Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Seperti PAM, Nantinya Gas Akan Masuk Langsung ke Rumah-rumah Warga Palu

124

PALU, PE – Suatu waktu warga di Kota Palu, Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah dan Kota Luwuk, Ibukota Kabupaten Banggai tak akan lagi menenteng tabung-tabung yang berat itu bila ingin membeli gas untuk kebutuhan rumah tangga. Rumah seluruh warga terhubung dalam jaringan gas kota.

Inilah salah satu gagasan Gubernur Sulteng Longki Djanggola yang disampaikan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Ignatius Jonan, di ruang rapat utama Gedung Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (17/2) kemarin. Gubernur yang juga Ketua DPD Partai Gerindra Sulteng ini didampingi Asisten II, Bunga Elim Somba, Bupati Banggai Herwin Yatim dan beberapa pejabat Provinsi lainnya.

Usulan Longki bukan tanpa dasar. Ia sudah tahu sebelumnya, bahwa City Gas atau Jaringan Gas Kota adalah bagian dari Program Nasional Kementerian ESDM.

Pada 2016 lalu, jaringan City Gas oleh PT. Pertagas Niaga, anak perusahaan PT. Pertamina dibangun di Kabupaten Sengkang, Kota Jambi, Kota Prabumulih, dan Kabupaten Sidoarjo (tahap I). Menyusul lagi di Kabupaten Bekasi, Bulungan, Lhokseumawe,Ogan Ilir, Subang dan Sidoarjo (tahap II).

Begitu pula di Balikpapan, Lhoksukon, dan Pekanbaru serta Prabumulih. Prabumulih nantinya akan menjadi kota dengan pengguna jaringan gas kota terbesar di Indonesia dengan penambahan 32.000 Sambungan Rumah Tangga dengan pengelolaan yang dipercayakan pada PT Pertagas Niaga.

“Potensi yang saat ini dimiliki Sulteng terutama di Kabupaten Banggai sebagai daerah penghasil gas hendaknya bisa mengantar kota Luwuk dan Palu menjadi bagian dari pengembangan City Gas. Kami mohon dukungan kebijakan dari bapak Menteri,” pinta Gubernur Longki kepada Menteri Jonan.

Usulan tersebut direspon positif oleh Jonan. Menurut dia, daerah penghasil migas sudah seharusnya dikembangkan menjadi kota-kota dengan konsep City Gas. Dengan demikian, daerah dengan cepat bisa berkembang melalui investasi-investasi lainnya yang dikembangkan setelah industri hulu dan hilir migas beroperasi.

“Usulan saudara Gubernur Sulteng dan Bupati Banggai akan kami pelajari lebih rinci. Semoga bisa jadi prioritas usulan dalam agenda pembangunan nasional bidang energi dan sumbedaya mineral. Daerah harus lebih maju dan bisa menikmati hasil kekayaan dan sumberdaya alamnya,” kata Jonan.

Mendengar tanggapan itu, baik Gubernur Longki maupun Bupati Herwin, Kota Palu dan Luwuk akan menjadi bagian dari pengembangan City Gas.

“Dengan adanya City Gas akan membuka peluang investasi usaha lainnya secara besar-besaran, dengan memanfaatkan gas yang diproduksi dan dihasilkan oleh perusahaan migas yang sudah beroperasi di Banggai, misalnya PT Donggi Senoro LNG, JOB Pertamina Medco Tomori atau PT Pertamina EP,” hemat Longki.

Bupati Herwin tentu saja sumringah mendengar tanggapan Menteri Jonan, juga mendukung kegigihan Gubernur Longki meminta Kementerian ESDM dapat mengembangkan City Gas itu.

“Alhamdulillah bapak Gubernur secara langsung sudah mengusulkan itu kepada Menteri ESDM. Berarti Pemda Banggai mendapat sokongan penuh pemerintah provinsi dalam mengembangkan sektor industri dan investasi. Ini kebanggaan besar buat kami,” aku Herwin.

Politisi PDI Perjuangan ini menambahkan, terkait pengembangan Kabupaten Banggai dengan konsep City Gas, dalam waktu dekat yakni April 2017, PLN Wilayah Sulutenggo segera melaksanakan pekerjaan konstruksi pembangunan PLTG di wilayah Kecamatan Batui.

Ia meyakini, Pemda Banggai melalui BUMD bisa menggandeng investor swasta nasional untuk membangun terminal gas komersil di wilayah Kota Luwuk. Terminal gas komersil itu harus menjadi yang terbesar di Sulawesi.

City gas atau jaringan gas kota adalah pipa gas yang dibangun untuk mendistribusikan gas langsung ke masyarakat atau rumah tangga low-end (Public Services Obligation/PSO) dan juga untuk rumah tangga high end, apartemen, hotel dan mall (Non-Public Services Obligation/Non-PSO).

Gas kota memiliki keunggulan sebagai energi yang aman, praktis dan hemat serta ramah lingkungan. Sifat gas yang memiliki berat lebih ringan daripada udara membuatnya lebih cepat menguap, sehingga resiko bahaya kebocoran bisa diminimalisasi.

Jadi, akan tiba masanya, warga di Palu dan Luwuk tak akan lagi menenteng tabung-tabung berat itu bila ingin membeli gas di toko atau di kios-kios. Sebab kebutuhan gas rumah tangga sudah tersedia langsung ke rumah-rumah mereka melalui jaringan gas kota seperti halanya air minum dari Perusahaan Daerah Air Minum. Semoga.

(OTR/JGB/PE)

Komentar ditutup