Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Ikan dan Bawang Penyebab Deflasi di Palu, NTP  Hortikultura dan Nelayan Malah Turun

0 72

PALU EKSPRES, PALU– Kota Palu mengalami deflasi sebesar 0,35 persen selama periode September 2019. Hal ini dipengaruhi oleh turunnya indeks harga pada kelompok bahan makanan serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar masing-masing sebesar 3,60 persen dan 0,13 persen.

Kepala BPS Sulteng Faisal Anwar menyebutkan deflasi Kota Palu sebesar 0,35 persen disumbangkan oleh andil negatif kelompok pengeluaran bahan makanan serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar masing-masing sebesar 0,77 persen dan 0,03 persen.
“Sedangkan andil positif disumbangkan oleh kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,22 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,09 persen, kelompok sandang sebesar 0,07 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,06 persen, serta kelompok kesehatan sebesar 0,01 persen,” kata Faisal dalam press rilis BPS, Selasa (1/10/2019) di Palu.

Faisal menambahkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain ikan kembung sebesar 0,24 persen, ikan ekor kuning sebesar 0,23 persen, ikan cakalang 0,16 persen, ikan selar 0,12 persen, bawang merah 0,07 persen, daging ayam ras 0,06 persen, ikan mujair 0,06 persen, jagung manis 0,03 persen, ikan kakap merah 0,03 persen, dan tempe 0,03 persen.

Menurutnya, andil negatif beberapa komoditas terhadap inflasi di Kota Palu tersebut, ternyata di satu sisi berdampak pada penurunan NTP beberapa subsektor. Paling terasa adalah NTP Holtikultura. Bawang Merah yang memiliki andil sebesar 0,07 persen terhadap deflasi Kota Palu berdampak pada NTP Petani Holtikultura.

Sebagaimana diketahui kata Faisal, selama bulan September 2019, subsektor hortikultura mengalami penurunan NTP sebesar 0,34 persen atau berubah dari 109,64 pada Agustus menjadi 109,27 pada September 2019. “Penurunan NTPH disebabkan oleh turunnya Indeks harga yang diterima petani sebesar 0,38 persen lebih rendah dari penurunan Indeks harga yang dibayarkan petani yang mengalami penurunan sebesar 0,04 persen,” ujarnya.

Andil negatif beberapa komoditas terhadap inflasi seperti bebeberapa jenis ikan juga mempengaruhi NTP Nelayan. “Ikan Kembung 0,24 persen, ikan ekor kuning 0,23 persen, ikan Cakalang 0,16 persen, ikan selar 0,12, Bawang Merah 0,07 persen memiliki andil terhadap deflasi Kota Palu,” ujarnya.

Menurutnya, subsektor perikanan selama bulan September 2019 mengalami penurunan indeks nilai tukar sebesar 1,14 persen atau berubah dari 107,76 pada Agustus menjadi 106,53 pada September 2019. Kondisi ini disebabkan oleh penurunan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,03 persen sedangkan indeks harga yang dibayarkan petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,11 persen.

Pada kelompok perikanan tangkap (NTN), terjadi penurunan nilai tukar petani sebesar1,36 persen yakni dari 114,98 pada Agustus menjadi 113,41 pada September 2019. Turunnya nilai tukar pada subkelompok perikanan tangkap disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,27 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,10 persen.

Searah dengan kelompok perikanan tangkap, pada kelompok perikanan budidaya (NTPi) mengalami penurunan indeks nilai tukar sebesar 0,39 persen yakni dari 88,92 pada Agustus menjadi 88,57 pada September 2019. Hal ini disebabkan oleh turunnya It sebesar 0,23 persen sedangkan Ib mengalami kenaikan sebesar 0,16 persen. Penurunan It disebabkan oleh turunnya indeks harga pada subkelompok budidaya air tawar dan budidaya air payau masing-masing turun sebesar 0,88 persen dan 0,58 persen. Sedangkan pada subkelompok budidaya air laut tidak mengalami perubahan. (fit/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.