oleh

Lebaran Mandura 2019, Tradisi Warga Kelurahan Baru Kota Palu

MANDURA – Gunungan mandura yang akan dibawa keliling Kelurahan Baru, menandai gelaran Lebaran Mandura 7 Syawal 1440 H, dan hari pertama Kampung Baru Fair 2019. Foto: JEFRIANTO/IST

PALU EKSPRES, PALU – Pelaksanaan Lebaran Mandura yang secara rutin digelar warga bersama Takmir Masjid Kelurahan Baru, Kota Palu, ditandai dengan digelarnya pawai mandura pada Selasa 11 Juni 2019. Pawai yang mengambil rute mengelilingi Kelurahan Baru tersebut, membawa sebuah gunungan yang terdiri dari seratus ikat makanan mandura, yakni salah satu makanan khas sebagian masyarakat Kota Palu pada saat lebaran Idul Fitri.


Lebaran Mandura merupakan salah satu tradisi warga Kelurahan Baru bersama para pengurus Takmir Masjid Jami’ Kampung Baru, yang mulai diramaikan sejak tahun 2013 lalu. Tradisi tahunan ini digelar setiap tanggal 7 Syawal pada penanggalan Hijriah, atau enam hari setelah Idul Fitri. Masjid Jami’ merupakan salah satu Masjid tertua di lembah Palu, yang menandai sejarah awal penyebaran Islam di lembah Palu.


Sejak tahun 2016, pelaksanaan Lebaran Mandura semakin diramaikan dengan rangkaian Tahun Baru Fair, yang merupakan inisiatif bersama masyarakat dan para pemuda di Kelurahan Baru. Sejak tahun 2016 setiap tanggal 7 Syawal menjadi hari pembuka Kampung Baru Fair, yang pada tahun ini rencananya digelar kurang lebih selama sepekan.


Lurah Baru, Yusran menjelaskan, Lebaran Mandura diharapkan dapat menjadi salah satu ikon kegiatan positif religi yang dikenal luas berasal dari Kelurahan Mandura. Selain itu, momen tersebut juga dapat mengenalkan tradisi mandura sebagai makanan khas Idul Fitri bagi warga Kelurahan Baru sejak dulu.
“Di Kelurahan Baru ini sejak dulu dikenal makanan manduranya. Ini yang kita angkat menjadi tradisi,” kata Yusran.


Sedangkan pelaksanaan Kampung Baru Fair, lanjut Yusran, bertujuan untuk mengangkat nama Kelurahan Baru beserta budaya religi yang sejak dulu melekat dengan masyarakatnya. Nilai-nilai religi tersebut dipadukan dengan nuansa budaya lokal yang dinilai tidak bertentangan dengan Islam. “Jadi ada nuansa religinya, edukasi dan pesta rakyat,” tandasnya. (abr/palu ekspres)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed