Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Nataru 2019, Peredaran Uang di Sulteng Rp1,14 Triliun lebih

0 11

PALU EKSPRES, PALU– Bank Indonesia (BI) telah mengantisipasi kebutuhan uang pada momentum natal dan tahun baru (Nataru) 2019. Baik melalui kas titipan Perbankan, kas keliling maupun layanan penukaran uang.

Untuk wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng), BI Perwakilan menyediakan total kebutuhan uang sebesar Rp1,56triliun lebih dalam uang pecahan besar (UPB) sebesar 96,05persen dan uang pecahan kecil (UPK) sebesar 3,95persen.

Namun tahun 2019, realisasinya hanya mencapai Rp1,14triliun lebih. Dengan realisasi UPB sebesar 97,05persen dan UPK sebesar 2,95persen.

Realisasi peredaran uang tahun 2019 lebih kecil dibanding tahun 2018. Yakni sebesar Rp1,23triliun lebih. Turun sekitar 7,8persen.

Kepala Perwakilan BI Sulteng, M Abdul Majid Ikram menjelaskan, turunnya realisasi peredaran uang pada momen Nataru 2019 salahsatunya disebabkan meningkatnya pembayaran non tunai.

“Kami akan melakukan kajian seberapa besar pengaruh pembayaran non tunai terhadap realisasi perendaran uang ini,”jelas Majid, sapaan akrabnya, Jumat 3 Januari 2020.

Adapun rincian peredaran uang selama Desember 2019 masing-masing untuk UPB pada Perbankan Palu dan kas titipan sebesar Rp1,089triliun lebih. Sedangkan realisasi penukaran dan kas keluar sebesar Rp15,727milyar lebih. Dengan nilai total Rp1,105triliun lebih. Adapun perbandingan realisasi UPB tahun 2018 sebesar Rp1,197triliun lebih.

Sementara realisasi UPK pada Desember 2019 di Perbankan Palu dan las titipan sebesar Rp33,136milyar lebih. Dan realisasi penukaran dan kas keluar sebesar Rp1,923milyar lebih dengan total Rp35,059milyar lebih. Sedangkan realisasi tahun 2018 sebesar Rp40,840milyar lebih.

Total keseluruhan realisasi UPB dan UPK tahun 2019 sebesar Rp1,123triliun lebih pada Perbankan Palu dan kas tiripan. Kemudian realisasi penukaran dan kas keluar UPB dan UPK senilai total Rp17,640milyar lebih. Dengan total 1,149triliun lebih.

Adapun perbandingan realisasi total peredaran uang pada tahun 2018 sebesar Rp1,123triliun lebih.

Dibagian lain, Majid menjelaskan terkait realisasi inflasi pada Desember 2019. Dimana inflasi Kota Palu tercatat 0,83persen (mtm). Atau secara tahunan 2,30persen year on year (yoy).

Angka inflasi Desember pun menurutnya lebih rendah dari rata-rata historisnya. Dalam tiga tahun terakhir yang tercatat 1,36persen (mtm) atau 4,09perse (yoy).

Dengan demikian jelas dia, secara tahunan dan akumulatif inflasi berada dibawah target sasaran yakni 3,5 +/- 1 (y0y). Capaian ini merupakan inflasi terendah sejak 2016 yang tercatat 1,49persen (yoy).

“Capaian ini tidak terlepas dari upaya TPID yang selalu meningkatkan sinergi antar instansi untuk mengambil langkah-langkah antisipatif sesegera mungkin. Khususnya dalam menjaga ketersediaan stok komoditas utama untuk kebutuhan masyarakat,”jelasnya.

BI dan pemerintah terangnya akan tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga sehingga inflasi terjaga dalam kisaran sasaran 3,0+/-1persen pada tahun 2020.

Dia menjelaskan terkendalinya inflasi tahunan pada 2019 didukung inflasi inti dan administered price (AP) yang terjaga pada level rendah. Serta inflasi volatile food (VF) yang terkendali.

lnflasi inti yang terjaga pada level rendah sebesar 2,00persen (yoy) tidak terlepas dari permintaan masyarakat yang relatif stabil. lnflasi VF yang terkendali pada level 3,55persen (yoy) karena ditopang ketersediaan pasokan pangan yang terjaga meski di tengah gangguan cuaca dan pola tanam yang terjadi di pertengahan 2019.

“lnflasi AP yang rendah sebesar 2,10persen (yoy) sejalan dengan minimalnya Kebijakan terkait tarif dan harga yang diatur Pemerintah,”demikian Majid. (mdi/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: