Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

BPS Sentil Seandainya Sulteng Tanpa Ekspor Nikel dan Migas

0 113

PALU EKSPRES, PALU– Neraca perdagangan Provinsi Sulawesi Tengah kurun waktu Januari hingga Agustus 2019 selalu mengalami surplus perdagangan. Malah di Bulan Agustus 2019, surplus perdagangan Sulteng mencapai titik tertinggi dibandingkan dengan neraca perdagangan di 8 bulan sebelumnya.

Sebagaimana rilis BPS untuk periode September 2019, surplus perdagangan Sulteng pada Agustus 2019 mencapai US$ 313,58 Juta. Angka ini berdasarkan selisih nilai ekspor sebesar US$ 530,19 Juta dan nilai impor US$ 216,61 Juta.

Capaian surplus perdagangan Sulteng ini diapresiasi oleh Kepala BPS Sulteng, Faisal Anwar. Dihadapan sejumlah wartawan, Selasa (1/10), Faisal Anwar mengatakan, apresiasi patut diberikan kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terhadap capaian kinerja neraca perdagangan Sulteng selama Bulan Agustus 2019, termasuk kumulatif neraca perdagangan periode Januari hingga Agustus 2019. Sebab, Pemprov Sulteng mampu menjaga konsitensi di level surplus perdagangan.

Namun ada pekerjaan rumah bagi Pemerintah Provinsi, terutama pada instansi terkait, yakni bagaimana menggenjot nilai ekspor di luar primadona ekspor Sulteng selama ini. Sebagaimana diketahui, primadona ekspor Sulteng adalah sektor pengolahan seperti nikel dan migas.
“Bagaimana seandainya Sulteng tanpa ekspor komoditi nikel dan migas,” ujarnya.

Menurutnya, kontribusi ekspor kelompok komoditas di luar tambang selama Agustus 2019 relatif kecil, masing-masing di bawah 4,00 persen dari total nilai ekspor 530,19 Juta US$.

Ekspor Sulawesi Tengah baik melalui Sulawesi Tengah maupun Provinsi lain, didominasi oleh dua kelompok komoditas utama, yaitu kelompok komoditas besi dan baja senilai US$ 423,22 juta atau 79,82 persen dari total ekspor dan bahan bakar mineral senilai US$ 67,42 juta atau 12,72 persen.

“Kontribusi ekspor kelompok pertanian hanya 1,13 persen dari total ekspor, ekspor nonmigas menyumbang 87,42 persen,” ujarnya.

Begitupula selama Januari-Agustus 2019, kelompok besi dan baja mendominasi pangsa ekspor senilai US$ 2.665,16 juta atau 71,88 persen dari total ekspor dan bahan bakar mineral senilai US$ 803,77 juta atau 21,68 persen.
“Kontribusi ekspor kelompok komoditas lainnya terhadap total ekspor masing-masing di bawah 4,00 persen,” ujarnya.

Faisal menambahkan, keseluruhan transaksi ekspor melalui Sulawesi Tengah senilai US$ 524,78 juta selama Agustus 2019, difasilitasi oleh Pelabuhan Kolonodale senilai US$ 430,75 juta dan Luwuk senilai US$ 87,16 juta.
“Pantaloan hanya senilai 6,87 Juta Dolar AS,” ujarnya.

Begitupula jika berbicara kumulatif ekspor Sulteng. Selama Januari hingga Agustus 2019, Pelabuhan Kolonodale mendominasi layanan ekspor senilai US$ 2.693,74 juta atau 72,66 persen dari total nilai ekspor, disusul Luwuk senilai US$ 930,65 juta atau 25,10 persen, dan Pantoloan senilai US$ 17,13 juta atau 0,46 persen. (fit/palu ekspres)


Perkembangan Neraca Perdagangan Sulteng
Januari-Agusatus 2019 (Juta US$)

Bulan Ekspor Impor Surplus
Januari 471,59 211,73 259,84
Februari 437,46 365,62 71,84
Maret 492,94 218,61 274,33
April 405,60 289,79 115,82
Mei 434,45 270,82 163,62
Juni 431,19 168,80 262,39
Juli 504,15 263,67 240,47
Agustus 530,19 216,61 313,58

Sumber BPS Sulteng



Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.