Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Asosiasi Logistik Minta Kebijakan Bagasi Berbayar Ditinjau Ulang

0 220

PALU EKSPRES, JAKARTA – Kebijakan bagasi berbayar yang ditetapkan maskapai sejak Januari lalu tak hanya menyebabkan berkurangnya daya beli masyarakat. Tapi perubahan regulasi ini berdampak pada kenaikan biaya kargo jasa pengiriman. Jika tidak segera dievaluasi, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) antardaerah terancam lesu.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Kaltim Faisal Tola mengatakan, kebijakan bagasi berbayar yang ditetapkan maskapai banyak menimbulkan keresahan untuk konsumen angkutan udara. Regulasi ini sudah membuat para penumpang berpikir untuk berbelanja banyak karena harus menanggung biaya bagasi.

Kebijakan baru tersebut membuat daya beli menurun dan akan berdampak pada perekonomian Kaltim. “Kementerian Perhubungan harus meminta maskapai melakukan peninjauan kembali perihal regulasi tersebut,” tegasnya dikutip Kaltim Post (Jawa Pos Group), Kamis (7/3/2019).

Dia menjelaskan, pengaruh dari bagasi berbayar bisa melesukan sektor UMKM antardaerah. Dia berharap maskapai tidak hanya mementingkan sisi keuntungan bisnis. Penerbangan sudah menjadi penghubung masyarakat, sehingga menjadi tugas yang cukup baik.

“Peningkatan biaya dari bagasi tentunya perlu evaluasi. Karena secara jangka panjang dampaknya tak hanya membuat lesu UMKM kita, namun juga sektor pariwisata,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspress Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) Budi Paryanto mengatakan, bagasi berbayar itu juga menyebabkan biaya kargo meningkat. Sudah dua bulan berjalan kenaikan tarif kargo ini, ada dampak utama tentu penurunan jumlah shipment akibat berkurangnya konsumen yang melakukan transaksi pengiriman barang.

“Penurunan shipment atau pengurangan pengiriman dalam dua bulan ini sudah 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya, atau pengiriman rata-rata,” jelas Budi.

Dia menambahkan, kenaikan tarif kargo juga memberikan peningkatan tarif jasa kurir hingga 30 persen. Kenaikan itu disebabkan kurir harus melakukan penyesuaian biaya kargo. Ini merupakan tantangan besar untuk bisnis pengiriman. Dampaknya tak hanya UMKM namun lebih luas.

“Tarif beberapa pengiriman antardaerah berubah, yang membuat jasa kargo meningkat bisnis logistik pasti terdampak. Mulai dari perusahaan pengiriman antardaerah hingga kurir semuanya menyesuaikan tarif,” pungkasnya.

(jpc)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.