Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Persatuan Yang Retak

0 70

Nur Sangadji. Foto: Dok

Oleh : Nur SANG ADJI. (muhdrezas@yahoo.com)

SAYA pernah membaca sebuah tulisan. Di sana ada cerita menarik. Satu waktu, Bung Karno bertanya kepada Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito. Tuan Tito, jika Anda meninggal nanti, bagaimana nasib bangsa Anda?” Dengan bangga, Josip berkata, “Aku memiliki tentara-tentara yang berani dan tangguh untuk melindungi bangsa kami.

Setelah menjawab pertanyaan ini, Josip balik bertanya, “Lalu bagaimana dengan negara Anda, Sahabatku?” Dengan tenang dan santai, Bung Karno berkata, “Aku tidak khawatir, karena aku telah meninggalkan untuk bangsaku. Sebuah ‘Way of life’, yaitu : “Pancasila”, “the five fundamental principles of Indonesia”.


Para ahli sejarah di Serbia berpandangan, Indonesia adalah negara yang paling mungkin pecah dibandingkan Yugoslavia. Alasannya, karena wilayahnya tidak terpisah-pisah dan tidak beretnis sebanyak Indonesia.

Namun faktanya, bangsa Yugoslavia pecah berkeping menjadi negara-negara kecil seperti Serbia, Kroasia, Bosnia, dan lain-lain.

Mereka lalu merubah pandangan. Ternyata, Indonesia kata mereka, lebih beruntung karena memiliki pegangan hidup yaitu Pancasila yang menyatukan penduduknya yang terdiri atas berbagai suku/golongan dan memeluk berbagai agama dan kepercayaan.


Saya secara individu, juga berfikir bagitu. Bahkan, mengalaminya. Tahun 1996, saya bicara di hadapan mahasiswa international di kota Lyon Prancis. Mereka tergabung dalam asosiasi mahasiswa asing di kota Lyon prancis (les Association des etudiants etranger en France).

Waktu saya bicara tentang Indonesia dengan pluralismenya. Ada seorang mahasiswa asal Inggeris berkomentar. Kata beliau, di Europa ini harusnya negara-negara ini bersatu. Tapi, mereka malah pecah menjadi negara kecil-kecil. Padahal, secara kultural dan geografi sangat dekat. Indonesia adalah negara yang harusnya pecah karena banyaknya perbedaan, tapi malah bersatu.

Berita serupa

Kala itu, saya dengan tanggap menjawab, “perceque nous avon Pancasila” (karena kami punya Pancasila). “Nous some deferements, mais unite”, Bhineka Tunggal Ika (kami berbeda tapi, kami satu).

**

Satu tahun kemudian, 1997, Indonesia dilanda kerusuhan masal yang memaksa turun Presiden Suharto. Saya sembunyi kepala ku di bawah bantal sambil mengingat wajah mahasiswa asing di kota Lion kala itu. Saya malu, walau tidak lagi saling menatap. Ketika artikel ini saya tulis kembali di sekmen waktu kemerdekaan ini. Tiba tiba Papua bergolak. Alasannya Karena ketersinggungan. Khabarnya hanya karena dikatai binatang. Memang penghinaan serius.

Karena itu, tugas serius dan berat adalah : 1). Urus sebab musababnya secara objektif dan adil. 2). Upaya terus menerus, mencabut dari pikiran anak negeri tentang penghinaan manusia atas manusia.

Tidak boleh ada rasa lebih, antara satu etnik atas etnik yang lain. Itu, nilai universal yang dijunjung secara mondial. Semua manusia harus respek atasnya. Mulailah itu semua dari rumah tangga dan sekolah dasar kita. Tapi di balik semuanya, saya merenung dalam-dalam. Begitu mudahnya kerusuhan tercipta di tanah kita. Cukup dengan menghina atau mengadudomba suku dan agama. Kita bakal memanen malapetaka perpecahan. Persatuan kita memang masih rapuh. Walau kita telah berumur 74 tahun. MERDEKA

(Penulis, pengajar MK Pancasila di Univ. Tadulako)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.