oleh

Pertumbuhan Ekonomi Makin Mengkhawatirkan, Sektor Pangan Menjadi Harapan

Oleh Hasanuddin Atjo

International Moneter Fund, IMF memprediksi dampak pandemic Covid-19 sangat serius. Ekonomi global di tahun 2020 hanya akan tumbuh – 4,9 persen. Ini menjadi salah satu pertanda terjadinya krisis global dan dinilai lebih parah dari krisis global yang terjadi pada tahun 1998. Harapan kita semoga krisis ini tidak berkepanjangan dan kita mampu keluar dari perangkap krisis.

Secara umum ada empat variabel yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi pada satu wilayah, yaitu Investasi, ekspor, konsumsi dan impor. Pertumbuhan negatif terjadi bila nilai konsumsi dan impor lebih besar daripada nilai investasi dan ekspor. Pertumbuhan negatif bermakna bahwa sangat terbatas atau hampir tidak terjadi investasi dan ekspor.

Amerika Serikat akibat dampak dari Covid-19 di tahun 2020 diprediksi hanya tumbuh – 8 persen, Jepang – 5,8 persen, Inggris -10,2 persen, Jerman – 7,8 persen, Perancis -12,5 persen, Italia dan Spanyol masing-masing -12,8 persen. Selanjutnya Indonesia diprediksi tumbuh – 0,3 persen. Tentunya ini harus disyukuri bahwa pertumbuhan ekonomi kita tidak sebegitu parah dibanding dengan negara lain.

Yang membedakan dengan negara lain adalah  cadangan devisa kita yang lebih kecil, masih tingginya kemiskinan maupun ketimpangan pendapatan, sehingga negeri kita rentan terhadap sebuah perubahan bila dampak covid berkepanjangan. Untung saja kondisi ketahanan dan kemandirian pangan kita relatif lebih baik.

Dalam kondisi seperti ini, semua orang dibatasi melakukan kontak langsung, telah terjadi pemutusan hubungan kerja di mana-mana, kemiskinan dan pengangguran bertambah. Di sisi lain,  orang harus makan untuk bisa bertahan hidup maupun berkatifitas meskipun dari rumah. Sehingga sektor pangan menjadi sangat strategis. Bagi sejumlah negara yang memiliki cadangan devisa besar tidak menjadi soal, karena masih bisa mengimpor pangan dari negara lain, namun yang tidak tentunya akan menjadi soal tersendiri.

Pembelajaran yang bisa dipetik dari kasus covid ini bahwa program ketahanan maupun kemandirian pangan negeri ini, kedepannya harus lebih menjadi prioritas yang sejajar dengan program prioritas lainnya. Transformasi inovasi dan teknologi dalam rangka peningkatan produksi dan nilai tambah harus menjadi salah satu prioritas, apalagi saat ini kita berada di era digitalisasi dan distrupsi yang semuanya serba terukur.

Demikian pula halnya dengan penguatan kelembagaan petani dan nelayan di sektor ini, yang selama ini menjadi salah satu hambatan penerapan inovasi dan teknologi pangan modern. Bunga pinjaman yang dinilai masih tinggi, sehingga diperlukan regulasi khusus terkait dengan investasi di sektor pangan.

Tidak kalah pentingnya sebagai keunggulan kompetetif, bahwa indonesia adalah Negara agraris dan maritim,yang beriklim tropis, sehingga pangan bisa diproduksi sepanjang tahun. Selain itu sektor ini juga sangat potensial sebagai salah satu satu sumber devisa. Namun semua ini kan berpulang kepada stakholders pengambil kebijakan.ditingkat pusat dan daerah.

Masyarakat dalam Pilkada tahun 2020 dan 2022 kiranya sudah mempertimbangkan figur yang dinilai mampu mengembankan daerahnya dengan antara lain mendorong sektor pangan sebagai salah satu perioritasnya dengan cara-cara terkini. Banyak contoh yang bisa dilihat antara lain Gubernur Nurdin Abdullah, Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil. Semoga.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed