Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Butuh yang Mampu Manfaatkan “Ruang Tembak Terbatas”

0 8

Hasanuddin Atjo (Ketua Ispikani Sulteng)

Suatu ketika menyempatkan diri menonton pertandingan bola Liga Spanyol. Padahal saya jarang menonton Liga Dunia karena waktu siarnya tengah malam atau dini hari.

Karena ini pertandingan final antara Barcelona dan Reald Madrid yang memperebutkan pimpinan klasemen, maka saya tertarik untuk mengikutinya. Apalagi bintang di Reald Madrid, Ronaldo dan di Barcelona, Lionel Messi diturunkan bermain oleh pelatihnya.

Pertandingan telah masuk pada babak kedua dan sampai menit 85 keadaan masih imbang, tanpa ada goal yang tercipta. Dan, saya memprediksi akan ada perpanjangan waktu 2 kali 15 menit sehingga tidak berharap lagi akan tercipta goal pada priode 2×45 menit.

Tiba-tiba serangan balik datang dari Barcelona dan bola dikuasai oleh Messi, namun dia dihalang-halangi atau dipepet oleh tiga pemain lawan untuk memperkecil ruang tembaknya. Namun dengan reputasi atau knowledge, skill dan attitude ( ketenangan) yang dimiliki oleh seorang Leonil Messi dia bisa melepaskan tendangan melengkung dan bersarang di sudut kanan atas gawang dan goal. Pendukung Barcelona pasti bersorak sedangkan Real Madrid akan tertunduk lesu dan kecewa.

Di dunia kepemimpinan juga seperti itu. Karena reputasinya, maka seseorang menjadi mampu mengelola dan memanfaatkan potensi sumberdaya sekecil apapun untuk kemajuan lembaga, wilayah dan masyarakat yang dipimpinnya.

Lee Kuan Yew, mantan Perdana Menteri Singapura yang bertugas kurang lebih 31 tahun yaitu 1959 – 1990 adalah sebuah testimoni pembenaran pemimpin yang memiliki reputasi. Di bawah kepemimpinannya, Lee mampu “menyulap” Wilayah Singapura yang luasnya hanya 719 km persegi atau sepertiga dari luas Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Daratan didominasi rawa-rawa, penuh ketidakteraturan, serta bunuh-membunuh merupakan hal biasa.

Kini negeri berlambang Kepala Singa itu menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita di tahun 2019 sebesar 64.000 dolar US dan Indonesia di tahun yang sama hanya sekitar 4.000 US dolar.

Dua tokoh di atas adalah contoh orang yang memiliki reputasi di bidangnya masing-masing. Baik Messi maupun Lee terus mengasah dan membangun reputasinya melalui peningkatan knowledge, skill dan attitudenya. Mereka selalu tidak menyia-nyiakan “ruang tembak” atau sumberdaya sekecil apapun. Mereka bekerja dengan selalu membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa.

Pertanyaannya kemudian bagaimana melahirkan Lee dan Messi lain lebih banyak lagi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 dengan pendapatan per kapita per tahun pertahun sebesar 23.000 dolar US.

Pilkada di 2020 sesungguhnya adalah pintu uji untuk hasilkan pemimpin daerah yang punya reputasi. Harapan kita tentunya yang lolos adalah yang miliki reputasi seperti Lee dan Messi, sehingga bisa menekan angka kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusive.

Fenomena ganjal-mengganjal dengan berbagai cara dan memanfaatkan kewenangan yang melekat pada dirinya sesungguhnya adalah hal biasa bagi negara yang sedang berdemokrasi. Dan ini tidak perlu terlalu dipersoalkan, toch yang memiliki hak suara adalah masyarakat. Sudah saatnya dan menjadi tanggung jawab bersama bahwa masyarakat harus diedukasi agar tidak salah dalam memilih.

Sangat banyak kandidat yang akan ikut berkontestasi di Pilkada 2020 ini. Yang merasa dan dinilai memiliki predikat “mampu memanfaatkan ruang tembak yang sempit” untuk menghasilkan goal-goal indah teruslah berjuang, teruslah maju, karena sesungguhnya di tataran masyarakat pemilik hak suara sudah ingin adanya sebuah perubahan.

Orang awam mengatakan kalau amanah itu mau datang, maka tidak bisa dihindari. Meskipun anda diganjal atau dipepet oleh 3 sampai 4 orang pemain belakang lawan. Tidak usah dihiraukan karena kalau sudah menjadi Rhido dan keputusan Illahi insyah Allah anda bisa membuat goal. Goal yang mensejshterahkan masyarakat. SEMOGA.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: