan warna sigapun beragam. Sedangkan sampolu hanya terlihat dengan dua warna namun dengan motif berbeda-beda. Setelan ini terlihat digunakan ASN diseluruh bagian ruangan.

Kewajiban mengenakan seragam demikian memang diperintahkan Walikota Palu dalam surat edaran nomor 025/44/Disbudpar/2014.Itu untuk mendukung visi Kota Palu yakni kota berbudaya dan beradat. Seragam tersebut digunakan setiap hari Kamis.

Nurjanah, staf Bagian Humas menyebut, sampolu yang ia gunakan dipesan pada jasa penjahit pakaian. Untuk sebuah setelan sampolu, dia membayar jasanya Rp75 ribu.

“Bisa kita beli karena sudah ada manjual. Bisa juga kita pesan sendiri ditukang jahit,”sebut Nurjanah.

Memesan sampolu dijasa jahitan menurutnya dilakukan agar motif dan desain sesuai selera yang ia iginkan.

“Sebenarnya sudah banyak dijual ini. Kalau kita beli harganya berbeda-beda, tapi paling mahal mungkin Rp50 ribu,”ujarnya.

Nurjanah mengaku ASN hanya diwajibkan mengenakan setiap Kamis. Untuk membeli dan memesan, pegawai dibebaskan memilih tempatnya.
“Tidak ada arahan harus beli dimana dan pesan dimana,”pungkasnya. Begitupun dengan siga bagi pria. Umumnya diperoleh dengan membeli atau pesan langsung pada jasa jahitan. Namun berbeda dengan Firman, juga salahsatu pejabat di Bagian Humas Pemkot Palu.

Firman mengaku memperoleh siga yang ia kenakan dari sahabatnya secara gratis.  “Diberi teman, kebetulan teman saya itu buat siganya lebih dari satu,”kata Firman. Terpantau Palu Ekspres, seragam batik bomba, siga dan sampolu juga sudah terlihat dikenakan ASN di kantor-kantor pemerintahan lingkup Pemkot Palu sekitar sekretariat.

Sementara salah seorang pegawai honor Bappeda Kota Palu, Kamis pagi kemarin dilaporkan kerasukan di halaman tengah Kantor Walikota Palu. Kerasukan diduga karena pegawai itu mengenakan sampolu (penutup kepala wanita) berwarna kuning.

Kamis 3 Maret 2017 memang hari pertama penerapan edaran Walikota Palu tentang kewajiban ASN lingkup Pemkot Palu mengenakan siga (penutup kepala simbol adat) bagi pria dan sampolu  bagi wanita. Edaran ini juga mewajibkan agar seluruh pegawai mengenakan kemeja motif batik bomba setiap hari Kamis.
Kerasukan pegawai yang diketahui bernama Hasna itu baru saja mengikuti apel pagi yang dipimpin langsung Kepala Bappeda Palu, Arfan.
Usai apel, sekitar pukul 07.30 pagi seluruh pegawai Bappeda foto bersama rekan-rekannya untuk dibagikan group wats App (WA) sebagai tanda bahwa pegawai Bappeda telah melaksanakan edaran tersebut.

Namun tiba-tiba saja seluruh pegawai terkejut dengan aksi salah satu rekannya bernama Hasna. Kedua tangan Hasna terangkat lalu menari.

“Seperti orang mau menari begitu,”kata salah satu pegawai Bappeda yang mengaku melihat langsung kejadian itu, Kamis 3 Maret 2017.  Gerakan yang diperagakan Hasna mirip dengan gerakan tarian orang yang sedang menggelar ritual balia.

Sebuah ritual adat Lembah Palu untuk pengobatan yang konon melibatkan roh leluhur. “Kalau saya perhatikan, dia (Hasna) tinggal paksa-paksa dirinya batahan supaya dia tidak menari. Saya tidak tau apaka dia sadar atau tidak,”ujar pegawai yang enggan menyebut namanya ini.

Menurutnya kejadian tidak berlangsung lama. Hasna sebut rekannya ini buru-buru meninggalkan lokasi apel menuju ruangan Bappeda Palu setelah kejadian itu.

“Dia (Hasna) kebetulan memang tinggal di Kelurahan Mamboro karena disana mungkin masih ada ritual-ritual balia,”bebernya singkat.
Dikalangan masyarakat Palu sendiri siga dan sampolu merupakan seragam wajib ketika memainkan ritual balia.

(mdi/Palu Ekspres)

Komentar ditutup