Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Thailand: Kitchen In World

0 90

Oleh: Nur Sangadji

Di antara negara ASEAN yang belum saya kunjungi adalah Thailand. Karena itu, karib ku Dr. Ayien Tjoa, M. Sc., menawarkan untuk hadir pada international conference and collaboration di Bangkok, saya langsung setuju. Sementara, acaranya dari tanggal 25 SD 29 Agustus 2019.
Kata Bu Ayien, selaku salah satu presidium alumni Universitas Tadulako, kehadiran pak Nur punya point tersendiri.

Padahal, saya sendiri juga ingin menemukan pointnya. Ada tiga Point penting yang mau saya raih untuk kepentingan individu maupun institusi. Pertama, menambah daftar negara kunjungan. Kedua, substansi ilmu pengetahuan dan kerjasama international. Ketiga, mengungkap misteri tentang label Bangkok.

Lama saya bertanya, mengapa produk pertanian dan peternakan kita setelah dibawa ke Thailand, pulang bermerek Bangkok.? Ada jambu Bangkok, durian Bangkok, ayam Bangkok dan lain lain. Akan diurai pada tulisan lain.

***

Sebenarnya pada tanggal 28 Augustus, saya juga punya acara national forum tentang Danau di Bogor. Di sini, saya diminta untuk menjadi fasilitatornya di salah satu sesi. Saya telah mengatur semua kemungkinan optimal untuk hadir di kedua event tersebut. Pulang sebentar, kemudian balik lagi ke Bangkok. Administrasi pertanggung jawaban tiketlah yang jadi kendala. Padahal, terbetik niat untuk tidak mengapa, membiayai sendiri tiket PP Bangkok Jakarta, demi negeri.

Saat sedang timbang timbang resiko kesehatan akibat terlalu intensif kerja fisik dan otak, jika skenario individu itu dijalankan. Tiba-tiba, datang WA dan kementerian LHK yang melegakan. Pak Nur, kata Bu Inge, sudah kami lapor ke Pak Diirektur. Beliau bilang, pak Nur Konsentrasi saja di Bangkok, Karena invent tersebut juga sangat penting bagi negara.

Woow, Saya bukan cuma tersanjung tapi merenung dan berfikir tentang cara berfikir yang Utuh tentang negeri. Bisanya birokrasi berfikir sektoral untuk kepentingannya semata. Saya menulis, terima kasih bu Inge, salam hormat dan maaf saya untuk pak Direktur dan karib semua. Kali ini, belum bisa hadir dalam barisan penyelamat Danau Indonsia.

***
Tapi, ketika saya komunikasikan pada Bu Ayien. Beliau bilang, tidak mengapa tidak hadir pada hari ketiga. Karena hari ke tiga hanya fokus pada aspek teknis. Terpenting, pertanggung jawaban perjalanan bisa dibuktikan. Maka, saya putuskan untuk pulang pergi. Karena, saya merasa menemukan orang-orang bijak yang berfikir solutif untuk kepentingan yang lebih besar.

Saya bertanya dalam hati, mengapa foto Raja Thailand terpasang di mana-mana. Di ruang publik sevital Bandara. Kita melihat gambar Raja dengan berbagai aktivitasnya. Memperlihatkan kepemimpinan, kebijaksanaan, ketegasan, pengayoman dan kepatuhan.

Saya menemukan point, mengapa pertanian Thailand bagitu maju.? Satu saja indikator. Waktu tinggal di Perancis tahun 90 an, produk pertanian Tailand telah banjiri pasar exotic di kota kota Europa. Saya kira, karena bertemunya kesungguhan, ketegasan serta kebijaksanaan pemerintahan dan kepatuhan rakyatnya. Mereka cukup kaya dengan semboyan dan tagline. Salah satunya, we are kitchen in The world. Kamilah Dapur Dunia.***

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.