Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Pakar: Tidak Masalah Kas Negara Cukup Bayar Gaji 3 Bulan, Asal…

0 60

PALU EKSPRES, JAKARTA– Peningkatan ekonomi di masa mendatang harus terus diupayakan. Meskipun, target pertumbuhan ekonomi 5 persen cukup berat untuk diwujudkan mengingat sejumlah faktor baik internal maupun eksternal.

Pakar Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Nano Prawoto menjelaskan, kinerja ekspor Indonesia harus diperbaiki untuk mewujudkan pertumbuhan dari sudut pandang internal.

Sementara faktor eksternal, menurutnya, masih akan dipengaruhi oleh situasi ekonomi dunia seperti perang dagang yang berlangsung antara Amerika Serikat dan China. Situasi itu, imbuhnya, menyebabkan daya beli menjadi lemah.

“Meskipun kita harusnya bisa mengambil untung dari perang dagang antara Amerika dan China itu,” ujar Nano kepada Kantor Berita RMOL, Jumat (28/6/2019).

Dalam kesempatan tersebut, Doktor Ekonomi jebolan Universitas Diponegoro itu juga menanggapi pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani soal kondisi kas negara.

Sebelumnya, Sri Mulyani menyebut kas negara tidak kosong. Pasalnya, masih ada sejumlah dana yang menurutnya cukup untuk membayar tiga bulan gaji.

“Masih di atas Rp 90 triliun, Rp 100 triliun deh. Itu pertanyaan yang sensitif dan provokatif (kas negara kosong), itu masih cukup bayar tiga bulan gaji,” ujar Sri Mulyani di Kantornya beberapa waktu lalu, (Jumat, 21/6).

Menurut Nano kondisi itu tidak mengapa dengan catatan pemerintah mampu menggenjot penerimaan di sektor pajak.

“Situasi kas negara yang cukup untuk tiga kali gaji itu tidak masalah sepanjang kinerja realisasi penerimaan pajak terus digenjot,” katanya.

Hanya saja, Nano memperingatkan situasi buruk yang akan terjadi jika defisit anggaran atau realisasi penerimaan lebih kecil dari realisasi penggunaan anggaran seperti saat ini yang menurutnya sudah mencapai 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Jika tidak bisa diatasi sampai semester pertama ini, ya nanti pasti defisit malah semakin lebar, maka target-target pembangunan ekonomi tidak tercapati,” jelasnya.

“Dan pada akhirnya harus dilakukan revisi APBN 2019, alias besar pasak dari pada tiang,” imbuh salah satu anggota Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) ini.

Tak hanya itu, Nano Prawoto juga menyoroti kenaikan barang dan jasa di bulan Mei. Menurutnya, kenaikan bulan Mei mencapai 3,32 persen dibanding kenaikan sebesar 2,83 persen di bulan April.

“Namun angka itu masih aman sepanjang antara pasokan barang dan permintaan barang terjadi keseimbangan,” sebutnya.

Sementara problematika harga barang di pasaran, menurutnya, dipengaruhi oleh ulah para broker yang bermain di saluran distribusi barang tersebut.

“Yang penting pemerintah harus tegas dan selalu jeli mengawasi peredaran barang-barang itu, sehingga pasokan barang selalu normal,” pungkasnya.

(rmol)

 

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.