Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Ekonomi Sulteng Melambat di TW II 2019

0 296

PALU EKSPRES, PALU– Ekonomi Sulteng tumbuh 6,62 persen year on year (yoy), melambat dibanding triwulan sebelumnya 6,98 persen yoy. Realisasi ini berbeda dibandingkan dengan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya yang mengalami akselerasi pada triwulan II.

Secara Lapangan Usaha (LU), perlambatan disebabkan kinerja pertanian, industri pengolahan dan perdagangan yang tumbuh lebih rendah dari triwulan sebelumnya. LU pertanian hanya tumbuh 3,23persen yoy. Lebih rendah dari triwulan sebelumnya 5,07persen.

Perlambatan ini disebabkan pertumbuhan tanaman pangan terutama padi yang mengalami kontraksi pada triwulan laporan. Kerusakan irigasi akibat bencana di Kabupaten Sigi dinilai cukup mempengaruhi penurunan kinerja sektor tersebut.

Sementara LU industri pengolahan juga mengalami pedambatan dari 12.64persen ke 6,68 persen yoy pada triwulan laporan.

Kepala Perwakilan BI Sulteng, Abdul Madjid Ikram menjelaskan, hal itu disebabkan kinerja ekspor hilirisasi nikel yakni hot-rolled-coiled (HRC) dan cold-rolled-coiiled ( CRC) yang tidak sebesar triwulan sebelumnya.
Selain itu, kinerja LU perdagangan juga masih tumbuh relatif rendah yakni hanya 0.68perswn yoy.

“Hal itu disebabkan kinerja penjualan barang tahan lama dan penjualan kendaraan bermotor yang belum maksimal seiring dengan tertahannya pertumbuhan konsumsi RT pada triwulan laporan,”kata Madjid dalam keterangan persnya, Rabu 14 Agustus 2019.

Di sisi Iain, kata dia terdapat beberapa LU yang justru tumbuh lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya. Misalnya LU konstruksi tumbuh hingga 12.05. Jauh lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya 6,05persen.
Tingginya pertumbuhan konstruksi ini menurutnya terkonfirmasi dengan konsumsi semen di Sulteng yang mencapai 221.578 ton, tumbuh 26,23peraen (qtq) dibanding triwulan sebelumnya.

Sementara itu, LU administrasi pemerintahan juga tumbuh pesat dari 6,31peesen menjadi 19,11persen yoy pada triwulan laporan.

Hal itu jelas Madjid ditopang realisasi belanja APBD dan APBN Sulteng yang sesuai polanya selalu lebih tinggi dibanding triwulan I.

Sementara sisi pengeluaran, beberapa komponen yang menyebabkan perlambatan antara lain konsumsi RT, investasi / PMTB dan ekspor-impor. Konsumsi RT hanya tumbuh 0,16 persen.
Melambat dibanding triwulan sebelumnya 1,38persen yoy. Meskipun terdapat fenomena THR dan gaji ke 13

Selanjutnya sektor rumah tangga yang terindikasi menahan konsumsi. Hal ini terkomfirmasi dari meningkatnya pertumbuhan DPK perseorangan hingga 17,31persen yoy

Sementara itu jelas Masjid investasi mengalami kontraksi 14.25persen yoy. Hal ini karena investor cenderung masih wait and see terhadap hasil Pemilu Pilpres 2019.

Demikian kiinerja ekspor juga menurun dibanding triwulan sebe|umnya. Dimana nilai ekspor hirilisasi nikel dan LNG masing-masing tercatat menurun 10,36perawn (qtq) dan 8,40persen (qtq) pada triwulan laporan.

Namun disisi Iain, impor menurutnya masih tumbuh tinggi hingga 53,57perse (yoy) seiring kuatnya impor barang modal dan impor bahan baku industri hilirisasi nikel di Morowali.

“Namun meskipun impor tumbuh tinggi dan ekspor tumbuh terbatas, net ekspor Sulteng masih menghasilkan surplus yakni sebesar USD 1,23 miliar pada semester I 2019,”demikian Madjid.(mdi/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.