Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Film Gundala, Akhirnya Negeri Ini Punya Superhero

0 174

Oleh Jeri Wongiyanto (Pecinta dan Pengamat Film)

GUNDALA, ikon komik superhero Indonesia, akhirnya berhasil difilmkan sutradara gaek Joko Anwar. Ini karya ketujuh yang dibuatnya.

Gundala, superhero yang mengenakan jubah dan topeng serba hitam, serta benda menyerupai sayap di masing-masing telinganya, bukanlah karakter baru dalam kebudayaan populer Indonesia. Tokoh ini diciptakan komikus Harya Suraminata atau lebih dikenal dengan nama Hasmi pada 1969.

Karakter Gundala aslinya bernama Sancaka, seorang insinyur muda. Dia mendapat kekuatan super setelah disambar petir, kemudian diangkat menjadi anak Kaisar Cronz, raja petir. Dia diberi serupa ajimat berupa kalung leontin. Gundala tak bisa terbang. Namun, dia bisa berlari sangat cepat dan mengeluarkan petir dari tangannya.

Kisah yang ditulis Joko Anwar dalam film ini, berbeda jauh dari komiknya, Sancaka dikisahkan sebagai anak jalanan yang mengalami nasib buruk dan harus terbiasa dengan kerasnya Jakarta yang sangat kacau dan di kuasai penjahat dan kriminal.

Namun ternyata Sancaka memiliki kekuatan petir namun dia sendiri tidak tahu dengan kekuatannya ini.

Baru setelah dewasa, melihat kegilaan dan ketidak adilan semakin meluas di kotanya tinggal, Sancaka pun mampu mengendalikan kekuatannya dan menjadi pahlawan yang menolong mereka yang membutuhkan

Sejak awal film dibuka, penonton sudah terlarut dalam cerita, atmosfer kengerian sangat terasa akan kelamnya kota yang dilanda ketidak adilan, negeri ini benar benar butuh sosok patriot

Sancaka (Abimana Aryasatya) sendiri mampu menjadi karakter yang tetap dirasa membumi dengan segala sifat dan dialognya namun memiliki kekuatan yang jelas membuatnya sebagai patriot yang sangat dibutuhkan.

Karakter Sancaka dengan cepat tentu mendapatkan simpati dari penonton karena cerita masa lalunya, bahkan cerita masa kininya juga.

Aktor Bront Palarae sepertinya memang cocok menjadi tokoh antagonis. Di sini dia berperan menjadi Pengkor. Ia adalah Inti cerita yang kuat.

Tak hanya Pengkot, musuh Gundala cukup banyak, ada banyak karakter yang dimunculkan, justru disini letak kelemahannya. Perkenalan karakter dirasa terlalu cepat dan membuat karakter tersebut jadi kurang mendapatkan fokus, padahal itu karakter yang terbilang cukup penting.

Namun, dimaklumi karena dari durasi yang singkat ini Joko Anwar harus memunculkan banyak karakter yang juga akan mempengaruhi benang merah Jagat Sinema Bumi Langit.

Dibalut dengan cerita dan sinematografis khas Joko Anwar, penonton akan dibuat terpukau. Walau tak sehebat Avengers, film ini kuat dari sisi cerita dan sarat muatan lokal.

Sayangnya sebagai superhero, Abimana masih terlihat kaku dan kebingungan dengan karakter yang diperankan. Semoga di sekuel berikutnya Abimana bisa tampil lebih baik.

Secara keseluruhan film ini memenuhi unsur yang wajib di dalam film jagoan mulai dari karakter dan motifnya yang kuat sampai kostum dan adegan pertarungan yang memukau. Akhirnya negeri ini punya superhero.(*)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.