Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Penderita HIV/AIDS di Sulteng Terus Bertambah

165

Data kumulatif penderita HIV/AIDS di Sulteng dari tahun 2002 hingga Mei 2016. (Sumber: KPAP Sulteng)

PALU, PE –  Jumlah penderita HIV/AIDS di Sulteng dari tahun ke tahun terus bertambah. Dibandingkan  periode yang sama pada tahun 2015, pertambahan penderita ini meningkat di atas 20 persen. Hingga Juli 2016, jumlah penderita mencapai 1.147 orang. Rinciannya, 655 penderita HIV dan 429 yang teridentifikasi penderita AIDS.  Masudin Radja, Anggota Pokja Komunikasi, Informasi dan Edukasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sulteng menjelaskan, tingginya penderita AIDS di Sulawesi Tengah, bisa dimaklumi mengingat ini fenonema gunung es.

Bahkan mereka yang selama ini tidak atau belum teridentifikasi masih ada yang berkeliaran di masyarakat.  Dari 1.147   penderita di Sulteng, 500 orang lainnya berasal Kota Palu. Jumah ini sekaligus menempatkan Kota Palu sebagai penderita HIV/AIDS tertinggi se Sulawesi Tengah.

Di bawah Kota Palu adalah Sigi dengan jumlah penderita 100 orang lebih lalu ada Kabupaten Tolitoli 100 lebih penderita dan kemudian Luwuk dan sisanya Parigi Moutong. Dua daerah ini update datanya belum masuk di KPA Sulteng.  Menurut Masudin, tingginya penderita yang berasal dari Kota Palu disebabkan tingginya tingkat urbanisasi di wilayah imi.

‘’Pergerakan orang  di Kota Palu cukup dinamis karena itu tingginya penderita HIV/AIDS di daerah ini bisa dimaklumi,’’ jelasnya.

Masih menurut Masudin, penderita AIDS kini semakin merata. Jika sebelumnya, hanya terjadi pada penderita berisiko tinggi, seperti pekerja seks komersial, kini lebih merata pada semua lapisan masyarakat. Entah itu, ibu rumah tangga (IRT), pegawai bahkan mahasiswa. Khusus IRT lebih disebabkan kebiasaa para suami yang tidak bisa mengontrol pergaulannya di luar rumah. Ini kemudian berdampak padapara  istri di rumah. Sedangkan mahasiswa dan pegawai maupun buruh, lebih disebabkan oleh perilaku pergaulan yang tidak terkontrol. Mereka para penderita ini, walaupun sudah divonis terjangkit AIDS, mereka tetap menjalankan pekerjaan sesuai dengan profesinya.

‘’Yang mahasiswa tetap kuliah yang pegawai juga masih berkantor yang pekerja juga tetap menjalankan tugasnya sebagai buruh,’’ jelas Masudin, Rabu 30 November 2016.

Pihaknya, tidak bisa membeberkan identitas para penderita, mengingat perlakuan publik belum sepenuhnya bisa menerima mereka untuk bisa membaur dalam komunitas masyarakat.  Mestinya  kata dia, masyarakat harus memberikan perlakuan yang baik terhadap  terhadap penderita HIV/AIDS agar mereka merasa tidak terkucilkan dalam kehidupan sosialnya. Penderita HIV/AIDS tidak perlu dijauhi atau dikucilkan. Ini karena penularannya, tidak seperti penyakit menular lainnya, seperti tuberculosis (TBC) atau hepatitis.

Dilihat dari usia penderitanya, Masudin mengaku, mereka yang terjangkit rata-rata usia produktif   antara 21 – 40 tahun. Jumlahnya sekira 40 persen dari total penderita ODHA (orang dengan HIV/AIDS) di Sulteng yang mencapai 1.147 orang. Ini harus ada gerakan kolektif dari semua unsur masyarakat mengingat penyakit mematikan ini mulai menyasar kelompok masyarakat usia produktif.
Namun upaya ini tidak bisa berjalan maksimal. Dukungan sumber daya yang kurang memadai menjadi penyebab usaha pencegahan dini tidak berjalan optimal. Dukungan dana yang diperoleh dari pemerintah terasa sangat kurang. Pada 2016, KPA Sulteng hanya mengantongi Rp100 juta dari APBD Sulteng. Angka yang teramat kecil jika dibandingkan dengan kegiatan preventif dan penyuluhan yang harus dilakukan di tengah masyarakat. Padahal KPA dibentuk berdasarkan instruksi presiden.

Walau demikian bukan berarti tidak ada jalan keluar. KPA Sulteng menyiasatinya dengan bekerjasama dengan instansi terkait seperti Dinas Kesehatan dan BKKBN Provinsi Sulteng. Semestinya, setiap SKPD membuat program yang berkaitan dengan pencegahan penyakit ini. Misalnya, Dinas Pendidikan dan Kanwil Kemenag. Mendiang Wagub Sudarto kata dia, selalu menekankan agar penanganan HIV/AIDS ditangani lintas istansi. SKPD terkait harus mempunyai program untuk pencegahan penyakit ini.  Sayangnya hingga  Wagub mangkat perhatian SKPD terhadap pencegahan penyakit ini belum seperti yang diharapkan. (kia)

Komentar ditutup