Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Gugatan Perdata Hance Yohanes, Bupati Parimo Mangkir di Sidang Lanjutan

0 107

PALU EKSPRES, PARIGI– Sidang lanjutan ke dua terkait pemeriksaan gugatan perdata pengusaha atasnama Hance Yohanes terhadap Bupati Parimo, Samsurizal Tombolotutu, di Pengadilan Negeri (PN) Parigi, Senin 23 September 2019, masih tahap mediasi. Diketahui sidang lanjutan gugatan perdata tersebut masih tertunda. Pasalnya, Bupati Parimo sebagai tergugat tidak hadir.

Kuasa hukum Bupati Parimo, Saharudin Ariestal ditemui di PN Parigi mengatakan, Hance Yohanes sebagai penggunggat menyatakan bahwa kliennya berhutang. “Jadi, perlu kami tegaskan bahwa ini bukan utang tapi ini adalah bantuan atau sumbangan penggugat kepada tim pemenangan pada waktu tahun 2017,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, awalnya pertemuan Bupati dan Hance Yohanes kala itu di Kantor Bupati Parimo, dan difasilitasi oleh Nico Rantung. Sebab, penggugat Hance Yohanes menelpon dan meminta difasilitasi untuk bertemu Bupati Samsurizal Tombolotutu. “Dan, dalam pertemuan itu tidak satupun pernyataan yang keluar dari Pak Bupati meminjam uang ataupun minta bantuan. Tetapi setelah pertemuan dan keluar dari kantor Bupati, Hance semacam respeklah kepada Pak Bupati. Dan menyampaikan kepada Nico bahwa bos mu itu bagus nanti pada Pilkada ini akan saya bantu,” ujarnya mengutip pernyataan yang diungkapkan Hance kala itu.

Sehingga klausul pinjam meminjam kata dia, itu tidak ada sama sekali. Hanya saja Hance Yohanes dalam hal ini menyambut positif cita-cita Bupati untuk membangun Parigi Moutong, sehingga muncul pernyataan itu kepada Nico Rantung bahwa penggugat Hance Yohanes akan memberikan bantuan untuk kepentingan Pilkada di Parigi Moutong. “Jadi, gugatan ini menurut prinsipal kami ini adalah mengada ada, terkait dengan hutang piutang itu tidak ada dan Pak Bupati tidak pernah satu kalipun menyatakan meminjam uang pada penggugat,” tegasnya.

Adapun soal total uang berdasarkan gugatan berjumlah miliaran rupiah itu.”Jadi begini, ada hal-hal lain seperti, pekerjaan jalan misalnya Hance mengerjakan pekerjaan jalan di suatu tempat, dan itu dia klaim sebagai perintah bupati padahal pak bupati tidak pernah meminta untuk mengerjakan jalan itu. Sebab, pekerjaan jalan itu mekanismenya adalah melalui lelang,” ujarnya.

Dengan demikian tambahnya, pekerjaan jalan itu semua diklaim sebagai hutang, sehingga itulah yang muncul angka Rp500 juta dan 200 juta. “Dan itu bukan hutang sebenarnya. Nah, kalau itu hutang harus dibuktikan dengan kontrak antara penggugat dan tergugat tapi nantilah dilihat fakta persidangannya seperti apa. Kalau sama keras kan, nanti dilihat,” katanya.

Sementara itu, kuasa hukum penggugat Hance Yohanes, Hartono Taharudin mengatakan, bahwa tergugat melakukan wanprestasi terhadap kliennya.
“Kami tetap pada gugatan kami, silahkan pihak tergugat memungkiri hal itu. Dan, kami tidak membantah itu. Nantilah kita buktikan di pengadilan,” ujarnya. Selanjutnya, sidang lanjutan ke tiga dalam gugatan perdata ini akan dilaksanakan pada tanggal 30 September 2019. Pihak penggugat berharap Bupati hadir dalam sidang tersebut. (asw/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.