Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Logic Thinker

0 40

Oleh : Muhd Nur Sangadji

SAYA dikirimi cerita kocak tentang logika berfikir. Untuk artikel ini saya memodifikasi alakadarnya. Ceritanya begini. Suatu hari di warung kopi, masuklah seorang perlente dan minum di warung kopi tersebut.

Mukidi, yang lagi ngopi terkesima melihat pria keren tersebut dan nekad bertanya: Apa sih pekerjaan Bapak?” Lalu orang itu menjawab. Ooo… saya adalah seorang “logic thinker”.

Mukidi bingung dan bertanya, apa itu pekerjaan logic thinker?.
“Wah susah menerangkannya, kata orang itu. Soalnya, memang bukan pekerjaan yang lazim. Tapi, saya akan kasih contoh. Begini, pertama-tama saya bertanya dulu, apakah Anda punya aquarium ?” Mukidi menjawab, ya saya punya aquarium di rumah. Nah, kata tamu itu, kalau Anda punya aquarium, logisnya Anda punya ikan”.

Kata Mukidi, ya saya punya ikan berbagai jenis”.  Tamu bertanya, kalau punya ikan, Anda pasti sayang binatang”. Mukidi menjawab, betul sekali, saya sangat sayang pada binatang.
Tamu berlogika lagi, kalau Anda sayang binatang, Anda pasti sangat menyayangi anak Anda”. Dan, logisnya lagi. Jika punya anak pasti punya istri.” Karena, kamu punya anak dan isteri maka pasti tidak impoten alias mandul.

Mukidi menjawab penuh semangat. “100% betul, saya tidak impoten”. Tamu lantas menutup penjelasannya, Nah begitulah kira-kira yang dimaksud “logic thinker itu”. Mukidi faham dan berucap pelan: ”Ooo begitu tho? Saya ngerti sekarang”.

Sesaat, setelah tamu itu pergi, datanglah Badrun, teman Mukidi dan bertanya : “Eh, Muk, kamu tadi asyik sekali omong apa? Mukidi menjawab, ”Ooo tadi saya ngobrol pekerjaan orang itu sebagai logic thinker”.

Pak Badrun, tetangga Mukidi bertanya, apa itu logic thinker ?. Mukidi mencoba mengurai. Begini, pertama-tama saya tanya dulu, kamu punya aquarium ?. Badrun menjawab, tidak punya. Mukidi serta merta langsung menyela. Berarti kamu impoten. Cerita ini terkesan guyon. Tapi dalam hidup, kita selalu harus menyimpulkan. Ilmu pengetahuan mengistilahkannya dengan premis. Falsafah since lah yang mendorong orang berlogika. Kaidahnya disebut premis. Dibagi jadi dua. Major dan minor. Misalnya begini. Semua laki lagi di desa adalah petani. Karena kawan saya di desa itu adalah laki laki. Maka, dia adalah petani. Ini logis dan mutlak.

Budi Matindas, guru besar UI, ketika membawa materi dalam acara bagi pembina kemahasiswaan pada tahun 1998 di Manado. Beliau melansir hasil riset bahwa 90 persen ibu-ibu saat berpisah dengan keluarga, membunuh rasa rindu dengan mendengar lagu tertentu. 10 persen dengan berselingkuh. Lantas, Pak Budi bertanya apakah ibu-ibu tahu lagu tertentu itu. Semua menjawab, Tidak. Pak Budi menyela. Kalau begitu, ibu-ibu masuk kategori yang 10 persen. Terlihat masih guyon, tapi logik dan menjebak.

Kolega saya asal Canada, Tim Babcock pernah bercerita. Cerita ini beliau ungkap saat pelatihan riset, kerjasama Waterloo University dan Untad di bidang lingkungan tahun 1998. Tim bercerita tentang sekelompok peneliti yang kunjungi masyarakat Badui di Jawa Barat. Dilihatlah, orang Badui selalu berpakaian hitam setiap hari. Peneliti itu lalu berhipotesis, orang Badui kekurangan baju. Hipotesis yang merupakan kesimpulan sementara itu ternyata keliru total. Karena warna hitam adalah lambang kebesaran suku ini. Sebab itu, setiap orang memiliki berpasang-pasang baju berwarna hitam.

Wada San, profesor asal Jepang, pernah bercerita pada saya. Sewaktu beliau kunjungi satu desa di India. Dicarilah orang tertua di desa itu untuk ditanyakan tentang masalah dan sudah berapa lama ?. Dan, orang tua itu menjawab, Air dan sudah 40 tahun. Wada San kemudian mengulasnya. Bila air yang menjadi masalah dan sudah berlangsung 40 tahun, mestinya tidak ada lagi penduduk di desa ini. Bila masih tetap ada, berarti, air bukan masalah. Disini ada benturan logika antara masalah (Problem) dan hambatan (obstacle).

Diwaktu yang lain, Hidayat Lamakarate, Bupati kabupaten Banggai laut kala itu, kaget melihat satu pohon cabe di halaman rumah warga. Kaget karena tanam cabe bukanlah kultur warga di sini. Ternyata, pohon cabe itu tumbuh sendiri dan lebat buahnya. Warga bersangkutan menjual ke tetangga.

Tapi, ketika ditanya keinginan untuk menanam. Warga itu menjawab, Tidak. Lagi, benturan logika antara keuntungan (advantage) dan kebiasan (habit). Tidak semua orang bisa digerakan hanya karena merasa untung (benefit). Inilah sejumlah contoh, bagaimana cara berfikir logik itu terjadi. Ada yang linier, ada yang parabolik, bahkan, ada yang paradoks. Karenanya, logika itu penting, tapi harus berakar pada fakta.***

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.