Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Pengamat: Jokowi Galak, Prabowo Terlalu Baik

0 80

PALU EKSPRES, JAKARTA – Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengatakan calon presiden Joko Widodo terlihat lebih ofensif dan galak saat debat kedua capres di Hotel Sultan, Jakarta, Ahad (17/2/2019) malam.

“Contohnya, Jokowi mengatakan Prabowo jangan pesimistis,” ujar Pangi di Jakarta, Senin (18/2/2019).

Mantan Wali Kota Surakarta tersebut, kata Pangi, juga terkesan menyerang pribadi calon presiden Prabowo Subianto. Misalnya, soal kepemilikan tanah seluas 220 ribu hektare di Kalimantan dan 120 ribu hektare di Aceh Tengah.

“Prabowo memang menyempatkan di ujung debat mengklarifikasi bahwa tanah yang dikuasai ratusan ribu hektare benar, itu HGU milik negara,” ucapnya.
Menurut Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting ini, gaya Jokowi di debat putaran kedua berbeda dengan gaya yang ditampilkan capres nomor urut 02.

“Prabowo terkesan lebih bijak dan tak menyerang. Kesan yang muncul juga terlalu berbalas kasihan dan terlalu baik pada Jokowi. Padahal, sang penantang harusnya cenderung memainkan strategi menyerang. Namun, di debat kemarin justru petahana yang ditagih janjinya tampil agresif menyerang,” katanya.

Pangi juga menyatakan Prabowo terlalu baik memuji kinerja Jokowi. Mestinya bisa mengkritik dengan menyatakan mengapa Jokowi menyebut ‘baru akan’ dan ‘sedang kami rencanakan’.
Selain itu, Prabowo, kata Pangi, bisa membantah atau paling tidak mengonfirmasi ulang apabila ada penyebutan data yang keliru dari Jokowi. “Sayangnya, Prabowo hanya diam dan tak membantah data Jokowi. Kebijakan Jokowi yang sudah baik malah diamini Prabowo,” tuturnya.

Pangi menduga, bisa saja dengan sikap tersebut Prabowo ingin memberikan pesan makna politis, sehingga tercitrakan sebagai calon presiden negarawan dan nasionalis.

“Prabowo memang tak seluruhnya menerima begitu saja pemaparan Jokowi. Ia juga terlihat menyerang dengan mengkritik soal infrastruktur Jokowi,” ucap Pangi.

Sayangnya, Ketua Umum DPP Partai Gerindra itu tidak menggunakan data yang kuat membantah soal infrastruktur, kecuali soal MRT Palembang dan Bandara Kertajati, Bandung.

(gir/jpnn)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.