Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Moutong dan Taopa, Sentra Penghasil Udang di Parimo

0 79

PALU EKSPRES, PARIGI– Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Parigi Moutong melalui Kepala Bidang Usaha Budidaya, Made Kornelius kepada media ini di kantornya, Selasa, 17 September 2019 mengatakan, ada beberapa daerah di Parigi Moutong yang menjadi sentra atau daerah penghasil udang. Di antaranya, Moutong, Taopa, Sausu, Balinggi, dan Tolai.
“Moutong, dan Taopa itu ada 2 ribu hektar lebih kalau yang lain, Sausu, Balinggi, dan Tolai berkisar 500 hektar,” ujarnya.

Menurut Made, untuk wilayah Moutong dan Taopa ada lima orang pengepul udang, kemudian dipasarkan ke Makassar Sulawesi Selatan. Produksi ril khusus udang saja kata dia, tidak kurang dari 2 ton per harinya.
“Dari lima pengepul itu kurang lebih 2 ton perhari mereka dapat, belum lagi bandeng dan itu hasil petiknya kita dengan pengepul ini. Nah, coba kita bayangkan berapa es yang dibutuhkan. Jadi untuk memenuhi kebutuhan es di situ makanya orang di sekitar itu berinisiatif untuk membeli frizer,” jelasnya.

Dia mengatakan, saat ini iklim budidaya udang tersebut mulai tumbuh. Karena, memang budidaya udang vaname ini dinilai lebih tahan dan tingkat keberhasilanya jauh lebih tinggi.
“Kalau dulu udang windu itu kan, rentan penyakit. Udang vaname lebih tahan dan menguasai dasar air dan resikonya lebih kecil dari udang windu,” jelas Made.

Menurutnya, peluang pasar untuk udang itu sendiri sangat terbuka melalui Makassar dan Surabaya.
“Tapi kalau Surabaya melalui proses. Ada juga pengepul yang hanya mengandalkan es itu semua udangnya dipasarkan ke Makassar,” katanya.

Untuk tahun depan lanjutnya, produksi udang di Parigi Moutong akan lebih besar. Sebab, saat ini tambak intensif sementara dalam pengerjaan konstruksi berada di Desa Tomoli Selatan Kecamatan Toribulu.
“Di situ benur kita dengan luas tambak kurang lebih 16 hektar. Itu menggunakan plastik HDP, luas cetakannya hanya berukuran 30×30, dan hasil produksinya mencapai 36 ton perhektar persiklus, dan jangka waktunya itu kurang lebih empat bulan baru panen,” ujarnya.

Ia menambahkan, panen tersebut tiga parsial atau tiga kali panen dan hasilnya tembus 36 ton perhektar. “Jadi itu produktiftas perhektarnya 36 ton,” ujarnya. (asw/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.