Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Mencium Aroma Pasar Masomba Palu, Sulawesi Tengah, di Little India

0 69

Djafar G Bua – Singapura. Foto: Istimewa

PADA Rabu, 17 Juli 2019, bersama dengan 14 jurnalis se-Asia yang mendapat beasiswa dari Temasek Foundation dan Lee Kwan Yew Institute of Policy Studies, National University of Singapore, saya menyambangi Little India.

Dari Kent Vale Apartement kami berjalan kaki sekira 5 – 10 menitan menuju Bus Stop di depan NUS Museum. Kami menunggu NUS Bus. Bus ini melayani penumpang dari satu kampus ke kampus lainnya tanpa dipungut bayaran. Asal tahu saja, luas kampus NUS tidak kurang dari 1,5 kilometer per segi.

Kami menuju stasiun SMRT – Singapura Mass Rapid Transportation di Kent Ridge. Stasiun ini berhadapan dengan National University Hospital, tempat Ibu Ani Yudhoyono dirawat sebelum beliau mangkat.

Singkat cerita dengan menggunakan MRT kami menuju Stasiun MRT Little India. Soal nyaman dan apiknya transportasi publik di Singapura akan saya kisahkan di lain waktu.

Mulut stasiun MRT Little India berhadapan dengan pasar sayuran, bunga dan buah yang merupakan salah satu warisan sejarah Singapura. Namanya Little Indian karena sejak zaman kolonial Inggris wilayah ini dihuni oleh migran asal India hingga kini.

Semua hal dan budaya India dapat kita temukan di sini.

Yang menarik, Daun Kelor dan Buahnya pun populer di sini.
Saya pun merasa seolah-olah berasa di Pasar Masomba Palu, di kampung halaman saya. Bedanya bila Masomba tak rapi, Little India ditata menarik hingga menjadi destinasi wisata.

Menurut Ashwini Shrivastava, Assistant Editor, Press Trust of India yang berjalan bersama saya, di India daun sayuran dan buah yang populer di Sulawesi Tengah ini dinamai Methi. Sedangkan buahnya disebut Drum Stick. Itulah kenapa, Kelor juga dikenal sebagai Drum Stick Tree.

Dari referensi yang ada Kelor atau merunggai (Moringa oleifera) adalah sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae. Tumbuhan ini dikenal dengan nama lain seperti: limaran, moringa, ben-oil, drumstick dan Malunggay di Filipina.

Di Palu, seperti diketahui menjadi sayuran wajib keluarga. Dicampur udang kecil kering dan terung lalu dimasak dengan kuah santan kelapa. Di sini, oleh Orang India dicampur dengan bayam lalu dibuat sayur bening.

Nah, soal kelor sudah dikisahkan, lalu bagaimana dengan Little India?
Little India adalah distrik etnis di Singapura. Itu terletak di sebelah timur Sungai Singapura — di seberang Chinatown, yang terletak di sebelah barat sungai — dan di utara Kampong Glam.
Kedua area tersebut merupakan bagian dari area perencanaan Kota Rochor. Little India umumnya dikenal sebagai Tekka di komunitas India Singapura.

Little India berbeda dari daerah Chulia Kampong, yang, di bawah Raffles Plan of Singapore, awalnya merupakan divisi dari kolonial Singapura di mana imigran etnis India tinggal di bawah kebijakan segregasi etnis Pemerintah Kolonial Inggris kala itu.
Namun, ketika Kampung Chulia menjadi lebih ramai dan persaingan tanah meningkat, banyak etnis India pindah ke tempat yang sekarang dikenal sebagai Little India.

Wilayah Little India telah berkembang di sekitar bekas pemukiman bagi narapidana India. Lokasinya di sepanjang Sungai Serangoon awalnya membuatnya menarik untuk memelihara ternak, dan perdagangan ternak dulunya terkenal di daerah tersebut. Akhirnya, kegiatan ekonomi lainnya berkembang, dan pada pergantian abad ke-20, daerah itu mulai terlihat seperti lingkungan etnis India.

Bila suatu waktu Anda menyambangi Singapura, jangan lupa menengok Little India. Lalu carilah kelor, jantung pisang, paria bahkan buah jambolan yang banyak tumbuh di Kelurahan Tondo, Palu Timur.

Di India jambolan disebut Jamun. Harganya 5 Dollar Singapura atau setara Rp50 ribu per boks plastik. ***

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.