Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Faisal Basri: Sebenarnya Indonesia Masih Negara Miskin

0 47

PALU EKSPRES, JAKARTA – Pakar Ekonomi Faisal Basri mengungkapkan bahwa angka terbaru pada 2017 menunjukkan 1 persen orang terkaya menguasai 46,6 persen kekayaan nasional. Hal itu dikatakannya dalam acara bertajuk Sharing with The Master: Meneropong Masa Depan Makro Ekonomi Nasional dan Peran Strategis Wakaf dalam Pengentasan Kemiskinan.

“Jumlah orang miskin absolut itu ada di desa 60 persen. Di desa itu kegiatan utamanya pertanian, jadi akar kemiskinan ada di sektor pertainan yang lokasinya di desa,” ujarnya di Aula Andalusia, Menara 165, Jakarta Selatan, Kamis (21/3/2019).

Salah satu penyebabnya, yakni ketidakmampuan masyarakat dalam mengelola bahan baku. Masyarakat cenderung menjual bahan mentah sehingga tidak mendapat nilai tambah.

Faisal menambahkan, kemiskinan di sektor pertanian juga dikarenakan produktivitas petani yang hanya mengandalkan masa tanam. Padahal, ada banyak kegiatan produktif lain yang bisa dikerjakan sembari menunggu masa panen.

“Salah satunya misal mengolah cabai menjadi keripik. Seperti yang terjadi di Sumatera Barat, suami ke sawah, istrinya mengolah (keripik),” tambah Faisal.

Paparan data yang dibeberkan Faisal cenderung menunjukkan bahwa kesenjangan ekonomi di Indonesia sebenarnya masih sangat lebar.

“Jadi kalau PDB (Pendapatan Domestik Bruto) di dunia kita nomor 16. Tapi (kalau dibagi) per orangnya, nomor 116 PDB per kapita. PPP (purchasing power parity) kita nomor 8. Tapi, kalau dibagi (jumlah) penduduk, kita nomor 100. Itulah kemiskinan itu, kita ini masih miskin,” paparnya.

Sementara itu, Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin yang turut hadir mengungkapkan, memang kemiskinan yang saat ini terjadi di Indonesia, termasuk tragedi kemanusiaan.

“Kami sadar sekali, tragedi kemanusiaan bukan sekadar bencana alam, bukan konflik atau perang. Tapi, ada konflik lebih hebat dari itu, yaitu kemiskinan,” tuturnya.

Oleh karena itu, ACT melalui Global Wakaf telah mencari solusi untuk menekan kemiskinan. Baginya, wakaf adalah alat dari yang Maha Kuaasa sebagai solusi untuk mengentaskan kemiskinan.

“Mengapa umat ini tetap miskin? Karena umat tidak menggunakan instrumen wakaf. Karena dengan adanya wakaf ini, masyarakat dapat produktif dalam mengelola aset-aset yang telah mereka wakafkan,” pungkas dia.

(yes/jpc)

 

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.