Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Di Parigi Barat Parimo, Hanya Dua Desa Tak Ada Kasus Stunting

0 284

PALU EKSPRES, PARIGI– Gizi buruk dan stunting masih menjadi suatu permaslahan yang belum selesai di Indonesia. Salah satunya di Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo).

Menurut penuturan Kepala Puskesmas Lompe Ntodea di Kecamatan Parigi Barat, Idham Panggagau, bahwa sebelumnya angka stunting di wilayah itu adalah nol dan tidak ada yang terindikasi stunting.

“Kronologis pertama karena saya melihat laporan dari bidan-bidan desa, dan tahun lalu sebelum saya menjabat sebagai kepala Puskesmas Parigi Barat bahwa angka stunting di sini nol,” kata Idham sapaan akrab Kapus Parigi Barat kepada wartawan di Parigi, Rabu (12/2/2020).

Ia menjelaskan, awalnya di Kecamatan Parigi Barat nol angka stunting. Setelah menerima laporan dari para bidan desa dan melihat laporan gizi tumbuh kembang anak di kartu menuju sehat (KMS) ternyata ada ditemukan anak-anak yang daftar gizinya di bawah garis merah.

“Artinya, itu belum kategori ke gizi buruk tapi anak ini mengalami penurunan berat badan. Kemudian saya suruh list sama bidan desa nama-nama dan alamatnya lalu turun ke sana supaya kita buktikan apakah anak ini stunting atau tidak,” ujarnya.

Setelah turun lapangan ke tempat dimana alamat anak yang diduga mengalami kekurangan gizi kronis tersebut kata Idham, ternyata dari enam desa yang ada di Kecamatan Parigi Barat hanya dua desa yang tidak terdapat stunting.

“Ternyata setelah kami turun, dari enam desa di Parigi Barat itu hanya dua desa tidak ada stunting kami temukan yaitu, Desa Lobu Mandiri dan Kayuboko,” jelasnya.

Adapun empat desa yang terindikasi yakni, Desa Jonokalora, Parigimpu, Baliara, dan Desa Air Panas. Empat desa terindikasi stunting ini ditemukan dengan cara turun langsung ke rumah-rumah warga, dan prosentasenya sekitar 80 persen.

“Jadi dari empat desa itu kita temukan semua on the spot dan itu bisa dilihat di chanel youtube saya, di situ bisa dilihat ada berapa orang yang terindakasi stunting,”ucap Idham.

Menurut dia, beberapa hari lalu di Desa air Panas ditemukan salah seorang anak usia 4 bulan terindikasi stunting. Sehingga pihaknya terus melakukan intervensi hingga berat badannya dalam waktu 1 bulan naik dan tinggi badan juga bertambah kurang lebih 1 cm.

“Jadi, anak itu kami sampaikan ke orangtuanya untuk tidak diberi makanan dan disarankan untuk minum air susu ibu (ASI), karena usia 4 bulan sampai 2 tahun idealnya minum ASI saja. Itu untuk pencegahan stunting dan saya yakin mungkin masih ada lagi yang lain,” ujarnya.

Lanjut dia mengatakan, dalam pencegahan stunting di Kecamatan Parigi Barat pihaknya telah berupaya melakukan inovasi-inovasi seperti, Bro Kamu Penting, yang sudah launching tahun sebelumnya.
“Bro itu adalah sapaan dan Kamu Penting itu kepanjangannya, Kaula Muda Peduli Stunting,” jelasnya.

Bro Kamu Penting ini kata dia didalamnya tergabung anak-anak usia muda yang berumur 15 hingga 24 tahun.

Disamping itu rencana pihkanya kembali akan melaunching satu inovasi lagi yaitu, Masyarakat Mandiri Peduli Sehat (MARI LIHAT).

Sehingga, dengan adanya inovasi ini masyarakat diharapkan dapat melihat ketimpangan yang ada di lingkungannya. Karena stunting bukan hanya untuk balita, tapi juga untuk ibu hamil.

Pencegahan stunting juga harus didukung dengan lingkungan yang bersih, ketersediaan jamban dan air besih.

Dampak anak kurang gizi kronis tambahnya, tidak hanya kecerdasanya saja namun kepercayaan dirinya juga berkurang.

Dengan demikian pihaknya meminta kepada seluruh pemerintah desa di Kecamatan Parigi Barat untuk bergerak bersama dalam hal penanganan stunting.

“Di 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) sangat penting asupan gizi, dan kesehatanya. Jadi pemantuan mulai hamil, melahirkan, sampai anak usia 2 tahun,”ujarnya. (asw/palu ekspres)

 

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: