oleh

Bencana Alam dalam Dimensi Sebab Akibat

Oleh Nur SANG ADJI

Tulisan saya yang berjudul “sensitif of disaster” mendapat tanggapan luas sekali. Individu hingga media cetak, radio dan televisi. TVRI, bahkan mengundang saya untuk “live zoom” guna membahas soal ini, kemarin sore, 13/05/2020. Pada tulisan itu, saya mengurai tiga elemen yang bisa bersinergi memproduksi bencana. Gunung, gempa tektonik dan curah hujan.

Salah satu individu yang memberikan tanggapan menarik adalah Ridha Saleh. Mantan anggota Komnas HAM RI asal Sulteng. Dia yang sangat produktif menulis artikel dan buku tentang lingkungan dan hak asasi ini, mengurai hal penting.

Beliau ingatkan begini. “Tiga faktor yang disebutkan itu kan, adalah faktor terpasang (factor attached), tetapi mengapa begitu dahsyat dampaknya saat ini. Tidak seperti 30 tahun atau 50 tahun lalu. Ini juga penting untuk diinformasikan agar pemaham publik tidak terromantisir”.


Ridha benar. Tiga faktor yang dia sebut “faktor attached” itu, sebetulnya adalah “given”. Tapi, “given” itu sifatnya dinamik. Dinamik itu artinya, tunduk pada perubahan. Labil dan stabil secara bergantian. Dia biasanya diperparah oleh kehadiran manusia (human intervention).

Bila hutan kita gundulkan. Iklim mikro dan makro berpengaruh. Temperatur, kelemban dan curah hujan pasti berubah. Kita sering sebut, bencana (natural) yang diakselerasi oleh aksi anthropik. Dan, ini resikonya lebih parah.

Namun, sebuah bukit atau gunung yang tidak disentuh oleh manusia sekalipun. Satu waktu akan longsor. Dimulai dari proses ketidak seimbangan. Proses ini sendiri terjadi sebagai konsekuensi faktor dinamik alam ekologis yang konvergen. Begitu longsor terjadi, bukit atau gunung akan menemukan keseimbangan baru. Demikian, seterusnya hingga akhir. Kita tidak akan bisa membuat alam parmanen. Sebab itu, menyalahi kodrat alamiahnya sendiri.

Bahwa, kualitas alam secara linier selalu menunjukkan keparahan. Itu benar dalam amatan kontemporer. Apriori, sungai Palu, puluhan tahun silam pasti lebih jernih dari sekarang. Orang di Kabonga Donggala, kata almarhum Basir Languha, bisa mengambil ikan katombo di pinggir pantai Teluk Palu. Hanya dengan membentangkan daun kelapa di permukaan laut. Tapi, itu terjadi pada tahun 70 an.


Sekarang, semua berubah. Turbiditas atau kekeruhan sungai Palu saat ini, tinggi sekali. Kita tidak pernah melihatnya jernih kembali. Ikan yang pernah dikisahkan almarhum Basir, pun, tidak pernah ada lagi di sepanjang pesisir Palu menuju Donggala.

Hemat saya, terjadi oleh interaksi dua sistem. Sistem ekologis dan sistem sosial. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, secara deterministik akan bertindak pada tiga hal. Mengambil (taking), merubah (change) dan memodifikasi (modification). Ini yang sebelumnya kita sebut intervensi.

Namun, jangan lupa. Ada juga fenomena linier terbalik. Saya mendapat picuan berfikir ini dari Mulhanan Tombolotutu. Mantan walikota Palu. Beliau pernah menyoal banjir terdahsyat di bumi. Terjadinya kapan..? Semua tahu, di zaman nabi Nuh. Dan, itu bukan hitungan 30 atau 50 tahun silam. Ribuan tahun ke belakang.


Jadi, makin kesini, keparahan banjir tidak lebih dahsyat. Tentu, perbandingan dalam dimensi ruang yang terlalu luas. Tidak mungkin membandingkan kejadian di dua tempat berbeda. Kabupaten Sigi dan negeri Mesapotamia (sekitar Irak, Siria dan Turki). Dimensi ruangnya mesti sama. Akan tatapi, di ruang yang sama pun, bencana separah banjir Nuh itu tidak pernah ada lagi. Setidaknya, dalam selang waktu hingga kini.

Lalu, pertanyaan kritis berikutnya, adalah tentang relasi sistem ekologi dan sosial. Bila, penyebab banjir besar itu, selain curah hujan, adalah hilangnya vegetasi hutan. Maka, apakah sudah ada exploitasi hutan tanpa kendali di zaman nabi Nuh ? Bisa dipastikan, tidak. Lalu, mengapa terjadi banjir demikian dahsyat.? Ini tidak berarti bahwa penebangan hutan secara serampangan dibolehkan. Karena, hutan yang utuh saja terjadi banjir. Apalagi gundul.

Penyebab utamanya karena volume curahan air (precipitation) melampaui kemampuan bumi menyerapnya. Semuanya dipicu oleh penyimpangan perilaku (devien behavior). Penyimpangan ini, bisa merusak sistem sosial, juga sistem ekologis. Terjadi secara sendiri-sendiri atau simultan. Inilah yang kemudian dibalas oleh alam. Kita bisa telusuri sejumlah tulisan terkait. Misalnya, pengadilan oleh air (banjir). Pengadilan oleh api (kebakaran hutan). Pengadilan oleh ombak dan sebagainya.


Semua ini, tidak berdiri sendiri. Ada yang mengaturnya. Bahkan memperingatinya sejak awal. Dia yang mengingatkan. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut, sebab perbuatan manusia. Maka ditimpakan bencana akibat perilaku tersebut”. Dialah si pencipta sekaligus pemilik alam.

Untuk itu, tidak ada pilihan. Kecuali kembali merenung dan mengevaluasi diri. Terdapat formula yang bisa dijadikan patokan untuk bertindak. Resiko bencana menurut formula ini adalah penggabungan antara bahaya (risk) dan kerentanan (fulnerabilty) dibanding kemampuan (capacity). Jadi, iktiar yang harus diambil segera adalah, kurangi bahaya dan kerentanan. Kemudian, tingkatkan kepasitas baik pemerintah maupun masyarakat. Semoga berguna. ***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed