oleh

Situasi Ekonomi Mengkuatirkan (Bagian Pertama)

Catatan Perjalanan di New Normal//sub judul

Oleh Hasanuddin Atjo


Karena profesi, maka pada setiap akhir pekan saya harus berpergian keluar daerah dari kota Palu menggunakan pesawat udara. Dan, dari bandara tujuan (Makassar atau salah satu bandara di Kalimantan) ke objek berada di salah satu kabupaten, menggunakan jasa travel atau mobil jemputan.
Covid-19 telah menjadi ancaman global dan serius terhadap jiwa manusia serta betdampak terhadap terpuruknya ekonomi masyarakat yang mulai dirasakan di mana-mana. Guna menghambat laju penularan Covid-19, salah satu regulasinya adalah menutup sementara sejumlah bandara, termasuk bandara Mutiara Sis Al Jufrie Paku, yang tidak melayani penumpang umum, terkecuali pesawat kargo logistik yang mengangkut sejumlah kebutuhan masyarakat.
Karena regulasi itu, kurang lebih tiga bulan lamanya , sejumlah orang termasuk saya tidak dapat melaksanakan perjalanan ke luar maupun masuk ke kota Palu . Perjalanan terakhir saya, keluar Palu di pertengahan Maret 2020, dan itupun sudah kesulitan pada saat akan balik ke Palu, karena sebagian maskapai tidak lagi operasional akibat larangan terbang maupun penutupan bandara, yang mulai diberlakukan secara bertahap.
Di awal implementasi era new normal atau tatanan baru sebuah kenormalan pandemic Covid-19, pada tanggal 4 Juni 2020 saya berkesempatan melaksanakan perjalanan keluar dari kota Palu menuju Makassar. Dan kembali ke Palu di tanggal 12 Juni 2020.
Kondisi bandara Mutiara Sis Al-Jufrie Palu saat itu terlihat sepi tidak seperti biasanya, dikarenakan terbatasnya masyarakat melakukan perjalanan. Prosedur berangkatpun menjadi lebih rumit lagi, harus dilengkapi surat keterangan sehat minimal hasil rapid test yang ongkosnya juga lumayan mahal sekitar 400 ribu rupiah. Kalau rapid test hasilnya reaktif, maka calon penumpang harus meneruskan dengan swab, PCR polymerase chain reation yang ongkosnya jauh lebih mahal dari tiket pesawat yaitu sekitar 3 jutaan rupiah. Masa berlakunya pun singkat, yaitu 3 hari untuk rapid dan 7 hari untuk swab.
Berangkat dari Palu dengan menggunakan maskapai penerbangan Batik Air. Secara kebetulan bersebelahan dengan seorang remaja putrid asal lampung, kira kira berusia 30 an tahun. Berdasarkan protokol Covid-19 kursi tengah tidak diisi, sehingga ada jarak. Si remaja tadi ditugaskan oleh kantor pusatnya di Lampung. Dan yang bersangkutan terperangkap di Palu kurang lebih 60 hari termasuk berlebaran di Palu bersama sejumlah rekannya. Ini salah satu contoh dampak ekonomi dan sekaligus psikologis.
Pada saat saya akan ke Kabupaten Barru, ternyata travel yang biasa saya gunakan untuk sementara tidak beroperasi, demikian juga beberapa mobil rental yang saya hubungi. Dan akhirnya saya minta bantun salah satu teman agar bisa mengantarkan saya ke tempat tujuan. Dalam perjalanan melewati 2 kabupaten, yaitu Maros dan Barru dilakukan pemeriksaan yang cukup ketat terkait dengan asal usul dan surat keterangan sehat. Karena lengkap dan ditambah suhu badan normal, pemeriksaan tidak jadi soal.
Di saat kembali menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar yang jaraknya 150 km, saya terpaksa diantar kendaraan perusahaan. Dan terlihat disekitar apron di bagian luar dari bandara, banyak tenan pedagang makanan dan keperluan lainnya yang tutup. Hiruk pikuk petugas dan driver taxi bandara sangat sepi tidak seperti biasanya. Dan karena keterangan sehat sudah kedaluarsa dan tidak sempat mengambil keterangan sehat, maka rapid test dilakukan di bandara dengan biaya 375 ribu rupiah dan menunggu sekitar 30 menit.
