Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

“Membangun Rumah Ibadah di Dunia, Namun Lupa Bangun Rumah Ibadah di Hatinya”

Palu, Jelang Delapan Bulan Pascabencana

0 159
“(Kata-kata) ini seperti di Bible,” kata Paula Pasila, Manager sebuah Hotel di Makassar dengan emoticon senyum mengomentari Judul di atas yang saya buat untuk status di Whatshapp.
 
Saya belum pernah membaca ayat Bible soal ini, kata saya. Namun Paula membenarkan, makna dari petikan ini sudah dikenalkan Injil ribuan tahun yang lampau.
 
Soal rumah ibadah ini, ada banyak kisah ajaib di Palu pascagempa.  Di tengah kota ada sebuah gereja yang seperti tak tersentuh gempa. Padahal persis di sebelah rumah ibadah itu, ada Hotel Roaroa 7 lantai yang terbanting hancur berkeping-keping. Hotel ini sempat menjadi spot awak media saat mereportase bencana di Sulteng 28 September 2018 lalu.
 
Di Wani, Kecamatan Pantoloan, sebuah Masjid Jami’ kukuh berdiri. Masjid ini bergeming, tegak lurus bahkan cat dindingnya pun seperti tak tersentuh air bah yang diantar Tsunami malam itu. Semua orang mempersaksikan bahwa air melompat di atas atap masjid dan air bergeser menjauh dari masjid. Wallahu alam.
 
Lalu ada pula masjid di kawasan perumahan dekat  Balaroa. Kawasan perumahan itu dan masjidnya utuh. Tak terdampak gempa dahsyat itu.
 
Beredar cerita, Masjid Jami’ Wani itu setiap saat jamaahnya rajin membuat kajian agama dan dzikir didalamnya. Lalu Masjid di kompleks perumahan dekat Balaroa yang utuh itu. Kabarnya anggota majelis taklimnya rajin berkeliling dari rumah-rumah berdzikir dan mengaji.
 
Saya pun yakin, di gereja yang tetap utuh di samping Hotel Roaroa itu, pasti umatnya rajin memuji dan memuja Tuhan dalam ibadahnya.
 
Namun ada juga rumah ibadah di Palu, Sigi dan Donggala ikut rubuh dalam sepersekian menit guncangan gempa.
 
Tulisan saya ini tidak berniat membandingkan rumah ibadah yang utuh saat bencana dan yang rontok bersama gempa. Soal mengapa bisa terjadi,  biarlah ini menjadi rahasia Allah SWT untuk saya yang dhaif ini.
 
Namun menjadi catatan untuk saya bahwa rumah ibadah sangat penting, tetapi lebih penting lagi membangun semangat beribadah di dalam hati jemaahnya.
 
Ada berapa banyak rumah ibadah seperti “rumah hantu” karena jemaahnya tak lagi rajin mengunjungi rumah Tuhan ini untuk memanjatkan puji-pujian. Di beberapa kota di Eropa, gereja-gereja akhirnya dijual karena jemaatnya tak lagi datang berdoa di setiap minggu.
 
Sementara di sebuah kawasan perumahan Balaroa, puing-puing reruntuhan rumah warga masih tetap sama seperti sembilan bulan lalu ketika gempa 7,5 Skala Richter dan Liquifaksi menghantam Palu, Sigi dan Donggala.
 
Tak ada yang tersisa kini. Semua rata dengan tanah. Masjid pun runtuh, hanya kubahnya yang tersisa menunjukkan bahwa di Balaroa ini dulu pernah ada kawasan perumahan padat penduduk lengkap dengan rumah ibadahnya yang runtuh.
 
Hanya ada kesenyapan bercampur pedih dan sedih yang mendalam. Di kawasan perumahan ini, ada sepasang suami isteri yang ikut terkubur bersama tanah yang bergulung, liquifaksi. Meninggalkan tiga orang anak lelaki, 9 tahun, 14 tahun dan 20 tahun dalam kesedihan dan trauma mendalam.
 
Mereka kehilangan segalanya. Orangtua, rumah serta seisinya. Tak lama berselang, nenek satu-satunya tempat mereka bergantung di kampung menyusul ibu-bapak mereka ke haribaan Ilahi.
 
Saya yang penuh dosa ini tak mampu memahami maksud Tuhan dibalik peristiwa beruntun yang dialami kawan Fandy dan adik-adiknya.  Fandy dan ketiga adiknya, saat ini menumpang tinggal di rumah keluarga mereka di Palu. Entah bagaimana keadaannya.
 
Fandy tak sendirian. Ada ribuan anak-anak tak berbapak dan beribu di pengungsian. Atau bapak-ibu yang kehilangan anak dan rumahnya.
 
Berbulan-bulan tak terkira bantuan datang untuk korban bencana di awal bencana. Semua berbondong-bondong membantu. Mulai dari kebutuhan pokok, sembako, hingga  baju-baju. Sebab ada ribuan korban yang hanya berbekal baju di badan. Rumah dan isinya habis tersapu badai.
 
Hingga kini masih ribuan mereka yang bertahan di pengungsian di dalam tenda-tenda. Mereka bekas penghuni Balaroa, dan warga nelayan di Kampung Lere yang memilih bertahan di Masjid Agung Palu.
 
Mereka yang beruntung bisa tinggal di hunian sementara (huntara) yang dibangun pemerintah. Meski jumlah mereka tak banyak. Karena pemerintah tak cukup uang untuk membangun Huntara.
 
Tak hanya rumah, mereka juga banyak yang kehilangan pekerjaan. Belum lagi semua bahan-bahan kebutuhan hidup menjadi mahal di pasar sebab sulitnya akses transportasi keluar masuk Palu pascabencana. Mereka tak bisa lagi berharap selalu ada bantuan dari pendonor. Mereka harus menerima keadaan ini dan bersabar.
 
Saya yakin, meski kondisi seberat apapun, para pengungsi, mereka yang pernah menjadi korban bencana, tak akan pernah berhenti memuja dan memuji Tuhan mereka di gerak, lisan dan hatinya. Bahkan di tanah kosong beralas tikar dan beratap langit tanpa bangunan bernama rumah ibadah, mereka tetap melaksanakan ibadah, mengingat Tuhan dalam setiap waktunya.
 
Mungkin saja lewat doa-doa mereka mengetuk pintu langit agar Tuhan menggerakkan hati manusia, pengelola yayasan-yayasan untuk tetap membagi rejeki kebutuhan hidup mereka agar mereka bisa segera tinggal di huntara dan bisa makan dengan cukup.  (***)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.