Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Kelor di Tengah Kemiskinan dan Stunting, Peluang dan Tantangan Pascabencana

0 24

Oleh Hasanuddin Atjo (Kepala Bappeda Sulteng)

KEMISKINAN salah satu persoalan yang menjadi prioritas Jokowi-Ma’ruf untuk ditangani dalam priode 5 tahun ke depan dan juga menjadi prioritas di daerah.

Secara Nasional jumlah penduduk miskin per Maret 2019 sebesar 25,14 juta orang atau 9.41 persen. Dan, secara regional Sulawesi Tengah 410,36 ribu orang atau 13,48 persen.

Selain Kemiskinan, stunting atau kondisi gagal tumbuh pada tubuh dan otak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama juga menjadi persoalan bersama yang harus diselesaikan guna mewujudkankan visi panjang Indonesia Hebat 2045.

Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) bahwa di tahun 2018 angka stunting nasional sekitar 30,8 persen dan regional Sulawesi Tengah sebesar 36,1 persen. Ini bermakna bahwa tiga dari anak balita Indonesia hidup dalam kondisi stunting.

Sisi Mata Uang dan Desain Bisnis

Kemiskinan dan Stunting bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Karena itu penyelesaiannya harus secara paralel. Pemberian pemahaman tentang pentingnya asupan gizi mulai dari janin dikandung sampai usia balita, intervensi pemberian makanan bergizi dan bantuan program kemiskinan tentunya tidak cukup. Masyarakat miskin harus segera dilibatkan dalam bisnis yang dalam keterjangkauan daya dan kapasitasnya. Harus dipilih komoditas yang mudah ditumbuhkan dan dirawat, serta desain bisnisnya dalam sebuah kerangka industrialisasi agar berkelanjutan.

Kelor atau bahasa latinnya Moringa Oleifera mudah tumbuh di daerah tropis karena membutuhkan intensitas cahaya tinggi dan iklim yang kering (wilayah dengan curah hujan rendah).

Wolrd Health Organization, WHO Organisasi Kesehatan Dunia, PBB menganjurkan agar ibu hamil, bayi dan anak pada fase pertumbuhan diberi konsumsi kelor, karena khasiat dari daun maupun buah kelor. Konsentrasi Potasium kelor tiga kali lipat dari pisang, kalsium empat kali lipat daripada susu, vitamin C tujuh kali lipat daripada jeruk, vitamin A empat kali lipat lebih banyak dari pada wortel. Bahkan, kandungan protein dua kali lipat dari pada susu.

Kandungan gizi yang dikandung daun maupun biji kelor sangat bermanfaat. Pertama, menjaga berat badan agar tetap seimbang berat badannya, karena mengandung polyphenol yang tinggi, yang bekerja sebagai antioksidan untuk detoksifikasi racun di dalam tubuh, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Kedua, bahan pembuatan kosmetik menghilangkan flek dan sebagai pelembab wajah.

Karena tujuannya untuk kebutuhan dalam negeri dan kebutuhan masyarakat dunia, maka pengembangan komoditas ini harus dirancang sebagai komoditas industri dengan standar pasar Internasional. Teknologi penyediaan benih, pembudidayaanya dan prosessing hingga produk turunan dan ikutannya harus dipersiapkan. Demikian pula dengan penyiapan kelembagaan di masyarakat yang selama ini juga menjadi persoalan.

Tantangan Pimpinan Daerah dan Masyarakat

Tiga puluh empat Provinsi dan bupaten/kota di Indonesia tentunya harus bersama- sama memprioritaskan menyelesaikan kedua masalah ini. Presiden Jokowi dan wakilnya Ma’ruf Amin telah mengagendakan 5 prioritas di priode 2019-2024 yaitu pengembangan SDM, infrastruktur, penyerderhanaan regulasi, penyederhanaan birokrasi dan transformasi ekonomi.

Tahun 2024 merupakan proses pemilihan kepala daerah serentak. Dan tahun 2020 merupakan pemilihan tahap akhir sebelum tahun 2024. Harapan kita semua tentunya yang terpilih benar-benar yang visioner, adaptif, inovatif dan update karena sudah berada di Era Industri 4.0 dan Society Industri 5.0.

Peran masyarakat menjadi sangat strategis dalam menyalurkan hak suaranya. Demikian pula partai yang memiliki hak mengusung. Pandangan sejumlah kalangan bahwa minimal 70 persen yang terpilih adalah pasangan yang sesuai kriteria untuk membawa daerahnya keluar dari persoalan Kemiskinan dan Stunting.

Wilayah PADAGIMO

Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong (PADAGIMO) yang bermakna “Kemenangan” adalah wilayah yang sangat terdampak oleh bencana gempa, tsunami dan likuefaksi tanggal 28 September 2018. Dampak lanjut yang ditimbulkan tentunya terkait dengan kemiskinan, pengangguran dan rawan gizi.

Saat ini juga Pemerintah pusat dan daerah termasuk JICA dan Organisasi dunia lainnya sedang merumuskan formulasi pemulihan ekonomi pascabencana itu. Kunjungan beberapa pejabat Bappenas bersama sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi dan beberapa kabupaten/kotanya yang difasilitasi JICA, Japan International Cooperation Agency dari tanggal 5 – 14 November tahun
2019 telah memberikan banyak pembelajaran dan inspirasi termasauk gagasan kemungkinan membangun kerjasama antar provinsi “Sulawesi Tengah, Indonesia – Miyagi, Jepang” dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta ekonomi.

Pengembangan komoditas Kelor yang berorietasi industri dan berbasis masyarakat dapat dikerjasamakan, karena selain nilai gizinya yang sangat bermanfaat, mudah tumbuh dan tidak rentan dengan penyakit, juga iklim Indonesia termasuk Sulawesi Tengah yang sangat sesuai.
Harapannya pokok pikiran ini bisa menjadi referensi dan inspirasi menuju Sulteng dan Indonesia HEBAT di 2045.  SEMOGA.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.