Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Ketika KPU Menggugah Kesadaran Politik Kaum Milenial

0 403

PALU EKSPRES, PALUDigital era berhasil membentuk ekosistem unik. Ekosistem yang di dalamnya mayoritas dihuni oleh anak-anak Indonesia di mana internet telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan mereka.

Salah satu cirinya, mereka ingin selalu punya kebebasan kapan waktunya untuk mengonsumsi konten. Pokoknya tidak mau dibatasi. Ya, itulah tipikal generasi milenial.

Satu lagi, generasi milenial dikenal dengan sifat dasarnya tak mau didikte. Dengan sifat ‘tak mau diatur’ tersebut, mereka mempunyai dunia sendiri. Mereka terhubung dengan orang-orang di bagian dunia lain. Sumber pengetahuan tak lagi satu arah. Di ruang kelas atau di kursus-kursus keterampilan. Internet telah menghadirkan sumber pengetahuan luas dengan akses tanpa batas, bagi mereka.

Di tengah diskursus politik yang cenderung tidak sehat dimana frekwensi publik didominasi klaim klaim politik, KPU Sulteng terus mencoba meringsek masuk dalam lingkaran inti generasi milenial. KPU Sulteng memang harus melakukan itu. Di pundak mereka ada tugas berat, meraih 77,5 persen partisipasi pemilih di Sulteng.

Sulteng sendiri mempunyai sekira 1,9 juta untuk pemilih tahun 2019. Dan mayoritas pemilih itu, adalah generasi milenial. Inilah tantangan KPU. Angka 77,5 persen adalah prosentase yang ditetapkan.

Namun memenuhi target tentunya bukan soal mudah. Suara-suara kampanye golput dengan tema yang menggugah rasa penasaran, seperti hajatan ”Pengajian Golput” yang berseliweran di linimasa media sosial, adalah realitas yang tidak bisa dianggap sebelah mata oleh penyelenggara pemilu. Mereka menjlentrehkan ke kepala orang bahwa, memilih buka kewajiban melainkan hak. Karena itu memilih golput adalah bagian dari hak. Tidak ada hak negara untuk mengamputasi hak dasar itu.

Sebagai lembaga yang diserahi tugas besar dengan resources yang besar pula, KPU Sulteng, tak mau menyerah begitu saja, menghadapi kampanye semacam ini. Salah satu yang dilakukan adalah mendekati kelompok milenial dengan cara mereka. Sosialisasi pemilu 2019, dengan menyasar kelompok yang lebih segmented adalah langkah tepat. Karena itu, menyasar pemilih milenial adalah keharusan. Merekalah pangsa pemilih terbesar dari 1,9 juta pemilih di Sulawesi Tengah. Seperti yang terlihat pada Sabtu, 23 Februari 2019 lalu,

KPU Sulteng mengemas lomba dengan cira rasa dan aroma yang sangat milenial. Lomba jingle Pemilu Serentak 2019 dan lomba mural. Setidaknya 12 band lokal Kota Palu dan puluhan pelaku seni mural, mengambil peran pada hajatan yang dihelat sehari penuh di Taman GOR Palu.

Arista Rasid (18) adalah mahasiswa Universitas Tadulako yang mengaku datang ke Taman GOR untuk melihat penampilan band sahabatnya. Ia tidak tahu jika hajatan itu adalah sosialisasi kampanye pemilu yang menyasar orang seperti dirinya. ”Pas datang lihat-lihat oh ternyata ada lomba lukisnya. Ini acara politik politik ya,” tanyanya lugu. Arista yang datang bersama kawannya mengaku belum punya pilihan. ”Belum ada pilihan,” katanya singkat sambil menyeruput teh manis di kantin di Taman GOR.

Di pemilu kali ini, Arista mengaku baru mengantongi dua nama caleg yang dipilihnya, yakni di DPR RI dan DPRD Kota Palu. Sedangkan caleg DPRD Provinsi dan Presiden, perempuan cantik ini mengaku belum punya pilihan. ”Saya masih blank, belum ada yang pas di hati. Kecuali kali DPR Pusat dan Kota Palu,” ungkapnya.

Pernyataan menarik dikemukakan Alisah. Ia pelajar kelas I di Man Model Palu. Genap berumur 16 tahun pada Mei nanti, Alisah tentu saja belum mempunyai kewajiban untuk memilih. Namun kesadaran politik abege berkerudung ini patut diacungi jempol. Kita komunitas remaja katanya, bukannya abai terhadap persoalan bangsa. Namun bagaimana pemilih pemula, punya kesadaran menggunakan hak pilihnya, jika program para capres dan caleg sama sekali tidak menyentuh dunia mereka. ”Kan ini juga jadi soal. Bagaimana mewadahi kepentingan milenal dalam visi misi capres, sepertinya saya tidak melihat itu,” gugatnya.

Alisah yang mengaku, tidak melewatkan debat capres, mengaku belum melihat bagaimana para calon pemimpin nasional itu memberi perhatian pada generasi muda. ”Jadi kalau ada tidak mau memilih mestinya dilihat dulu bagaimana mereka memperhatikan kepentingan generasi muda,” ujarnya tersenyum.

Namun optimisme yang tinggi terus datang dari KPU. KPU terus melakukan sosialisasi masif demi meraup suara pemilih setinggi mungkin. Karena itu, KPU memasifkan sosialiasi kepada segenap lapisan warga. Bahkan untuk kepentingan ini, anggota KPU Sulteng pun berani tampil berbeda.

Anggota KPU Sulteng Sahran Raden, malam itu tampil cukup milenial. Sisiran rambutnya tipis dibiarkan agak tergerai. Pilihan kata yang tidak rumit membuat statemennya mengena di hati milenial. ”Kami yakin partisipasi pemilih mencapai 77,5 persen. Dalam setiap sosialisasi yang dilakukan terlihat adanya peningkatan partisipasi,” kata Sahran.

Raden saat membuka lomba Pentas Musik dan Cipta Jingle Pemilu di Taman GOR Palu Sabtu, pekan lalu. Tampil depan jamaah milenial, Sahran juga tidak memberikan sambutan panjang. Ya, milenial memang ogah menyimak sambutan yang njlimet. Tampil 10 menit, Sahran menyudahi sambutannya. Selanjutnya kawasan Taman GOR berubah menjadi ”milik” mereka.

Bahari Asnan warga Jalan Pue Bongo, malam itu datang untuk mengedrop anaknya. Ia sempat berbincang dengan Palu Ekspres, ia mengapresiasi kemasan yang dibuat KPU Sulteng. Menggugah kesadaran anak anak tidak bisa dengan doktrin. Apalagi jika berkaitan dengan persoalan kebangsaan. Kalau hanya mengandalkan sosialisasi konvensional kata dia, maka tidak akan digubris. Jika mereka tidak memilih, mereka merasa tidak punya beban apa-apa. ”Yang membuat remaja milenial galau hanya dua. Diputus pacarnya atau tidak ada paket data,” katanya tertawa.

Menarik pula mencermati goresan mural para milenial. Dari belasan goresan mural yang terpantau, bisa dirasakan pemahaman mereka terhadap pemilu sudah sangat baik. Anjuran untuk tidak golput adalah narasi yang dominan disuarakan. Dari sini, KPU Sulteng mestinya bungah, pesan dan ajakan bagi generasi milenial ternyata bisa diterima dengan baik. Dan ternyata kesadaran politik kaum milenal itu ada.

Namun soal lain adalah, bagaimana para politisi itu mau memberi perhatian kepada mereka sehingga kepentingan kelompok milenial terwadahi dalam isu isu kebangsaan. Peringatan dari Alisah tadi adalah alarm bagi politisi, sebelum kelompok milenial ini mengabaikannya. (kia/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.