Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Kamil Badrun: Tawaran Membangun Kota Palu dengan Jalan Kewirausahaan

Menuju Pilwakot 2020

0 527

Pemilihan Wali Kota Palu tinggal berbilang setahun lebih lagi. Birokrat, politisi, pun para profesional sudah ada yang mulai ancang-ancang untuk bertarung. Salah satunya, meski belum mendeklarasikan diri, tapi laik dipertimbangkan adalah Kamil Badrun. Ia adalah jurnalis senior, pemilik kelompok media Radar Sulteng cum pengusaha kontruksi dan tambang.

“Kepala Daerah itu mesti berpikir tak ubahnya seperti seorang interpreneur, wirausahawan. Membangun Kota dengan pendekatan usaha ekonomi saya kira sesuatu yang bisa dilakukan. Utamanya membangun Kota Palu pasca bencana dahsyat 28 September 2018 kemarin. Saya harus mengakui dari tahun ke tahun ujud kota ini makin membaik. Sayangnya, terkesan lamban. Apalagi untuk menyejajarkan diri dengan kota-kota lain yang sudah maju di timur Indonesia saja. Kita butuh percepatan. Saya menawarkan pendekatan kewirausahaan untuk membangun dan mengembangkan kota ini.”

Kutipan itu adalah penyampaian Kamil Badrun AR, jurnalis senior dan pemilik kelompok media Radar Sulteng pada kesempatan silaturahmi, Rabu, 5 Juni 2019, bertepatan dengan 1 Syawal 1440 Hijriyah.

Banyak kisah yang disampaikan penyuka olahraga bulutangkis ini. Namun ada satu dua yang penting untuk disampaikan kepada khalayak. Soal pendidikan agama, pembentukan karakter, juga kepedulian sosial dan usaha ekonomi kerakyatan atau kewirausahaan menjadi perhatiannya.

Soal pendidikan, Kamil menaruh perhatian sangat besar. Itulah yang mendasari langkahnya membangun Yayasan Umat Umat Alikhlas pada 2004. Melalui Yayasan ini, ia mendirikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Baginya pendidikan agama dan pembangunan karakter generasi sejak dini adalah keniscayaan. Itulah yang akan membentuk kepribadian anak hingga dewasa, membentuk kelompok generasi dan komunitas.

“Sejak Provinsi Sulawesi Tengah berdiri kita baru punya seorang Jenderal. KIta baru punya Mayor Jenderal TNI HB. Paliudju. Belum ada anak-anak asli daerah yang menjadi Jenderal baik di TNI maupun Polri. Kenapa? Karena kita memang tidak menyiapkannya secara terencana pendidikan putra-putri terbaik kita,” kata pria kelahiran Palu, 6 Desember 1968 ini.

Kalau pun ada yang berhasil di skala nasional, itu atas upaya mandiri orang per orang. Mestinya Pemerintah Daerah yang turut campur tangan. Mereka dibentuk, disiapkan dan dibiayai. Kita kawal mereka hingga misalnya mendaftar di Akademi Militer atau Akademi Kepolisian atau Akademi profesional lainnya. Beri tanggung jawab masing-masing organisasi perangkat daerah untuk itu. Alokasikan biaya pembinaan prestasi atau bantuan pendidikan untuk mereka,” sebut sosok yang lebih nyaman berkepala plontos ini.

Ia menyontohkan bagaimana putra-putri terbaik dari Sulawesi Selatan punya posisi strategis di Kementerian tertentu, di eksekutif Badan Usaha Milik Negara di pusat pemerintahan. Itulah yang bisa kita tiru. Bila sudah ada, mereka itu nanti yang bisa menyokong pendidikan anak-anak berprestasi yang sudah disiapkan. Saat mereka selesai dengan mudah mereka ditarik menjadi staf ahli atau kemudian menjadi aparatur di Kementerian yang diisi oleh anak daerah kita. Jadi ini akan berkesinambungan jadinya.

“Bila ada yang mau kuliah strata dua, kita biayai, setelah selesai dan mereka ditarik di lembaga atau instansi Pemerintah Pusat kita sokong saja. Insya Allah mereka akan berguna bagi yang lain nantinya,” menurut Magister Pengembangan Wilayah Pedesaan ini.

Lalu bagaimana membangun kota dengan pendekatan kewirausahaan? Anak dari mendiang Badrun Abdurahim Dg Nggale dan Hj. Maemuna ini punya resepnya. Dia bilang tumbuhkan spot usaha-usaha ekonomi mandiri di tiap Kelurahan. Dimodali, difasilitasi, dilatih, dibimbing dan diawasi pengembangannya oleh OPD terkait atau Bapak Angkat dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kota Palu. Mereka di bawah supervisi OPD terkait atau oleh para profesional hingga usaha ekonomi berjalan baik, tidak dilepas begitu saja. Mata rantai usahanya kita siapkan hingga ke pasarnya.

“Mereka itulah nantinya akan menjadi pelopor pemberdayaan yang dilakukan Pemerintah Kota Palu. Pemerintah tidak lagi mesti capek-capek mengurusi semua urusan hidup orang banyak secara serabutan di 46 kelurahan dan 8 kecamatan. Semua terencana dengan baik dan sistematis. Karena sudah ada wirausahawan di tiap-tiap Kelurahan yang akan menanggulangi persoalan sosial ekonomi kemasyarakat di lingkungannya,” papar suami dari Fien Lalan ini.

Jenis usahanya disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayahnya. Ada usaha ekonomi pertanian, peternakan, industri kreatif, handycraft, makanan dan minuman dan lain-lain. Wilayah-wilayah itulah yang akan menjadi pusat ekonomi baru kita. Difasilitasi oleh Pemerintah, dikelola oleh warga dan faedahnya kembali ke warga dan Pemerintah.

Menurut ayah dari tiga putri ini, percepatan pembangunan Kota Palu pasca bencana adalah keniscayaan. Tak bisa ditawar-tawar. Ia menyadari bencana 28 September 2018 benar-benar meluluhlantakan pranata sosial ekonomi Kota ini. Tapi kita tak boleh patah semangat. Kota ini masih bisa kita bangun bertahap dengan percepatan.

“Saya meyakini itu. Saya belajar dari pengalaman bagaimana saya membangun bisnis media hingga seperti sekarang ini dan membangun bisnis lainnya. Ada banyak sumber daya manusia yang mumpuni, mereka tinggal digerakan, dipicu untuk bergerak,” hemat dia.

Peraih penghargaan Strong Man Jawa Pos pada 2000 ini menyampaikan bila dia ingin mencalonkan diri sebagai Wali Kota Palu, resep itulah yang akan diterapkan membangun kota. Ia yakin pendekatannya bisa berhasil.

“Tapi ini masih dalam ancang-ancang saya. Seperti kawan-kawan pengusaha saya yang lain, saya gregetan, gelisah melihat perkembangan kota ini tergolong lamban. Kita harus bergerak cepat, apalagi pasca bencana ini. Mau diapakan bekas tapak likuifaksi di Petobo dan Balaroa, mau diapakan bekas terjangan tsunami di Teluk Palu, itu mesti dipikirkan sesegera mungkin. Bergerak cepat. Seperti jargon Pak Jusuf Kalla; Lebih cepat lebih baik, saya kira harus begitu,” pandang salah satu sosok yang dekat dengan mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan ini. (jgb)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.