Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Ekonomi Sulteng Stabil dalam Ketidakpastian Ekonomi Global

0 17

PALU EKSPRES, PALU– Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah (KPw BI Sulteng) Abdul Majid Ikram memperkirakan ekonomi Sulteng akan tetap tinggi dalam situasi ekonomi global yang diliputi ketidakpastian. Hal ini tergambar dari pertumbuhan persentase untuk tiga triwulan tahun 2019 yang tercatat masing-masing 6,79, 6,48persen dan 6,07persen year on year (yoy).

Dari sisi penawaran kata Majid, kenaikan pertumbuhan ditopang sektor konstruksi sejalan dengan progres rekonstruksi pasca bencana. Selain itu, sektor pertambangan juga tumbuh tinggi didorong oleh tingginya harga nikel dan permintaan. Sektor industri juga masih tumbuh kuat terutama di sektor industri pengolahan logam di Morowali.

Kemudian sisi pengeluaran. Ekspor Sulteng masih tetap tinggi disertai dan menurunnya impor. Menjadikan net ekspor Sulteng tetap baik. Konsumsi Pemerintah juga meningkat seiring keseriusan pemerintah dalam mempercepat proses rekonstruksi.

Sedangkan dari sisi investasi, meski sempat tertahan sebelum Pemilu Presiden, namun investasi kembali meningkat. Menurutnya ini menunjukan Sulteng masih menjadi primadona bagi investor baik asing maupun domestik.

Namun demikian jelas Majid, terdapat beberapa sektor yang menahan laju pertumbuhan Sulteng. Antara lain
Penurunan sektor pertanian. Terrutama tanaman pangan akibat beberapa infrastruktur pendukung seperti irigasi yang belum optimal pasca bencana.

Dari sisi perdagangan, akomodasi dan makanan dan minuman, meski mulai berangsur pulih, namun bila dibandingkan tahun lalu kinerjanya menurun. Selain itu, konsumsi RT hanya tumbuh 0,57persen (yoy rata-rata selama 2019) Ini masih belum mencapai level pertumbuhan sebelum bencana yang mencapai rata-rata 4,97persen (yoy).

“Oleh karena itu, percepatan realisasi berbagai bantuan / insentif untuk masyarakat menjadi hal yang penting,”jelas Majid dalam pertemuan tahunan BI Sulteng, Kamis 5 Desember 2019 di Hotel Santika Palu.

Sementara itu, dari sisi size ekonomi, Sulteng semakin mendekati Papua sebagai peringkat kedua di Kawasan Sulampua setelah Sulsel dan Papua.

Size PDRB Sulteng mencapai 12,04persen dari total PDRB Sulampua. Share PDRB Sulteng yang terus meningkat menjadi indikasi hal ini.

Majid menyebut hal itu tidak terlepas dari kinerja ekspor yang sangat baik. Nilai ekspor Sulteng masih merupakan yang terbesar di Sulampua.

Pada periode Januari – Oktober 2019, total ekspor Sulteng mencapai USD 4,91 milar, atau 39,9persen dari total ekspor Sulampua. Tingginya ekspor ini terutama ditopang oleh ekspor komoditas olahan nikel dan gas, yang pangsanya mencapai 96,74persen.

Di sisi lain impor hanya USD 2,45 miliar, sehingga neraca perdagangan luar negeri Sulteng tercatat surplus sebesar USD 2,36 miliar, atau tumbuh 7,19persen (yoy).

Dia menjelaskan, setelah meningkat tajam akibat bencana, inflasi Sulteng mulai berangsur menurun. Per November 2019, inflasi tercatat 2,58persen (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan November 2018 yakni 7,27persen (yoy).

Penurunan tekanan disebabkan oleh meredanya fluktuasi volatile foods yang dari 2018 yang mencapai 4,41persen (yoy) dan menjadi 2,05persen (yoy).

Dimana sebagian besar komoditas bahan makan mengalami penurunan. Diantaranya ikan segar, padi-padian dan sayur-sayuran.

Selanjutnya dari sisi administred price, tarif angkutan udara. Meski masih tinggi, namun dibanding tahun lalu cenderung menurun. Sementara itu,core inflation masih relatif tinggi terutama meningkatnya konsumsi barang konstruksi, namun mulai menurun sejalan dengan perbaikan infrastruktur pelabuhan Pantoloan.

Kondisi pasca bencana penyaluran kredit melambat. Diikuti perhatian terhadap potensi kerentanan stabilitas sistem keuangan di Sulteng. Pertumbuhan kredit selama 2019 mencapai 6,49persen (yoy), lebih rendah dari 2018 yakni 10,21persen(yoy).

Bahkan, LDR juga turun dari 145persen menjadi 131persen. Meskipun kualitas kredit masih terjaga. Kondisi ini menurunkan kinerja perbankan dimana rasio intermediasi makroprudensial (RIM) dibawah threshold sebesar 84 – 94persen (78,11persen)

Dan meningkatnya kewajiban penyangga likuidtas makroprudensial (PLM) diatas 4persen (24,32persen). Dari sisi korporasi, terdapat beberapa tekanan sumber kerentanan dari harga komoditas dalam hal ini LNG yang menjadi disinsentif bagi pelaku industri. Nilai ekspor LNG pada 2019 tercatat menurun -20,41persen (yoy).

Sementara itu, kondisi sektor rumah tanggah terpantau belum tumbuh di level sebelum gempa. Hal ini tercermin dari hasil survei BI, dimana indeks keyakinan konsumen berada di zona pesimis yakni 92,83, berbeda jauh dari kondisi sebelum gempa 127,5. 

Pertumbuhan ekonomi yang masih tinggi mendorong perbaikan ketenagakerjaan, meskipun kesejahteraan masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2019 mencapai 3,15persen lebih rendah dibandingkan tahun lalu yakni 3,43persen. Sementara itu, distribusi pendapatan masyarakat semakin membaik sebagaimana dicerminkan rasio gini dari 0,346 menjadi 0,327.

Namun jelas Majid perlu menjadi perhatian meskipun tingkat kemiskinan turun dari 13,69persen menjadi 13,43persen, masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata Sulawesi yang mencapai 11,42persen.

Selain itu, nilai tukar petani (NTP) mencapai 95,40 (NTP nasional 104,14), dimana mencerminkan masih rendahnya daya beli petani.

Transaksi ekonomi di Sulteng semakin menuju ke non tunai. Bahkan aktivitas ekonomi digital mulai menggeliat. Penggunaan transaksi non tunai melalui RTGS dan Kliring selama Jan – September 2019 tercatat tumbuh 194,21persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dan penggunaan alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) juga semakin marak. Selama 2019, penggunaan kartu debit dan kredit, untuk transaksi belanja baik di merchant maupun online, nominal transaksi menyentuh angka Rp705,94 miliar.

“Kedua hal ini menunjukan minat masyarakat Sulteng yang semakin tinggi akan transaksi non tunai. Oleh karena itu, kedepan, promosi penggunaan non tunai akan semakin kita intensifkan,”katanya.

Menurutnya sinergi, transformasi dan inovasi merupakan tiga kata kunci dalam menghadapi dampak dari memburuknya ekonomi global dan semakin semaraknya digitalisasi. Semangat ini dibangun BI, baik dalam pelaksanaan tugas-tugas, maupun dalam bermitra dengan Pemerintah, OJK, dan para mitra kerja yang selama ini telah erat akan semakin diperkuat.

Sinergi  bauran  kebijakan makroekonomi dan  sistem  keuangan  diarahkan  untuk menjaga stabilitas, sambil memanfaatkan terbukanya ruang untuk turut mendorong momentum pertumbuhan.

Sinergi dalam transformasi jelasnya juga diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Sekaligus memperkuat  struktur perekonomian.  Sinergi dalam inovasi digital terus dilakukan agar Blueprint sistem pembayaran dapat mendukung integrasi ekonomi dan  keuangan digital secara nasional.

“Sinergi juga diperkuat dengan DPR khususnya komisi XI, Perbankan, dunia usaha, media, akademika, dan berbagai pihak. Dengan sinergi itulah Indonesia menunjukkan ketahan dalam menghadapi dinamika ekonomi global,”ujarnya.

“Dengan sinergi, tranformasi, dan inovasi, prospek ekonomi Indonesia ke depan akan lebih baik menuju negara maju yang semakin sejahtera,”demikian Majid.

Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Provinsi Sulteng 2019 dilaksanakan dalam rangka meningkatkan sinergi KPw BI Sulteng sekaligus ajang pemberian apresiasi kepada para stakeholder BI yang setia mendukung dan mensukseskan program kerja Bank Indonesia.

PTBI diikuti oleh Pemprov Sulteng, pemerintah kota dan kabupaten, OPD terakit, perbankan, pelaku usaha, dan akademisi yang telah bekerjasama dengan KPw BI Sulteng.  PTBI 2019 Provinsi Sulteng ini diharapkan dapat meningkatkan hubungan baik kepada para stakeholder serta mendorong kerja sama yang lebih optimal dalam menjaga stabilitas nilai rupiah di Sulteng. (**/mdi/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: