Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

UNDP dan Bonebula Laksanakan Program Padat Karya di Donggala

0 83

PALU EKSPRES, DONGGALA – Kerugian akibat kerusakan dalam bencana gempa beserta tsunami yang melanda Palu, Sigi, dan Donggala, di Sulawesi Tengah (Sulteng) melebihi Rp 10 triliun.

Kendati masih dalam proses pendataan, kerugian dan kerusakan tersebut diprediksi lebih besar dari gempa yang terjadi di Lombok beberapa waktu lalu.

Jika bencana seperti ini terjadi secara beruntun, pemerintah akan sulit mengucurkan dana untuk melakukan rekonstruksi pascabencana. Apalagi pasca bencana tersebut perekonomian masyarakat semakin sulit.
Untuk membantu perbaikan ekonomi masyarakat pasca bencana di Kabupaten Donggala, United Nations Development Programs (UNDP) dan Yayasan Bonebula melaksanakan program padat karya.

Padat karya yang menyerap sebanyak 400 ratus orang tenaga kerja tersebut dan rata-rata korban bencana dilaksanakan di enam desa Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala.  Antara lain, desa Surumana, Watatu, Lalombi, Lumbumamara, Lembasada, dan desa Tolongano.

Pendeta Gereja Toraja Jemaat Betlehem desa Watatu Cornelius Motongan kepada media ini mengatakan, program padat karya yang dilaksanakan oleh UNDP dan Yayasan Bonebula sangat membantu masyarakat di Banawa Selatan.

Saat ekonomi masyarakat terpuruk akibat bencana, UNDP dan Yayasan Bonebula hadir dengan program yang bermanfaat.
“Masyarakat sangat bersyukur dapat diberdayakan, termasuk beberapa orang jemaat saya. Terima kasih UNDP dan Yayasan Bonebula,” kata Cornelius, Kamis (14/3/2019)

Cornelius mengatakan, ketika terjadi gempa 28 September 2018 lalu, gereja Toraja Jemaat Betlehem Watatu mengalami kerusakan yang cukup parah.
Dia mengaku bingung karena tidak bisa membersihkan puing-puing gereja secara manual.

Setelah program padat karya dari UNDP dan Yayasan Bonebula masuk di Watatu, puing-puing gereja tersebut dapat dibersihkan dengan menggunakan alat berat.
“Tentu sangat berat bila dibersihkan secara manual. Tapi untung UNDP dan Bonebula memfasilitasi alat berat dan 3 unit truk untuk pembersihan.
Kami sangat terbantu,” ujarnya.

Haerati (50) warga Lembasada juga berpendapat yang sama. Program padat karya yang dilaksanakan UNDP dan Yayasan Bonebula menurut dia sangat membantu warga. Dia berharap program tersebut dapat berkelanjutan hingga perekonomian masyarakat semakin membaik.

Sementara itu direktur Yayasan Bonebula, Andi Anwar mengatakan, program padat karya tersebut menyasar dua hal yaitu bantuan pekerjaan yang bermartabat bagi korban bencana sekaligus mengantisipasi korban dari bahaya bangunan yang rusak berat satau retak namun masih berdiri.
“Pada umumnya program ini adalah program pembersihan material bangunan pasca bencana.

Warga akan membersihkan seluruh material bangunan agar tidak menimbulkan korban jiwa. Misalnya fasilitas umum, jalan, drainase, bangunan sekolah, atau rumah ibadah yang terdampak bencana,” sebut Anwar.

Dikatakannya,  Yayasan Bonebula yang difasilitasi UNDP menyediakan semua peralatan kerja dengan standar keamanan bagi para warga yang bekerja. Termasuk menyediakan BPJS ketenagakerjaan.

(mg6/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.