oleh

Halal bi Halal di Era Covid-19

Oleh Muhd Nur Sangadji

Bawaslu Provinsi Sulawesi Tengah meminta saya memberikan ceramah hikmah halal bi halal yang dirangkai persiapan menghadapi pilkada.
Seumur hidup ku, saya belum pernah menghadiri acara halal bi halal seperti ini. Di tengah merebaknya wabah virus covid 19. Ber-acara hanya virtual. Tidak berhadapan langsung secara fisik.

Bayangkan, bila hal ini terjadi satu dua tahun lalu. Model ini tidak mungkin ada. Sementara, ratusan waktu silam wabah virus pun pernah menimpa. Tidak terbayangkan kejadiannya. Khabarnya, korbannya lebih banyak.

Kala itu, sekitar tahun 1918 dan 1920, wabah flu spanyol merebak. Tapi, perkembangan informasi dan teknologi belum seperti sekarang. Saya dapat kisahnya di sebuah gereja katedral vourvier di kota Lyon Perancis tahun 1996. Orang di sana bilang,
“le histore se repeter. History will repeted. Sejarah berulang”.


Ternyata hampir seluruh peristiwa di makro kosmos ini berulang. Orang Perancis menyebutnya “le periode de returne. Artinya, “the periode of return” atau periode balik. Banjir bandang, kebakaran hutan, longsor, angin puting, ombak, gempa bumi. Adalah bukti. Dia bersublimasi dalam dua sistem sekaligus, sistem alam ekologi (ekosistem) dan sistem sosial. Konfergensinya adalah bencana.

Pertanyaan nya, mengapa atau untuk apa berulang.? Saya menerka sendiri. Agar menjadi pelajaran, hikmah atau (lesson learn). Bahwa, sebagian atau kebanyakan dari peristiwa itu adalah akibat akselerasi anthropik, perbuatan manusia.

Bagitu juga Virus Covid 19. Dipastikan ada “devian human behavior”. Mulai dari Binatang Kelelawar yang disebut sejak awal hingga kecurigaan “bio terorism”. Tidak lepas dari perilaku menyimpang tersebut. Kitab suci menandaskan sejak awal. Telah nampak kerusakan di bumi (laut dan darat), disebabkan oleh tangan manusia. Agar kami rasakan kepada mereka akibat dari perbuatannya. Supaya mereka kembali ke jalan yang benar”.


Atas kejadian ini, kita ditantang untuk berfikir sekaligus berzikir. Bahwa, tidak ada apa-apanya keangkuhan manusia. Mahluk yang tidak kelihatan ini. Sendiri saja, sudah memporak porandakan sendi hidup umat manusia se dunia.

Dan, demikian sulitnya hingga munculah anjuran perdamaian. Berdamailah dengan virus. Saya merenung, mungkin inilah makna hakiki dari halal bi halal itu. Yaitu, damai (paece), pengakuan (recognition) dan ihlas (sincere).

Makna fundamentalnya kita temukan. Dia mengekspresikan perdamaian atau pengakuan. Setelah kita berdamai dengan sesama. Sekarang, kita ajak virus untuk genjatan senjata (berdamai).
Berdamai atau mengakui itu, mengihlaskan eksistensi. Virus itu karya cipta ilahi. Pasti ada tujuannya. Dan ini statement dari langit : “Tidaklah engkau ciptakan segala sesuatu ini dengan sia sia”. Selanjutnya, iktiar dan tawakallah yang kiranya menjadi solusi.


Tentang Bawaslu. Ini bukanlah lembaga yang asing bagi saya. Pertama kali negara membentuk KPU dan BAWASLU, saya telah terlibat menyeleksi. Karena itu saya menaruh harapan besar sekali kepada kedua lembaga ini. Itulah sebabnya, diantara kesibukan beri seminar via Web, menulis dan meneliti. Ketika, ketua Bawaslu Ruslan Husen menghubungi, saya langsung meng-iya- kan.

Bawaslu ini sebetulnya punya misi yang sangat besar dan mulia. Juga, mengendalikan virus. Bahkan virus yang lebih berbahaya. Kalau covid 19 melekat di paru paru. Maka, virus yang diurus Bawaslu itu melekat di hati manusia. Dia bernama Virus tamak dan curang (VTC).

Ketika virus Covid 19 teratasi, maka orang Indonesia akan sehat walafiat. Namun, bila virus VTC dapat dikendalikan oleh Bawaslu, Insya Allah, Indonesia akan damai sejahtera, adil dan makmur. Karena keadilan demokrasi tercipta dan rasa percaya tumbuh.

Dan, inilah esensial yang paling dalam dari Halal bi Halal yang dihelat di masa pandemi covid 19 saat ini. Wallahu A’lam bi syawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed