Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Spirit Idul Adha untuk Negeri

0 112

Oleh : Muhd Nur Sangadji (Guru Kecil di Untad)
Email; mudrezas@yahoo.com/0811454282

BILA kita bedah histori perjuangan Nabiyullah Ibrahim AS, kita pasti takjub bagaimana keberanian luar biasa beliau dalam proses pencarian kepada sang Khalik yang patut disembah. Kala itu, kaumnya di bawah kepemimpianan sang raja zalim, Namruz yang dikultuskan sebagai Tuhan dan patung batu sebagai simbol sesembahannya.

Tidak terbayangkan bagaimana seorang anak muda benama Ibrahim memiliki keberanian yang sangat luar biasa, melawan sang raja dan kaumnya. Apa yang dilawannya bukan sekedar sebuah kebijakan, tapi keyakinan. Lebih luar biasa lagi, karena yang dihadapinya lebih dahulu adalah ayahnya sendiri sebagai panglima kerajaan, sekaligus arsitektur pembuat patung.

Ibrahim lalu bertindak menghancurkan simbol kekufuran berupa patung patung batu. Kemudian disisakanlah patung yang paling besar sebagai saksi testimony. Di sini, Ibrahim muda, mencoba menggunakan logika kecedasan akal untuk menyadarkan kaumnya. Dengan argumentasi rasional, Ibrahim mengatakan bahwa patung besar itulah yang menghancurkan patung yang lainnya. Umatnya menjawab, bagaimana mungkin patung yang kaku dan mati bisa menghancurkan temannya sendiri. Ibrahim menimpali, kalau patung itu kaku dan mati, mengapa kamu menyembahnya sebagai Tuhan?.

Logika ini tidak lagi mempan, karena bukan pikiran yang bekerja. Daniel Catz, pakar Attitude asal Jerman, mengategorikan tahapan ketiga dari empat tingkatan nilai (value). Itulah yang beliau sebut “Value Expresive attitude”. Bila value ini dipegang oleh seseorang atau kelompok orang, logika tidak akan mempan menyadarkannya. Bahkan, taruhannya mati sekalipun. Al Quran menganalogikan sebagai kekerasan hati kaum kafirun.

QS Al-Baqoroh (2) ayat 6, lafalnya, “ Innal ladzina kafaru sawa-un ‘alaihim a andzartahum am lam tundzirhum la yu’minun “, artinya, “ sesungguhnya (mereka) orang-orang kafir itu, sama saja bagi mereka apakah engkau (wahai Muhammad saw) beri peringatan (dengan Al-Qur’an ini) atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak beriman (kepada Alloh swt) “

Konsekwensi dari tindakan perlawanan luar bisa tersebut, maka Namruz beserta pengikutnya membalas dengan hukuman yang juga luar biasa. Membakar Ibrahim hidup hdup. Hukuman yang mengerikan ini dilakukan di depan masyarakaty untuk efek jera. Tapi, Allah bertindak menyelamatkan kekasihnya, dengan perintah ; Ya naru kuni bardan wa salaman ‘ala Ibrahim (QS al-Anbiya’/21:69). Wahai api, dinginlah dan selamatlah Ibahim. Sungguh bertemunya kebaranian dengan keihlasan berkorban yang luar biasa.

Spirit keberanian dan keihlasan berkorban ini kemudian diwarisi oleh para pahlawan bangsa kita hingga kita merdeka. Uraiannya menjadi relevan karena hari raya Idul adha 1440 ini bertepatan dengan bulan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebuah kemerdekaan yang dicapai melalui perjuangan selama berpuluh bahkan beratus tahun lamanya. Perjuangan para pendahulu kita tersebut, tentu tanpa henti dan tak kenal lelah, tak terhitung dan tak ternilai. Mereka berkorban fikiran, tenaga, waktu, anak, isteri, saudara, harta, bahkan jiwa raga.

Namun, pada saat pasca kemerdekaan ini, kita dihadapkan beraneka ragam krisis. Mulai dari krisis ekonomi, krisis alam, sampai krisis kepercayaan dan moral. Kita seperti sulit membedakan mana yang bermoral dan mana yang sebaliknya. Mana berita yang benar dan mana yang salah. Mana yang berkorban, dan mana yang mendzalimi. Mana yang berjuang untuk rakyat, dan mana yang sebenarnya mengorbankan rakyat. Inilah era yang disebut “Post Trust”.
Krisis moralitas ini kemudian menimbulkan krisis-krisis ketidakadilan ekonomi, ketidakadilan hukum dan akhirnya kita hampir putus asa untuk saling percaya. Pada saat ini, seperti sangat sulit mencari pemimpin yang siap berkorban, menteri yang siap berkorban, anggota parlemen yang siap berkorban, pejabat yang siap berkorban, pendidik yang siap berkorban, dan siswa yang siap berkorban. Kebanyakan dari kita lebih memilih memikirkan diri sendiri, isi perut sendiri dan untung sendiri.

Oleh karena itu, kita dorong kembali spirit keihliasan dan keberanian berkorban untuk menemukan rasa kebangsaan kita. Spirit yang dibangun oleh pendahulu (the founding father) dengan seluruh syarat yang kita punya untuk negeri. Gus Dur sering menyebutnya dalam bahasa perancis, “la raison d’etre d’une nation”. Bung Sukarno mengungkapkannya dalam bentuk lain.Beliau berpidatomenjelang kmemerdekaan Indonesia. Diucapkannya pula dalam bahasa perancis, :”Le desire de vivre ensamble”. Keinginan untuk hidup bersama sebagai sebuah bangsa.Sekarang, yang tersisa, tinggal tantangan untuk menjaganya. Walahualam.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.