Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Dompet Dhuafa Tingkatkan Pemulihan Lombok

0 47

PALU EKSPRES, JAKARTA- Mengawali 2019, sebagai lembaga

kemanusiaan filantropy Islam yang menjaga kredibilitas dan

transparansi, Dompet Dhuafa mengadakan laporan kinerja lewat

Public Expose 2019. Bertempat di Bakoel Kopi Jl Cikini Raya,

Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (24/1/2019)

Menurut Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi drg Imam Rulyawan

MARS mengatakan Dompet Dhuafa selama perjalanan 25 tahun

memberikan kontribusi layanan bagi perkembangan ummat dalam

bidang sosial, kesehatan, ekonomi, dan kebencanaan serta CSR.

”Melalui public expose ini kami harapkan lebih banyaknya para

masyarakat yang mendonasikan ke Dompet Dhufa untuk lebih

menyebarkan manfaat kepada kaum dhuafa,” ujarnya.

Jumlah penerima manfaat Dompet Dhuafa dari tahun 1993 hingga

tahun 2018 sebanyak 19.13 juta jiwa dan layanan, Sementara jumlah

penghimpunan Dompet Dhuafa di 2018 sebanyak Rp 312.50 miliar.

Lima pilar yang dimiliki Dompet Dhuafa seperti pendidikan,

kesehatan, ekonomi, sosial, dan dakwah menjadi pondasi dalam

mengembangkan program-program pengentasan kemiskinan masyarakat

Indonesia.

Dompet Dhuafa memiliki 17 cabang dan perwakilan dalam negeri,

lima cabang berada di luar negeri, sembilan kantor layanan, 138

program, 19 gerai sehat layanan kesehatan cuma-cuma, lima rumah

sakit, empat sekolah, tujuh outlet Dayamart, 1 De Fresh, 11 unit

Bisnis, sebagian besar pertumbuhan merupakan hasil pendekatan

Dompet Dhuafa terhadap khasanah budaya lokal.

Dalam perkembangannya Dompet Dhuafa tidak saja mengelola dana

zakat, infaq , sodakoh dan wakaf (ZISWAF), Dompet Dhuafa juga

mengelola dana kemanusiaan untuk bencana yang diakibatkan oleh

peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam.

Rumah tinggal hanyalah salah satu masalah yang dihadapi penyintas

gempa di Lombok, masih banyak persoalan yang dihadapi di

lapangan, mulai dari pendidikan, kesehatan, belum lagi pemulihan

ekonomi yang luluh lantak.

Berdasarkan data Kogasgabpad akibat gempa Lombok yang terjadi

pada 29 Juli 2018 menyebabkan korban meninggal sebanyak 560

orang, luka berat 709 orang, luka ringan 345 orang sedangkan

jumlah pengungsi mencapai 390.529 orang. Kerusakan rumah rusak

berat 76.765 unit, rumah rusak sedang 2.584 unit dan rusak ringan

35.594.

Lambatnya proses perizinan ini dinilai karena faktor subjektif

yang diberlakukan oleh pemerintah kabupaten/kota. Akibatnya, dana

yang ditransfer ke daerah tidak dapat dicairkan atau mengendap

apabila jumlah fasilitator masih kurang. Padahal, saat ini ada

sekitar 44 ribu rumah rusak berat di Lombok Utara. Sementara

fasilitator hanya 100 orang. Maka dibutuhkan 1.400 orang

fasilitator.

Berdasarkan data terakhir dari Kementerian Koordinator PMK, yang

menjadi koordinator penanganan gempa di Lombok menyebutkan, dana

yang sudah ditransfer ke pemerintah daerah sebesar Rp 3,5 trilun.

Sedangkan yang sudah ditransfer ke masyarakat sebesar Rp 1,6

triliun.Terkait pendataan pokmas, yang sudah terbentuk mencapai

1.850 atau sekitar 22.648 Kepala Keluarga (KK). Dari pokmas yang

sudah terbentuk itu, yang sudah mendapat Surat Keputusan (SK)

mencapai 1.530 Pokmas atau sekitar 19.274 KK.

Merespon hal tersebut, Deputi Bidang Rehabilitasi dan

Rekonstruksi, Harmensyah, menjelaskan bahwa keberadaan Pokmas

menjadi syarat penting untuk pencairan dana bantuan stimulan

rumah untuk korban bencana tersebut. Dimana melalui Pokmas,

diharapkan bantuan yang disalurkan dapat tepat sasaran.

(mdo/indopos)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.