Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Mangrove Lebih Tangguh dari Tanggul, JMK – Oxfam Target 10 Ribu Bibit Mangrove di Teluk Palu

0 205

PALU EKSPRES, PALU – Ditengah wacana pembangunan tanggul penahan tsunami dan gencarnya petisi penolakan tanggul,
Jejaring Mitra Kemanusian – Oxfam (JMK-Oxfam) sudah bergerak lebih awal menanam bibit mangrove di pesisir Teluk Palu.

Belasan relawan dari sedikitnya 10 organisasi bergabung dengan JMK -Oxfam untuk mendukung program konservasi mangrove. Minggu siang, 19 Mei 2019 ,dibawah terik mentari,  sedikitnya 300 bibit mangrove mereka sebar dan tanam. Lokasi pertama yang mereka tanami adalah pesisir yang berada di depan lokasi penggaraman Kelurahan Talise.
JMK- Oxfam berencana menanam sebanyak 10 ribu bibit mangrove secara bertahap dititik lainnya dengan melihat perkembangan dari tahap pertama.

Dilokasi pertama ini, permukaan tanah pantai tempat menanam bibit mangrove terlihat berbatu kerikil bercampur pasir. Namun para relawan tetap bisa menggalinya meski hanya memakai kedua belah tangan.
Rencananya JMK-Oxfam akan bergerak ke titik lain untuk meneruskan penanaman bibit mangrov tersebut.

Menjawab Palu Ekpres tentang ketidaklayakan kontur tanah berbatu untuk tanaman mangrove, Koordinator livelihood Oxfam, Meylinati, menjelaskan, pihaknya telah melalui berbagai diskusi mengenai hal itu.

Yang menjadi pengangan adalah, bahwa kawasan pesisir teluk Palu berdasarkan sejarah merupakan kawasan yang pernah ditumbuhi banyak tanaman mangrove.

“Dari literasi yang ada, kawasan ini aslinya kawasan mangrove. Sebenarnya ini harus dikembalikan. Mungkin bisa menjadi titik edukasi bersama.
Bahwa cocok tidak cocoknya, saya kira harus melihat kembali melihat sejarah,”kata Meylinati.

Mengenai titik penanaman, pihaknya sebut Meylinati akan berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulteng. Kebetulan dinas itu telah menetapkan sejumlah titik di sepanjang teluk Palu sebagai pusat konservasi mangrove.
Termasuk menyesuaikan penetapan titik tata ruang yang berpotensi ditanami mangrove.

“Selain potensi, kamipun melihat lahan yang tetap baik untuk nelayan atau petani garam dan sumber-sumber penghasilan lainnya. Dengan catatan tanpa harus menghilangkan lokasi penggaraman,”tururnya.

Penanaman mangrove merupakan langkah awal pemulihan teluk Palu.
Dengan mangrove diharapakan kedepan teluk Palu menjadi kembali tangguh dalam mengurangi resiko bencana. Hal inipun kata dia perlu jadi sarana edukasi baik bagi masyarakat maupun pemerintah.

“Kami ingin menyampaikan edukasi pemerintah dan pihak lainnya tentang mengapa mangrove lebih cocok daripada tanggul. Kita harus buktikan mangrove lebih tangguh daripada tanggul,”jelasnya.
Pihaknya pun tandas Meylinati tidak akan terganggu dengan wacana pembangunan tanggul sebagai strategi penahan gelombang tsunami.

“Komunikasi dengan dinas kelauatan kawasan ini akan jadi kawasan konservasi mangrove. Juga diskusi awal tentang aturan tata ruang. Sedangkan perencanaan pembangunan tanggul juga masih sebatas wacana,”demikian Meylinati.

(mdi/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.