Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Smart Farming, Pascabencana di Nobiru Village, Kota Higashi Matsushima

Catatan Perjalanan Kepala Bappeda Sulteng di Negeri Sakura

0 23

PALU EKSPRES– Inisiatif kelompok tani yang tergabung dalam perusahaan kemitraan Agried Naruse di Nobiru Village, Kota Higashi Matsushima untuk bangkit dan kembali bertani setelah diterjang dan terendam pasang tsunami patut diberi apresiasi.

Pengalaman ini diperoleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulawesi Tengah Dr. Hasanuddin Atjo  saat studi banding bersama beberapa organisassi peranaka daerah (OPD) di wilayah bencana Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) ke Tokyo, Jepang, 5 hingga 14 November 2019 atas fasilitasi JICA.

Menurut Hasanuddin Atjo, pascabencana 11 Maret 2011, warga di Nobiru Village, Kota Higashi Matsushima secara bersama kemudian membersihkan dan memperbaiki sistem pompanisasi, fasilitas irigasi dan membersihkan sampah- sampah yang tertimbun di permukaan sawah.

“Awalnya diperkirakan padi tidak akan hidup sampai tiga tahun karena kontaminasi garam. Namun dengan pengolahan tanah melalui pembalikan tanah, diairi dan dikeringkan secara berulang maka dalam setahun sudah dapat ditanami padi 2 kali dan kedelai 1 kali,” kata Atjo, Sabtu(9/11/2019).

Atjo mengatakan semangat yang ditunjukkan oleh kelompok bersama mitranya mendapat dukungan pemerintah dan sejumlah donatur memberikan bantuan peralatan dan dana

Kini, Agried Naruse Ltd. mengelola lahan pertanian 96,8 hektare untuk padi, kedelai, dan gandum. Lahan ini ada yang merupakan titipan masyarakat untuk dikelola karena faktor usia atau tidak ada keturunannya yang bisa melanjutkan. Dengan lahan seluas itu pengelolaannya dilakukan secara modern dengan mekanisasi berbasis aplikasi, pendekatan industri hulu-hilir. Hasil padi, kedelai dan gandum sebahagian besar diolah menjadi berbagai macam makanan seperti kue lapis dan makanan lainnya. Selebihnya dijual dalam bentuk bahan baku dengan mutu premium. Hal yang tidak kalah pentingnya bahwa usaha pertanian telah dimasukkan dalam muatan lokal kurikulum di tingkat pendidikan dasar, bahkan juga telah menjadi destinasi wisata.

Berdasarkan keberhasilan yang ditunjukkan oleh kelompok tani bersama mitranya itu menurut Atjo, dapat dipetik pelajaran bahwa, semangat, pantang menyerah, kebersamaan dan rasa ingin tahu yang tinggi menjadi modal dasar menuju kemandirian. Kondisi seperti ini menimbulkan simpati dari sejumlah pihak untuk memberikan bantuan dan dukungannya. Kemudian, agar bisnis ini dapat berdaya saing dan berkelanjutan maka pengelolaannya harus berorientasi hulu-hilir, mekanisasi berbasis aplikasi agar memiliki nilai tambah dan dapat diprediksi. Selain itu, sudah saatnya memasukkan dalam muatan lokal kurikulum di tingkat pendidikan dasar agar lebih awal ditanamkan rasa cinta terhadap sektor pertanian yang kini mulai ditinggalkan oleh generasi muda.

“Kasus di atas dapat menjadi referensi untuk menyusun sebuah model pengembangan Pertanian modern bagi petani di wilayah bencana Sulawesi Tengah, khususnya Palu, Sigi, Donggala dan Parigi Moutong,” ujarnya. (***/fit/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.