Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Pemimpin Rakyat dan Bencana

0 100

oleh : Nur Sang Adji (muhdrezas@yahoo)

SEORANG kolega saya di kampus sempat bertanya via WA group anggota senat universitas. Wadah komunikasi para cerdik pandai di Universitas Tadulako. Kampus yang terletak di kota Palu. Tempat terjadinya bencana dahsyat setahun yang lalu. Begini pertanyaannya.

“Apakah berbagai bencana yang melanda negeri ini karena ulah pemimpinnya atau ulah warganya yang tidak lagi menghargai pemimpinnya. Penanya itu adalah Dr. Sultan. Seorang ilmuan dari ilmu sosial dan politik.

Saya pikir, pertanyaannya sangat menarik. Menggugah kita untuk berfikir kebelakang. Saya menjawab pertanyaan Sultan. Sejarah peradaban mengajarkan kita, salah satu dari kedua nya, dan atau kedua duanya. Cerita Nuh dan umatnya serta Fir’aun dan Musa, bisa mewakili. Sementara, kebiasaan terburuk kita adalah, tidak belajar dari sejarah tersebut. Itulah, sejarah kekuasaan.

***
John Emerich Edward, sejarawan katolik berkebangsaan Inggris, sekaligus politician dan penulis, memproduksi kalimat yang sangat terkenal. “Power tends to corrupt and absolute power, corruptions absolutely” (kekuasaan cenderung kepada korupsi dan kekuasaan yang absolut adalah korupsi yang absolut).

Sejarah malapetaka antropik maupun climasiq selalu bersumber pada dua soal ini. Otoritarian dan diktatorian dan corupsi berbungkus mafiaso. Sangat tangguh. Namun, meskipun dikemas dengan kekuatan apapun, satu waktu rakyat bangkit melawan.

Inilah bencana anthropik.Dia selalu terjadi di semua level kepemimpin. Biasanya melindungi diri dengan hukum yang dibikin sendiri untuk tujuan itu. Dan menyatukan dua kekuatan besar. Penguasa dan pengusaha. Tapi faktanya, hampir semua berbatas rontok.

Berita serupa

***
Fira’un dan Khorun memberi contoh. Satunya penguasa dan satunya lagi, pengusaha. Lalu, contoh itu terus ditiru oleh generasi sesudahnya. Meskipun sadar bahwa kelak berakhir tragis. Dieksekusi oleh rakyatnya (folower) atau dinistakan langsung oleh penguasa langit dan bumi dalam bentuk bencana dahsyat. Tetap saja, berulang.

Lagi, sejarah yang khabarkan demikian. Dan, tantangan terberat dari sejarah adalah berjuang melawan lupa (fight against forget). Penulis Milan Kundera dalam bukunya “The book of laughter and forgetting merites”, menulis, “the struggle of man against power is struggle of memory against forgetting”. Sedangkan, auteur Belgia, Gaetan Faucer bilang, “l’histoire se repeter ” (sejarah selalu berulang). Namun, kita sering tidak ingat.

Untuk itu, guna membangkitkan memori orang tentang sejarah. Sebuah taman hiburan di Perancis Barat bernama Puy du Fou menulis di gerbangnya. “Preparez vous a voyager dans le temps” (bersiaplah melakukan perjalanan atau berpetualangan mengarungi zaman). Kita juga mungkin pernah menonton Film pada tahun 80 an berjudul “The time tunnel” (lorong waktu). Semuanya ingatkan kita tentang sejarah. Prof Djuraid dan Dr. Lukman Nadjamudin, pakar sejarah dari Tadulako, boleh bereaksi.

***
Begitu pentingnya ingatan itu. Maka, 28 September kemarin kita peringati dengan cemas, sejarah gempa yang menimpa kita setahun silam. Membanggakan, karena banyak yang masih ingat untuk menjadi pelajaran. Tidak segera melupakannya. Pada saat yang relatif sama, anak mahasiswa sedang berjuang membela perlawanan terhadap koruptor. Mengingatkan para pemimpin tentang bahaya korupsi bagi bangsa. Tapi, mereka malah tertimpa bencana luka luka, bahkan meninggal dunia.

Oleh karena itu, mumpung masih bernapas. Mari kita berlindung dari bencana yang sengaja didatangkan Tuhan. Efeknya, tidak cuma menimpa yang berbuat zalim, tapi juga mereka yang membiarkannya.***

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.