Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Pulau di Pusaran Peradaban Dunia

0 77

Nur Sang Adji . Foto: Dok. PE


oleh Nur Sang Adji

Inilah tiga pulau (TMT :Tidore, Maitara, Ternate) atau TMT (Ternate, Maitara, Tidore). Gugusan ini yang jadi saksi penentu bagi pengakuan tanpa syarat bahwa bumi itu bulat.

Bagaimana tidak?. Di tiga pulau inilah Spanyol dan Portugis yang bersengketa dalam pembagian wilayah berbasis keyakinan bahwa bumi itu datar, menemukan jawaban. Kesepakatan yang diperteguh dengan perjannjian Teordisillas tahun 1494 itu, batal. Diganti dengan perjanjian baru, Saragosa pada 1529.

Demikianlah sekelumit yang saya baca di buku berjudul “Merambah Episentrum Baru. Sebuah Ontologi dari Negeri Rempah”. Buku ini dikirim langsung oleh penulisnya, karib senior ku, Syaiful Bahri Rurai. Sosok anggota DPR pusat yang sangat produktif dan giat dalam kajian literasi.
Sesungguhnya, jauh sebelumnya, yaitu pada abad ke 7, era dinasti T’ang di China, kontak dagang telah terjadi. Di era ini, pulau di gugusan utara Maluku ini telah didatangi pelaut, China, Arab, Melayu dan Jawa. Karena dari sinilah, cengkih dan pala berasal. Bahkan, lebih jauh lagi sebelum masehi (BC), negeri ini sudah terhubung sejagad karena perdagangan cengkih. Brierley menulis, “Quin of Sheba brought precious stones, gold and spices to Solomon in 992 BC (Before Crist)”.

Ketika China dikuasai Mongol, jalur perdagangan klasik ini terputus selama 200 tahun. Meski, Khubilai Khan (1215-1294), cucu Jenghiz Khan pernah menyerang Jawa dengan 30 ribu pasukan dan 1000 kapal, namun dipatahkan oleh Raden Wijaya dari Majapahit. Interupsi jalur dagang inilah yang menjadi sebab awal, pelaut Europa mencari jalan sendiri menuju ke pusat produksi rempah, Cengkih dan Pala. Dimotori oleh Partugis dan Spanyol.

Mereka berlayar dengan arah bertolak belakang di waktu berselang, mengikuti perjanjian pembagian wilayah. Spanyol ke arah barat, Portugis ke arah timur, lalu heran ketika bertemu. Pertemuan yg nyaris perang itu, akhirnya memproduksi persekutuan antara Portugis dengan kesultanan Ternate. Dan, Spanyol dengan kesultanan Tidore.

Adalah Ferdinand Magellan, yang memimpin expedisi bangsa spanyol dengan lima kapal dan kekuatan armada 234 Orang. Mereka bertolak dari pelabuhan Sevilla Spanyol pada 08 September 1519. Belakangan, sejarah membuktikan tinggal satu kapal dengan 19 awak tersisa yang berhasil pulang ke Europa pada tahun 1522.

Berita serupa

Magellan sendiri wafat di philipina dlm sengketa perang lokal. Misi dilanjutkan Oleh Sebastian Elkano dengan dua kapal tersisa, Trinidad dan Victoria. Mereka membuang sauh di pantai Rum. Sekarang pelabuhan Rum, letaknya dekat sekali dengan pulau Maitara.

Kebaikan memuliakan
tamu dari kedua kesultanan ini, ternyata masuk dalam perangkap politik adu domba. Persekutuan ini, faktanya kemudian, menimbulkan silang sengketa yang panjang dalam sejarah. Pertikaian perebutan Sumber Daya Alam berupa rempah-rempah, cengkih dan Pala. Hingga datang Belanda dan Inggeris dengan napsu yang relatif sama.

Pendekatan “Devide et impera” sebagai srategi politik dan ekonomi untuk memuluskan kerakusan, gayung bersambut dengan mental hianat dan gila kedudukan dari sebagian “in lander” (pribumi), menjadi sebab bercokolnya kaum penjajah demikian lama.

Moktar lubis, menulis dalam bukunya “Mentalitas Orang Indonesia”.
Beliau,mensinyalir bahwa mental menjajah, terjajah dan hianat demi kedudukan dan materi (uang dan fasilitas) ini, masih diwarisi generasi hingga kini. Sayang, karena sejarah panjang ini tidak menyadarkan kita semua. Bahkan, melalaikan kita sebagai anak negeri. Seolah tidak pernah ada.

Padahal, “historia magistra vitae” (sejarah adalah guru kehidupan). Itulah sebabnya, penyair Milan pernah menulis “The Straggle of Man against power, is the struggle of memory against forgetting”. “Perjuangan melawan kekuasaan, sesungguhnya adalah perjuangan melawan lupa”.

Namun begitu, tetaplah kita rawat optimisme. Semogalah satu ketika, keadaan berubah. Tapi, entah kapan ? Wallahu a’alam bi shawab.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.