Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

They Call Me Profesor

0 73

Nur Sangadji. Foto: Istimewa

Oleh: Nur Sangadji (muhdrezas@yahoo.com)

TIBA-tiba, pada bulan Mei 2019, Menristek Dikti menerbitkan Permenristekdikti Nomor 164/M/KPT/2019 tentang penyebutan gelar atau jabatan akdemik dosen sesuai jenjang jabatan dan pangkat. Ada “lecturer”, “Assistant Professor”, “Acossiatet Professor” dan “Professor penuh (full professor)”.

Saya teringat waktu di Perancis, sejak dua puluh tahunan silam. Saya sudah dipanggil professor. Karena, profesor dalam bahasa Perancis itu, artinya Guru. “Je suis professor a l’uneversite Tadulako”, Palu, Indonesie (Saya adalah Guru di Universitas Tadulako Palu Indonesia). Itulah jawaban saya, bila orang Perancis bertanya tentang profesi saya di tanah air.

Jadi, karena sudah dilegalkan negara, maka mari kita saling panggil professor. Seperti di Manado, orang baku pangge (saling panggil) Menneer, yang juga berarti Guru. Di dalam pendidikan Islam, kata kata Ustadz juga dinisbatkan pada makna Guru.


Dari pada baku buru (berlomba) kebanggaan, masuk scopus untuk semata kejar gelar dengan minim kontribusi bagi ilmu dan kemaslahatan. Lebih baik, curahkan energi untuk selesaikan persoalan masyarakat dan bangsa.

Pada acara di Fisip Untad beberapa waktu lalu, ada yang bilang dosen yang tidak publish scopus, dipertanyakan kualitasnya. Saya ngeri atas pernyataan ini.
Bagaimana dengan mereka yang tekun mengajar ? Mereka yang rajin bekerja dengan masyarakat ? Mereka juga meneliti, tapi tidak masuk bursa bisnis publikasi. Tapi risetnya menjawab kebutuhan masyarakat lokal. Mereka menjadi nista karena tidak ada namanya di listing scopus..?


Dalam pengalaman menghadiri seminar internasional berkali-kali, pemikiran ini mewabah di ilmuan Indonesia. Sehebat apa pun anda, bila tidak punya jurnal internasional sejenis scopus, anda tidak dianggap. Lalu, semua ilmuan Indonesia saling mengukur diri dan membandingkan antarsesama. Padahal, kasat mata kita kenal kualitas masing-masing kolega. Kemampuan berbahasa Inggris sebagai contoh. Maka, tidak perlulah terlalu berbangga diri dengan kepalsuan.

Semua tahu, tidak semua menjadi peneliti benaran. Ada yang sekadar menitipkan nama dalam deretan penulis. Ada yang ilmunya tidak sesuai. Terpenting, masuk dalam kategori punya jurnal internasional.
Sudalah, sampai kapan Bangsa ini bertindak latah seperti begini. Entahlah.

Tapi mengerikan. Sebab, kita bakal menuai anak didik bermasalah. Pengetahuan, keterampilan hingga prilaku. Lantaran penelitian dan jurnal semata yang jadi incaran prestise. Bukan prestasi. Kita juga akan dijauhi oleh masyarakat. Di puncak menara gading, berjubel lah kaum ilmuan. Jauh dari permasalahan akar rumput komunitas.. Jangan lah…

Mengapa?. Karena, ukurannya adalah riset dan jurnal internasional semata. Pengalamannya hampir analog dengan kebiasaan orang tua yang mengandalkan matematika, fisika dan sejenisnya untuk ukuran kualitas anak. Kalau nilai matematika jatuh, disalahkan akibat terlalu banyak main bola kaki. Setelah Ronaldo dan bintang sepakbola dibayar dengan jutaan dolar. Baharu kita sadar bahwa mengagungkan secara fanatik pada satu bidang dan menistakan yang lain, adalah tindakan keliru, fatal dan kurang bermartabat.


Labih sepuluh tahun silam, orang Jerman datang ke Universitas Tadulako. Membawa program kerjasama riset tentang “Forest Margin”. Saya ikut terlibat. Dibuatlah seminar internasional di Palu. Orang pedalaman yang adalah kaum tani, diundang. Petani ini bertanya, dalam gemerlapnya kegiatan riset ini apa outputnya..?

Para ilmuan kala itu berlomba menjawab dengan jawaban beragam. Antara lain, hasilnya akan diterbitkan di jurnal internasional.
Lalu, ada petani lain menimpali. Terus, apa manfaatnya bagi kehidupan kami sebagai petani? Di tempat kalian melakukan penelitian ini? Saya menyaksikan kebanyakan ilmuan, termasuk saya, gagap dalam menjawabnya.

Karena itu, saya sarankan, mari kita bagi peran saja. Ada dosen yang fokus prioritasnya riset. Ada yang pendidikan dan mungkin ada yang khusus pengabdian masyarakat. Tapi apapun itu. Sekarang, sejak Mei 2019, saya telah disematkan gelar Assistant Professor dan Associate Professor. Namun, tetaplah panggil saya, Guru saja. Atau, Guru Kecil di Universitas Tadulako. Wallahualam.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.