Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Sehari di Gugusan Pulau TNKT, Pemerintah Perlu  Mendorong Jadi Paket Wisata Sulawesi

0 16

PALU EKSPRES, AMPANA– Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah, Abdul Madjid Ikram langsung menyambar peralatan snorkeling (selam permukaan). Boat yang ditumpanginya telah tiba di salahsatu spot pengamatan bawah laut di gugusan pulau Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) Kabupaten Tojo Una-Una.

Sengatan mentari yang hampir mencapai puncaknya siang itu tak ia hiraukan untuk membayar rasa penasaran akan keindahan panorama bawah laut di TNKT. Sebentar kemudian, byurrrr,,,,. Sejumlah wartawan pun melompat ke dalam air,
ikut mengamati keindahan aneka hayati di spot ini.

Tahun ini BI Sulteng memilih TNKT sebagai tempat kegiatan capasity building wartawan. Baik Madjid dan beberapa wartawan memang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini. 

“Ini luar biasa indah,” ucap Madjid. Di spot ini hamparan terumbu karang menghiasi dinding palung. Warna- warni ikan menari-menari di sela karang. Beberapa terlihat mengkilap diterpa sinar mentari.  Di titik dangkal, pemandangan bahkan terlihat dengan mata telanjang meski tanpa memakai kacamata air. Saking jernihnya.

Mendekati pukul 12.00 WITA, rombongan bergegas menuju Pulau Papan. Salahsatu dari 454 gugusan pulau di TNKT untuk melaksanakan salat Jumat. Disebut Pulau Papan karena terdapat sebuah jembatan papan membentang panjang. Menyambung Pulau Papan dengan sebuah pulau di depannya. Di pulau ini ada potensi wisata gua kelelawar dan desa wisata.

Sosialisasi uang rupiah pun sempat digelar di pulau berpenghuni ini.
Sayangnya tak ada cindera mata khas yang bisa dibawa pulang dari di sini.  Pedagang keliling di dermaga hanya menjual pakaian konvensional yang bisa dibeli di tempat lain.

Untuk menuju Pulau Papan, wisatawan biasanya berangkat dari Kecamatan Ampana Ibu Kota Tojo Una-Una menuju Pulau Wakai. Adapula yang langsung dari Ampana menuju pulau-pulau yang diinginkan. Rata-rata menempuh perjalanan 1 atau 2 jam dengan speed boat.

Beberapa resort dan cottage milik warga negara asing (WNA) menyediakan jasa paket holiday lengkap. Jasa Resort Black Marlin misalnya. Untuk menuju pulau-pulau wisata dikenakan tarif Rp 1.750.000 per jiwa. Fasilitasnya, transportasi dari Wakai, penginapan di resort selama tiga hari lengkap makan minum. Akan tetapi resort tidak melayani paket lengkap ini jika hanya satu orang. Minimal tiga orang dalam setiap paket.

“Kecuali satu orang tersebut membayar sekaligus untuk harga tiga orang,” kata seorang guide wisata.

Ada paket wisata yang lebih terjangkau dan murah (backpacker). Menggunakan transportasi publik dari Ampana ke Wakai dengan tarif Rp60.000. Dari Wakai, menuju pulau-pulau wisata backpacker bisa menumpang sped boat milik resort. Jika menginap di resort penyedia jasa, maka tidak perlu bayar tarif sped boat.

Matahari kian condong ke barat, dari Pulau Papan rombongan peserta capacity buliding BI Sulteng dibawa trip ke Pulau Ubur-Ubur. Ada sebuah danau di tengah pulau ini. Menjadi habitat ubur-ubur tanpa sengat. Tak boleh  disentuh apalagi diangkat ke permukaan air.
Selain Danau Ubur-Ubur destinasi wisata pantai lainnya bisa dijumpai di Pulau Kadidiri, Pulau Paladan dan Pulau Pangempa.

Dari 454 pulau di TNKT,  baru 19 pulau di antaranya yang dikelola untuk wisata bahari. Sedikitnya 79 titik selam ada di TNKT. Masing-masing di Kecamatan Una-Una 18 titik. Kecamatan Togean 28 titik, Kecamatan Walea Kepulauan 15 titik dan Kecamatan  Walea Besar 18 titik.

Kemudian terdapat sedikitnya 21 potensi wisata pantai dan 19 potensi wisata pulau. Wisata alam bahari yang kini telah dikembangkan antara lain di pulau  Kabupaten Tojo Una-Una sendiri terdiri dari 12 kecamatan. 6 kecamatan berada di wilayah daratan dan 6 lainnya masuk dalam kawasan TNKT. Dan tiga dari enam kecamatan dalam TNKT merupakan tujuan wisata.

Kepala Dinas Pariwisata Tojo Una-Una Mario Dg Pawadjoi menyebut, TNKT menjadi salah satu pusat terumbu karang di dunia (Coral three angle). 38 jenis karang dari 15 family dan 307 spesies ikan dari 42 family yang bisa dijumpai di 9 titik selam. Menjadi potensi unggulan wisata bawah laut.

Selain wisata bahari, TNKT sebenarnya memiliki potensi wisata daratan. Misalnya Air Terjun Sansarino, Gua Manu, Air Terjun Teo Rama dan Korompondo. Danau Banano, Air Panas Marowo, Jembatan Gantung Uwetoli, Permandian Malotong, arung jeram Sungai Ulubongka. Wisata pegungungan dan wisata riset di Dataran Bulan.

Menurut Mario, sejauh ini kunjungan wisatawan ke TNKT titik tertingginya berada di angka 20.045 kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik pada tahun 2018. Karena isu bencana, kunjungan turun jadi 6.168 pada tahun 2019. Namun tahun 2020, seiring berjalan waktu, jumlah kunjungan kata dia berangsur naik.  Karenanya, tahun 2020 pihaknya menargetkan  kunjungan di angka 20.105.

Ketua Asosiasi Pramuwisata Sulteng, Abdul Haris Bolango mengatakan, market promosi TNKT menyasar wisatawan Eropa, Spanyol, China dan Australia. Akan tetapi promosi mengenai potensi wisata TNKT sepertinya belum menjadi perhatian pemerintah. Promosi justru dilakukan kalangan wisatawan manca negara.

Menurutnya promosi potensi wisata di TNKT perlu dilakukan secara komprehensif. Mulai dari penataan infrastruktur hingga memperluasnya menjadi potensi wisata pulau Sulawesi dalam satu paket. Sehingga sekali jalan, wisatawan punya banyak pilihan.
“Jadi seluruh potensi yang ada di pulau Sulawesi itu masuk menjadi satu paket wisata,”jelasnya.

Demikian halnya akses tranportasi. Pemerintah perlu memikirkan bagaimana mempermudah akses. Khususnya transportasi udara. Satu hal yang paling penting kata dia adalah mengembangkan Bandara Mutiara Sis Aljufri menjadi bandara internasional. Serta membuka jalur terbang dari Kota Makassar ke Ampana, ibukota Tojo Una-Una.

Sementara itu Kepala BI Sulteng, Abdul Madjid Ikram berpendapat, TNKT memang perlu dikembangkan secara komprehensif. Sebab saat ini negara sedang gencar mempromosikan wisata melalui program Pesona Indonesia.

Sebab pngembangan sektor pariwisata menurutnya menjadi salah satu pintu masuk untuk mendongkrak devisa negara karena Idonesia saat ini butuh devisa. Karena situasi yang terjadi saat ini jumlah uang asing yang masuk ke Indonesia lebih kecil dibanding uang asing yang keluar. “TNKT tidak kalah dengan Pulau Bali. Ini sangat berpotensi untuk dikembangkan,. Sehingga bisa menjadi pintu masuk devisa negara,”katanya. Madjid sependapat bahwa harus ada planing lokakarya pariwisata Sulawesi satu paket ini. Bahkan bila perlu secara bersama-sama mendorong TNKT menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata.

Kembali ke rombongan capacity building, perjalanan dari Pulau Papan diakhiri di Pulau Kadidiri. Di pulau ini pun tak kalah indah. Jejeran cottage menempel di dinding tebing.

Suasana alami di pulau ini sangat terjaga. Wisatawan bisa menikmati dua dimensi alam sekaligus. Pengunungan dan pantai. Pulau Kadidiri biasanya menjadi tujuan untuk menikmati panorama sunset. (mdi/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.