Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Non Sertifikat VS Sertifikat dalam Mengisi Pasar Kerja

0 8

Oleh Hasanuddin Atjo (Kepala Bappeda Sulteng)

Pengangguran dan kemiskinan menjadi salah satu problem besar bangsa. Tahun 2019 pengangguran terbuka negeri ini diperkirakan sekitar 5,28 persen atau setiap 100 orang sekitar 5 orang menganggur. Sedangkan kemiskinan di angka sekitar 9,41 persen atau 25,14 juta orang.

Tidak heran kalau Presiden Joko Widodo di priode pertama dan keduanya memberi prioritas utama terhadap pengembangan SDM. Bahkan tagline dalam memperingati hari Kemerdekaan RI tahun 2019 adalah “SDM Unggul, Indonesia Maju”.

Dalam sambutan di saat meresmikan salah satu Balai Latihan Kerja, Presiden Jokowi mengatakan “ijasahmu tidak akan berarti kalau tidak diikuti dengan sikap mental dan prilaku mu yang baik. Asalah skill, knowledge maupun perilakumu”

Sitti Zohra, Peneliti ahli dari LIPI mengemukakan bahwa persoalan utama Indonesia bukan pada Radikalisme, tetapi lebih kepada tingkat pengangguran dan kemiskinan yang relatif tinggi. Apalagi prosesentase pengangguran terbuka berijazah SLA dan Strata satu cenderung lebih tinggi. Kondisi ini bisa memicu munculnya disintegrasi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ex CEO Gojek, Nadiem Makkarim memberikan warning agar kita segera menyadari fenomena kondisi pendidikan di negeri ini.
Pertama,kita memasuki era dimana gelar tidak menjamin kompetensi.
Kedua, kita memasuki era dimana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya Ketiga, kita memasuki era Akreditasi yang tidak menjamin mutu.

Dari tiga referensi di atas, timbul pertanyaan di mana letak persoalan SDM kita, sehingga angka pengangguran dan kemiskinan masih tinggi. Ada dua faktor yang akan diulas , Pertama, bagaimana kadar kompetensi yang dimiliki SDM kita terkait dengan knowledge, skill dan prilaku. Kedua, sub kompetensi mana yang sangat berpengaruh dari seseorang untuk bersaing di pasar kerja.
Menjawab pertanyaan di atas, maka ada tiga contoh yang akan diulas dan didiskusikan.

Pertama, saudara Pantong, penjaga kolam budidaya udang intensif di Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Profil bersangkutan tidak tamat SD, hanya sedikit bisa menulis dan membaca. Tetapi memiliki sifat jujur, ulet, dan tanggung jawab. Saudara Pantong bekerja atas petunjuk seorang teknisi tambak. Sudah bekerja sekitar 5 tahun dengan pendapatan diperkirakan sama dengan pejabat eselon 4 di sebuah lembaga Pemerintah.

Kedua, Thresya si Penjaja “Kopi Bisa Pasiar” mobile di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Profil bersangkutan adakah sarjana strata satu Jurusan Bahasa Inggris sebuah perguruan tinggi negeri di Palu. Selain sebagai penjaja kopi, yang bersangkutan juga menjadi guru les privat. Pendapatan yang bersangkutan dalam sebulan diperkirakan juga sekitar sama dengan pejabat eselon 4.

Yang membedakan antara Pantong dan Thresya bahwa peluang Pantong menjadi teknisi atau pengusaha di bidangnya kecil karena keterbatasannya. Tetapi paling tidak dia sudah bisa keluar dari pengangguran dan kemiskinan. Keluarganya bisa mengenyam pendidikan dan mampu membayar BPJS meskipun lagi diprotes. Harapannya di saatnya nanti generasi Pantong dengan modal knowledge dan skill serta etos kerja yang baik dapat melebihi orang tuannya, bahkan menjadi teknisi tambak atau pengusaha yang sukses. Namun ini perlu menunggu satu generasi.

Berbeda dengan Thresya, memiliki peluang lebih terbuka untuk menjadi pengusaha di beberapa bidang karena memiliki knowledge dan skill. Beban Thresya lebih besar dari pada Pantong karena harus membangun mentalnya melayani secara menarik dan santun terhadap pembeli yang suka “iseng”. Juga diperhadapkan kepada bagaimana melawan gengsi dari cibiran masyarakat karena seorang sarjana. Ini yang kemudian disampaikan dalam statusnya, setelah artikel “Warkop Mobile, Kreatifitas di Era Disrupsi”, beredar di medsos dan media online maupun cetak.

Dengan terharu Theresya mengatakan : “Di satu sisi ada orang mencibir saya termasuk keluarga saya dengan profesi sebagai penjaja kopi mobile, namun di lain sisi ada orang yang menghargai dan mengangkat harkat saya”. Terimskasih ya Allah. Terimakasih ka Bappeda.

Kasus terakhir adalah seorang Doktor lulusan Perguruan Tinggi ternama di Perancis. Yang bersangkutan lulus dengan predikat cumlaude. Menjadi persoalan bagi dirinya dan sejumlah orang mengapa setiap melamar pekerjaan di sejumlah perusahaan besar selalu gagal. Pedahal nilai test knowledge dan skillnya di atas rata-rata.

Si Doktor tadi baru mengetahui kelemahannya setelah test di perusahaan yang ke sekian dan memberi tahu apa sebabnya. Ternyata pada saat kuliah yang bersangkutan lalai dan tidak membeli karcis kereta. Ini tercatat dalam sebuah sistem, dan rekamannya dipergunakan oleh sejumlah perusahaan untuk melihat nilai minus si pelamar kerja.

Dari tiga kasus yang diulas di atas bahwa membangun daya saing SDM harus membangun dan memiliki knowledge, skill dan attitude atau prilaku secara seimbang. Bila tidak memiliki knowledge dan skill, maka bangunlah dan asalah attitude, prilaku secara baik, karena itu merupakan sebuah modal dasar.

Membangun attitude adalah sebuah proses panjang mulai pendidikan di rumah, lingkungan sekitar dan pendidikan formal. Di mulai sejak lahir sampai yang bersangkutan dinilai sudah mapan mempertahankan prilaku yang baik. Peran keluarga di rumah, pemerintahan terkecil seperti rukun tetangga (RT) dan rukun wilayah (RW), serta sistem pendidikan menjadi sangat penting.

Pemerintah Daerah baik Provinsi dan Kabupaten Kota mempunyai peran penting, karena daerahlah yang memiliki masyarakat. Karena itu proses Pilkada 2020 harus mampu melahirkan pimpinan di daerah yang kompeten merancang dan mengimplementasikan bagaimana melahirkan generasi yang berdaya saing yang memiliki kapasitas adaptif, inovatif dan update untuk mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045.

Peran masyarakat pemilik hak suara dan oartai politik pemilik hak usung menjadi “ rahim” melahirkan pimpinan daerah yang berkualitas. SEMOGA

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: