Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Prevalensi Stunting di Sulteng Turun 24 Persen

0 106

TURUN – Gizi buruk menjadi salah satu perhatian pemerintah provinsi saat ini. Foto: Humas Pemprov Sulteng.

PALU EKSPRES, PALU – Stunting adalah masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Anak penderita stunting biasanya lebih rentan penyakit. Ketika dewasa berisiko untuk mengidap penyakit penyakit seperti jantung, hipertensi dan lain-lain. tidak hanya itu stanting juga mempengaruhi tingkat kecerdasan anak.

Ini disampaikan Gubernur Sulteng H Longki Djanggola, membuka rapat koordinasi tim percepatan penanggulangan stunting di Sulteng, Selasa 22 Oktober 2019 disalahsatu hotel di Palu. “Bisa dibayangkan bagaimana kondisi sumber daya manusia di masa mendatang jika saat ini banyak anak yang menderita stanting. Bisa dipastikan bangsa ini tidak akan mampu bersaing dengan bangsa lain dalam menghadapi tantangan global” kata Longkim

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir kata Longki, angka stanting berhasil diturunkan. Akan tetapi penurunannya masih diatas angka ambang batas WHO yaitu 20persen. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2018 prevalensi hipertensi nasional berada di angka 30,8persen atau lebih kecil dari tahun 2013 sebesar 37,2 persen.

Dari sumber yang sama prevalensi balita gizi buruk dan gizi kurang di Sulteng pada tahun 2018 tercatat sebesar 19,7persen. Menurun dari pada hasil Riskesdas 2013 yakni sebesar 24persen.

Sementara prevalensi balita pendek dan sangat pendek pun juga ikut menurun dari 41perse menjadi 32,3 persen. Tetapi prevalensi balita kurus dan sangat kurus justru yang mengalami peningkatan dari 9,4persen menjadi 12,8 persen.

Menurutnya, untuk mencegah hal itu pemerintah telah mencanangkan program intervensi pencegahan stunting terintegrasi yang melibatkan lintas kementerian dan lembaga dan pada tahun 2018 yang lalu sudah ditetapkan 100 kabupaten di 34 provinsi sebagai lokasi penurunan stunting. “Jumlah ini akan bertambah sebanyak 6 Kabupaten di tahun berikutnya,”kata Longki.

Di Sulteng sendiri, kabupaten yang jadi lokus stunting tahun 2018 adalah Kabupaten Banggai lalu tahun ini adalah Kabupaten Parigi Moutong dan tahun depan adalah Kabupaten Morowali dan Sigi, lewat kerjasama lintas sektor ini diharapkan dapat efektif menekan prevalensi stunting di Indonesia khususnya di Sulawesi tengah sehingga dapat memenuhi target tujuan pembangunan berkelanjutan tahun 2025 yaitu angka stanting menurun hingga 40 persen. “Oleh karena itu saya mengajak OPD beserta mitra kerja untuk berperan serta mensukseskan program terobosan dalam rangka penanggulangan dan percepatan penurunan stunting di Sulawesi Tengah,”demikian Longki. (humas/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.