Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

BPS Warning, Inflasi Kota Palu Masih Berpotensi Melebihi Target

0 89

PALU EKSPRES, PALU– BPS Provinsi Sulawesi Tengah mengingatkan Pemerintah Daerah Provinsi Sulteng, khususnya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) segera membuat langkah antisipatif agar inflasi akhir tahun tak melampaui target. Warning tersebut disampaikan Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sulteng, G.A. Nasser pada paparan rilis BPS mendampingi Kepala BPS Sulteng, Faisal Anwar, Senin (2/9/2019) di kantor BPS Sulteng.

Nasser menjelaskan, berdasarkan pergerakan laju inflasi tiga bulan terakhir ini yang menunjukkan pergerakan naik, menggambarkan inflasi pada bulan depan (September 2019) masih berpeluang terjadi. “Jadi melihat pergerakannya, berpotensi terjadi inflasi pada bulan berikutnya dan ini bisa mempengaruhi target inflasi Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, yakni pulus minus 3,5,” kata Nasser.

Menurut Nasser, walau laju inflasi saat ini pada angka 1,7 persen tapi tiga bulan kedepan masih ada momen-momen penting yang bisa mendongkrak laju inflasi. Di antaranya, natal dan tahun baru. “Musim kering yang melanda Sulawesi Tengah saat ini bisa mempengaruhi hasil panen petani, dan ini sangat berpengaruh terhadap inflasi di daerah ini,” ujarnya.

Namun secara umum, inflasi bulan Agustus 2019 di Kota Palu masih tergolong terkendali walau angka inflasi masih di atas rata-rata nasional.

Sementara itu, Kepala BPS Sulawesi Tengah, Faisal Anwar mengatakan, Selama Agustus 2019, Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,31 persen. Lima komoditas utama penyebab inflasi di daerah ini, adalah Cabe Rawit 0,23 persen, Ikan Kembung 0,23 persen, Ikan Ekor Kuning 0,22 persen, Ikan Cakalang 0,10 persen dan Ikan Layang 0,007 persen.

Faisal mengatakan, inflasi pada Bulan Agustus 2019 juga dipengaruhi naiknya indeks harga yang terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 2,78 persen, diikuti oleh kelompok sandang 0,86 persen; pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,23 persen; makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,13 persen, serta perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,07 persen.

Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga kata Faisal, adalah kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 2,01 persen serta kelompok kesehatan sebesar 0,04 persen. Pada periode yang sama tambahnya, inflasi year on year (yoy) Kota Palu mencapai 4,79 persen. Kenaikan indeks year on year tertinggi terjadi pada kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 7,56 persen, sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami kenaikan indeks terendah sebesar 3,42 persen.

Inflasi Kota Palu sebesar 0,31 persen menurut Faisal, karena andil kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 0,58 persen; kelompok sandang sebesar 0,04 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,03 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,01 persen; serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,01 persen.
“Sementara kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan memberikan andil negatif terhadap inflasi sebesar 0,36 persen, sedangkan kelompok kesehatan turut memberikan andil negatif di bawah 0,01 persen,” kata Faisal.

Beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi kata Faisal, antara lain cabai rawit sebesar 0,23 persen, ikan kembung sebesar 0,23 persen, ikan ekor kuning sebesar 0,22 persen, ikan cakalang 0,10 persen, ikan layang 0,07 persen, ikan kakap merah 0,05 persen, cabai merah 0,04 persen, emas perhiasan 0,03 persen, tahu mentah 0,03 persen, dan semangka 0,02 persen.

Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi adalah tarif angkutan udara sebesar 0,37 persen, tomat buah 0,11 persen, ikan selar 0,08 persen, ayam hidup 0,07 persen, kangkung 0,05 persen, bayam 0,05 persen, ikan teri segar 0,03 persen, ikan teri kering 0,03 persen, sawi hijau 0,03 persen, dan bawang merah 0,03 persen. (fit/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.