Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

KKN di Jono Oge Sigi, Mahasiswa UGM Tinggal di Huntara

0 42

GEMBIRA – Sedikitnya 25 mahasiswa UGM dari berbagai disiplin ilmu memilih Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi, sebagai lokasi KKN. Foto: DOK MAHASISWA KKN

PALU EKSPRES, SIGI – Dua pekan kedepan, 18 Agustus 2019, mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) Yogjakarta akan merampungkan tugas pengabdiannya bersama warga korban gempa bumi dan liquefaksi di Desa Jono Oge, Kecamatan Sigi Biromaru – Sigi.

Sedikitnya 25 mahasiswa UGM dari berbagai disiplin ilmu memilih Desa Jono Oge, sebagai lokasi KKN nya. Sebuah desa kecil di Sulawesi Tengah yang nyaris hilang dari peta Kabupaten Sigi, usai dihajar gempa September tahun lalu.

Muhammad Fawwaz Rifasya (21), mahasiswa jurusan ilmu politik termasuk salah satu peserta yang ikut dalam KKN kali ini, menjelaskan, saat berangkat dari Yogja sudah diberitahu akan menuju ke Sulawesi Tengah di daerah terdampak gempa. Karena itu mereka membekali diri dengan bermacam peralatan khas suasana darurat. Tenda kecil, senter, sleeping bag adalah sebagian kecil peralatan yang mereka bawa.

Namun sesampainya di lokasi KKN, mereka tidak jadi tinggal di tenda. Tetapi tinggal di bilik huntara (hunian sementara) yang ditinggalkan oleh pengungsi. Tak tanggung-tanggung, mereka mendapat lima bilik. Empat untuk tempat tidur, peserta perempuan dan laki-laki – satu lagi untuk dapur umum.

Kegiatan KKN ungkap Fawwas, sapaan akrabnya disesuaikan dengan kondisi warga. Umumnya, seputar pemulihan pascabencana serta usaha bisnis. Mulai sosialisasi dan mitigasi bencana berbasis pengetahuan lokal, tata cara cocok tanam, proses belajar mengajar bagi anak-anak dan menanam pohon hingga pembinaan usaha kecil menengah. Kemudian, ada keterampilan membuat hidroponik serta menguji kelaikan air. Menurut pria ramah ini, peserta KKN yang berasal dari beragam disiplin ilmu, memudahkannya mengeksekusi kegiatan dengan baik karena didukung dengan sumber daya yang memadai.

Rekannya, Bernarda Rismarinni Pudyabrata (21) menjelaskan, untuk melaksanakan program di masyarakat, mereka dibagi pada tiga cluster (gugus). Yakni, perseorangan kemudian cluster berdasar kelompok jurusan serta gabungan jurusan. Beruntung kata dia, mereka mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Sekalipun warga Jono Oge dan sekitarnya masih dalam suasana duka, namun mereka tetap antusias menerima kehadiran mereka. ”Saat kami melakukan sosialisasi dengan masyarakat mereka selalu antusias,” ungkap Sima, panggilan gadis lincah ini.

Ia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sigi juga menerima kehadiran mereka dengan baik. Wakil Bupati Sigi, Paulina bahkan sempat menerima mereka di ruangannya sebelum turun di lapangan berbaur dengan masyarakat. Bentuk perhatian Pemda lainnya ungkap Sima yang akan menyelesaikan studinya setahun lagi, adalah dipinjamkannya tiga unit kendaraan roda dua untuk menunjang mobilitas mereka selama di lapangan. ”Kita dipinjemin sama Pak Kades, motor dinas, trus dari pegawai Bappeda, ada juga triseda, buat ngangkut rombongan temen-temen ke lapangan,” ungkapnya tersenyum. ”Biasanya kita minjem sama warga. Tapi kita tanggung bensinnya,” cerocos, Rismarini (21) mahasiswa jurusan Antropologi Budaya, tak mau kalah.

Selama berbaur dengan warga ungkap gadis berjilbab ini, banyak pengalaman berharga yang didapatkannya. Pengalaman soal bagaimana harus survive di tengah keterbatasan dan suasana duka yang menyelimuti warga.

Sebulan lebih menghabiskan waktu di lokasi KKN, jauh dari orang tua, kerabat dan kawan sejawat, beberapa di antaranya mengaku mulai teringat orang tua mereka di Jawa. Apa lagi saat pertama menginjakan kaki di Desa Jono Oge, rasanya ingin segera kembali. ”Pas datang saya kaget ngeliat suasananya. Rasanya pengen balik,” cerita Febriani Saraswati (21) ditemui di lokasi Kebun Obat di Palu Kinta – Desa Pakuli Utara Kecamatan Gumbasa – Sigi, Jumat 2 Juli lalu.

Namun mengingat KKN adalah tugas wajib bagi setiap mahasiswa maka, ia pun memilih bertahan. Tak terasa sebulan lebih bisa dilaluinya dengan baik. Orang tuanya aku mahasiswa jurusan biologi ini, tidak mengetahui lokasi KKN mereka. ”Orang tua hanya tau aja di Sulawesi, gak tau kalo tempatnya di Jono Oge,” ungkap gadis manis asal asal Magelang – Jawa Tengah ini.

Rindu pulang? Ditanya demikian, Febby tidak menjawab tegas. Ia hanya tertawa kecil ditanya soal suasana perasaannya.

Pada 17 Agustus nanti, mereka akan menggelar peringatan tujuhbelasan bersama warga. Peringatan HUT ke 74 RI tersebut, ungkap Rismarini akan memungkasi seluruh rangkaian mereka di Desa Jono Oge dan sekitarnya. Walau harus menghabiskan hari-hari mereka dengan fasilitas terbatas, beberapa di antaranya mengaku bersyukur, bisa menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah dan menjalani momen momen indah di hunian sementara. (kia/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.