Bacaan Utama Masyarakat Sulteng
PT IMIP

Terbang Tandem Paralayang

Cara Ekstrim Berwisata di Kota Palu

0 20

Banyak pilihan berwisata di akhir pekan. Anda bisa ke pantai, mendaki gunung, bersepeda atau menjajal kuliner khas Nusantara. Nah, di Palu, Sulawesi Tengah ada tawaran yang sungguh menarik. Kita bisa menikmati indahnya Kota Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah dengan pemandangan teluk dan lembahnya serta pagar pegunungan yang mengitari kota dari atas udara. Apa bisa? Ya, tentu saja. Kita bisa terbang dengan paralayang di atas langit kota. Dijamin asyik dan memicu adrenalin.

Kita akan terbang dari Salena Flying Site di puncak Dusun Salena, Kelurahan Buluri, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu. Untuk itu pekan lalu, saya menghubungi Asgaf Umar, anggota DPRD Donggala yang juga atlet paralayang. Kami sudah lama mengikat janji untuk bisa terbang tandem.

Sabtu, 22 Februari 2020 barulah janji kami tunai. Saya menuju Salena dengan mobil Toyota Kijang tua yang mesinnya masih sangat bagus. Itu milik salah seorang pilot paralayang. Untuk menuju puncak dari jalan Trans Sulawesi di Buluri cuma sekira 10 – 15 menitan.

Saya dibantu oleh asisten pilot untuk mengenakan harness dan helmet standard. Tingkat keamanan peralatan kita menjadi perhatian utama dalam paralayang. Pasalnya bila gegabah, maka nyawa jadi taruhannya.

Saya akan terbang di ketinggian 890 meter di atas permukaan laut. Ini pengalaman pertama saya menikmati indahnya Kota Palu dari atas udara dengan terbang tandem paralayang.

Saya mesti mengakui, persiapan menunggu lepas landas sungguh mendebarkan. Saya mendapat taklimat dari Asgaf bagaimana cara lepas landas yang baik dan aman. Lalu setelah itu, kita siap-siap terbang.

Ia menekankan, “jadi nanti setelah parasut sudah mengembang kita melangkah ke depan sambil berlari kecil. Bila tekanan kurang kita memperlebar langkah. Jilq tidak ada instruksi berhenti, penumpang berjalan terus. Nanti kita akan terangkat sendiri.

Dan…1…2…3…Whuzzz…Kita sudah terbang. Sungguh, menyaksikan indahnya Teluk Palu dengan pesisir pantainya dari atas udara adalah hal yang berbeda dan istimewa rasanya. Meski aktivitas tambang-tambang galian C nyaris memenggerus habis perbukitan barat Kota ini, birunya rona warna laut Teluk Palu terasa menghibur hati dan memanjakan mata.

Ini benar-benar sebuah petualangan yang memicu adrenalin. Saya bisa terbang di atas langit Kota Palu dengan tiupan angin yang cukup kencang. Ini pengalaman yang harus semua orang bisa mengalaminya. Tandem itu seperti menumpang mobil dengan sopir yang ahli, tapi ini di atas udara. Ini benar-benar pengalaman pertama saya.

Dari atas udara, semuanya terasa indah. Biru laut Teluk Palu, kelokan jalan raya dengan kendaraan yang lalu lalang, pemandangan hamparan pegunungan yang memagari Lembah Palu sungguh begitu menawan.

Kita menikmati indahnya Kota dengan yang cara yang tak bisa. Cara yang ekstrim. Terbang dengan paralayang.

Selain keamanan lepas landas, pendaratan adalah hal yang benar-benar diperhatikan. Sebab bila tak cermat bisa berakibat fatal.

Sabtu pekan itu, selain ada seorang anak perempuan seusia Sekolah Menengah Pertama yang juga terbang tandem. Ia terlihat berani. Lalu ada pula pegawai Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan, Universitas Tadulako, Agustina Kombong. Agustina kawan lama saya, dulu ia bekerja di kantor Aliansi Jurnalis Independen Kota Palu.

“So excited. I’m so happy but little nervous. This is the second time I’m flying with paragliding.. Ini kali kedua kali saya terbang. Mantap. kota Palu begitu indah pemandangannya dari udara,” aku dia.

Asgaf dan Komunitas Paralayang Palu yang menjadi penggagas olahraga ekstrim ini, mengatakan saban pekan mereka melayani penumpang lokal.

“Aktivitas tandem paralayang di kota Palu, khususnya di flying site Salena biasanya melayani sampai 10 orang penumpang lokal. Kami berharap sih ada orang-orang asing, tapi kondisinya belum memungkinkan karena kita belum ada pesawat terbang langsung dari luar negeri. kita masih hanya melayani orang-orang di sini. Alhamdulillah setiap Minggu ada yang mau terbang,” kata dia.

Untuk bisa terbang tandem, para peminat wisata ekstrim ini cukup merogoh kocek Rp500 ribu rupiah. Soal keamanan dan kenyamanannya, tak perlu kuatir, para pilot ada atlet profesional dan sudah tersertifikasi. Mereka lebih banyak melayani peminat pada Sabtu – Minggu. Pasalnya, ada yang menjadi aparatur sipil negara, karyawan swasta, dosen hingga anggota DPRD. (far)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: