Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Suku Bunga BI Gairahkan Industri Properti

0 231

PALU EKSPRES, JAKARTA – Kebijakan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan membawa angin segar bagi industri properti. Suku bunga di kisaran 6 persen tersebut bisa meningkatkan penjualan properti pada awal 2019. Para pengembang perumahan premium pun makin gencar merilis produk baru untuk memperluas pasar.

’’Tentu positif. Selain menunjukkan inflasi yang terkendali, juga memberikan keuntungan bagi pembeli properti saat ini,’’ ujar Direktur Marketing Pakuwon Group Sutandi Purnomosidi dikutip Jawa Pos, Kamis (7/3/2019).

Dia menyatakan, sekaranglah waktu yang tepat untuk membeli atau memulai investasi di bidang properti. Sebab, suku bunga 6 persen itu relatif rendah.

Dengan menahan suku bunga acuan, BI memudahkan konsumen yang ingin membeli properti secara kredit. Baik kredit pemilikan rumah (KPR) maupun kredit pemilikan apartemen (KPA). Sejauh ini pembelian properti lewat KPR dan KPA masih dominan. BI mencatat pertumbuhan skema pembayaran properti via KPR dan KPA 13,9 persen pada triwulan IV tahun lalu.

Pakuwon Group, menurut Sutandi, juga bergantung banyak pada KPR dan KPA. ’’Sekitar 80 persen menggunakan skema ini,’’ katanya.

Belakangan, KPA juga makin diminati. Sebab, sebagian besar pembeli pemula adalah anak muda. Bagi mereka, tinggal di apartemen lebih menyenangkan. Apalagi jika apartemennya berlokasi di dalam kota atau dekat tempat kerja. Di Surabaya, 75 persen pembeli lebih memilih apartemen ketimbang rumah tapak (landed house).

Sementara itu, The Taman Dayu yang dikenal sebagai pengembang properti premium kembali meluncurkan klaster baru. Pada Rabu (6/3/2019), produk baru dengan jumlah terbatas tersebut telah dirilis. Cluster Hayes Mansion itu berada di cluster Sagamore Hills.

“Unit golf view di Sagamore Hills sudah habis terjual. Makanya, kami keluarkan klaster baru yang juga golf view,” jelas General Manager The Taman Dayu Dody Purwanto.

Hayes Mansion terdiri atas 12 unit. Klaster di lahan seluas 5.000 meter persegi tersebut bergaya vila. Karena rumah-rumahnya relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan hunian di klaster lain, harganya lebih terjangkau.

“Kami yakin daya beli masyarakat masih ada. Pasar masih bisa menyerap (klaster baru kami, Red),’’ tutur Marketing Manager Irawati Erwanto. Sampai sekarang, pasar potensial The Taman Dayu tetap Surabaya.

(jpc)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.