Sebelum chekin, maka keterangan kesehatan harus diverifikasi oleh tim medis Covid setempat termasuk mengisi blanko kuning bagi yang belum memiliki aplikasi perjalanan khusus Covid-19 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI yang nama aplikasinya eHAC elektronic Health Alert Card Indonesia. Dan dilanjutkan proses chekin tanpa adanya satu hambatan karena sudah lengkap.
Pengamatan bagian dalam apron bandara seperti ruang tunggu juga sepi, lounge belum ada yang buka, kondisi toilet relatif bersih karena kurang pengguna. Terlihat juga sejumlah pesawat dari berbagai maskapai ikut terparkir di pelataran parkir. Sambil menunggu bourding, saya sengaja memilih salah satu resto yang kebetulan buka dan memesan makanan khas, coto Makassar. Saya kemudian mulai bertanya ke salah satu pelayan; setiap hari berapa banyak yang makan di sini? Si pelayan dengan senyum agak dipaksa menjawab, syukur pak kalau ada 20 persen dibanding sebelumnya.
Bourding GA 608 tepat jam 13.30 Wita. Dan seat pesawat kira-kira terisi sekitar 30 persen atau sekitar 50 an penumpang. Semua pakai masker dan jaga jarak. Kebetulan saya duduk di seat emergency 31 A jendela. Di saat akan landing salah satu pramugari senior duduk di seat 31 C bersebelahan dipisah seat tengah yang sengaja dikosongkan. Dan kemudian saya membuka diskusi; mohon maaf mbak dalam bulan ini sudah berapa kali terbang. Dengan agak berat sang pramugari berkata bahwa dengan kondisi covid-19 dan kebijakan perusahaan ia hanya terbang sebulan sekali yang biasanya 3-4 kali seminggu. Banyak pramugari dan pilot kontrak dengan terpaksa harus dilakukan PHK, pemutusan hubungan kerja. Karena sudah landing dan pesawat terparkir rapih, kami mengakhiri dialog dan tidak lupa dia ucapkan terimakasih pak sudah terbang bersama Garuda.
Di saat turun dari pesawat dan berada di depan meja pemeriksaan dokumen perjalanan, antrean agak panjang karena belum semuanya menggunakan aplikasi perjalanan khusus Covid-19 eHAC Indonesia. Karena aplikasi sudah terinstal di android dan sudah di- update, maka cukup barcode aplikasi milik saya yang discan oleh petugas dan tidak sampai setengah menit.
Aplikasi eHAC dapat didownload dari APP atau Play Store ataupun dari Google. Aplikasi ini akan mempermudah proses pemantauan pergerakan perjalanan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain. Pada aplikasi itu juga ada alamat tinggal, waktu tinggal, pilihan yang terkait kondisi kesehatan saat itu, ada alamat email. Intinya aplikasi ini dapat membantu menghambat laju penularan Covid-19 yang saat ini juga belum menurunkan laju penularan.
Kembali ke rumah sengaja minta tidak dijemput karena ingin peroleh informasi bagaimana kondisi taxi bandara, bisnis transportasi di era new normal. Jawaban driver taxi bandara memperkuat dugaan ekonomi sudah mengkuatirkan. Driver taxi bandara mengatakan bahwa dalam 4 hari baru kali ini dapat penumpang. Dalam kondisi normal dalam sehari biasanya 3 hingga4 kali mengangkut penumpang. Benar-benar sepi pak, masih untung saja ada kebijakan penundaan cicilan kendaraan selama tiga bulan. Kita belum tahu kondisi ini akan berapa lama lagi kata sang driver.
Dari ulasan perjalanan, memberi indikasi bahwa kondisi ekonomi negeri ini memang mengkuatirkan. Pandemic Covid-19 belum bisa diprediksi kapan akan berakhir. Karena itu artikel berikutnya akan difokuskan mengurai bagaimana skenario membangun ekonomi di era new normal, bagaimana kriteria pemimpin daerah yang akan ikut kontestasi Pilkada tahun 2020 agar mampu melahirkan Sulteng yang hebat. *

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed