Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Palu Kembali Deflasi, Tercatat Lima Kali Deflasi di 2019

0 59

PALU EKSPRES, PALU– Kota Palu kembali mengalami deflasi di periode Oktober 2019 dan tercatat Kota Palu sudah mengalami deflasi sebanyak lima kali di tahun ini. Terakhir adalah pada Bulan Oktober 2019, Kota Palu kembali mengalami deflasi sebesar 0,20 persen.

“Ini upaya dari tim Pemprov Sulteng untuk menjaga stabilisasi harga di daerah ini,” kata Kepala BPS Sulteng Faisal Anwar pada press reales BPS, Jumat (1/11/2019).

Namun menurut Faisal, deflasi itu tidak selamanya bisa menggambarkan suatu kondisi perekonomian berlangsung baik, begitupula terhadap inflasi.
‘Intinya di sini, bagimana bisa tetap menjaga agar tidak terjadi inflasi yang begitu tinggi, begitupula sebaliknya,” kata Faisal.

Deflasi yang terjadi terus menerus kata Faisal, patut dipertanyakan tehadap kondisi perekonomian suatu daerah.
“Ini jad pertanyaan apakah ada kelesuan ekonomi,” ujarnya.

Namun khusus untuk kondisi Sulteng yang pernah mengalami angka inflasi yang begitu tinggi, deflasi yang tercatat sudah lima kali terjadi di tahun ini akan menjaga target inflasi akhir tahun 2019 sebesar 3,1.

Faisal menambahkan deflasi kota Palu sebesar 0,20 persen selama Oktober 2019 dipengaruhi oleh turunnya indeks harga yang terjadi pada kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan serta kelompok bahan makanan masing-masing sebesar 1,12 persen dan 0,17 persen. Sedangkan kelompok kesehatan mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,39 persen, diikuti oleh kelompok sandang sebesar 0,18 persen, dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,07 persen. Sementara kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga selama Oktober 2019 relatif stabil.

Pada periode yang sama katanya, inflasi year on year Kota Palu mencapai 3,16 persen. Kenaikan indeks year on year tertinggi terjadi pada kelompok sandang sebesar 5,33 persen, sedangkan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan mengalami kenaikan indeks terendah sebesar 1,60 persen.

Deflasi Kota Palu sebesar 0,20 persen disumbangkan oleh andil negatif kelompok pengeluaran transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,20 persen, kelompok bahan makanan sebesar 0,04 persen, serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga di bawah
0,01 persen.
“Sedangkan andil positif disumbangkan oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,02 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,01 persen, kelompok sandang sebesar 0,01 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar
dengan andil di bawah 0,01 persen,” ujarnya.

Beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi antara lain cabai rawit sebesar 0,29 persen, ikan mujair 0,05 persen, sepeda motor 0,04 persen, sayur bayam 0,04 persen, sawi hijau 0,03 persen, daging ayam ras 0,03 persen, tahu mentah 0,02 persen, tomat sayur 0,02 persen, ikan kakap merah 0,02 persen, dan obat dengan resep 0,01 persen.

Adan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain angkutan udara sebesar 0,25 persen, ikan lajang 0,17 persen, ikan selar 0,13 persen, ikan kembung 0,08 persen, ikan cakalang 0,05 persen, semangka 0,02 persen, ikan ekor kuning 0,02 persen, kangkung 0,02 persen, cumi-cumi 0,02 persen, dan jagung manis 0,02 persen. (fit/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.