Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Fatmawati, Menata Hidup dari Tenda hingga Huntara

0 101

FATMAWATI (40) tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Wajahnya tampak semringah. Senyumnya terus mengembang. Pandangannya menyapu ruangan berlantai cor kasar. Kepalanya mendongak, melihat kerangka baja ringan di langit-langit yang saling silang.

Pemandangan itu tentu saja berbeda, dengan tempat tinggalnya saat ini di tenda pengungsian di Lapangan Dayodara di depan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Palu. Fatmawati mengaku, di sana ia menempati tenda hasil pembagian dari Badan Pengungsi PBB – UNHCR.

Tinggal di tenda yang didirikan di atas tanah tandus seolah melengkapi derita mereka sebagai korban terdampak gempa 28 September tahun lalu. Saat siang hari hawa panas menyengat, memaksa mereka mencari tempat teduh di pinggir lapangan atau rumah- rumah tetangga. Saat malam hari, panas yang berganti udara sejuk tak lantas membuat mereka nyaman. Angin malam yang menyapu debu di atas tanah tandus, membuat pengungsi rawan terserang penyakit pernapasan. Jika hujan deras, rembesan air akan memaksa mereka tidak bisa tidur. Semua perabot menjadi basah. ”Benar-benar pengalaman yang sulit dilupakan,” ungkap Fatmawati terkekeh.

Tidak ada lagi guratan sedih di wajahnya, kala menceritakan pengalaman mereka di tenda di Lapangan Dayodara. Pengalaman hidup yang pahit tak lagi terasa getir. Sebaliknya Fatmawati dan keluarganya menjalaninya dengan ceria.

Ketika namanya masuk dalam daftar calon penghuni hunian sementara (huntara) yang dibangun oleh Rumah Zakat, Fatmawati mengaku tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Kemarin seusai peresmian, ibu satu anak langsung menuju unit yang pada pintunya sudah tertulis nama suaminya itu. Saat membuka pintu bercat orange, pandangannya langsung tertuju ke sekeliling ruang berukuran 4×6 itu. ”Alhamdulilah,” katanya singkat. Sambil mulutnya terus berkomat kamit, merapal segenap doa syukur atas hunian yang bakal ditempatinya itu.

Kepada Palu Ekspres, Fatmawati mengaku sembari menunggu hunian tetap (huntap) yang akan dibangun, ia mulai menyusun rencana masa depannya secara perlahan. Salah satunya adalah kembali menekuni usaha kuliner yang dijalaninya saat sebelum gempa. Ia membuat kue dan makanan ringan yang dititip di sejumlah kios di sepanjang Jalan Tombolotutu. Sedangkan suaminya menjalankan usahanya sebagai pekerja swasta. ”Dengan ruangan seperti ini, bisa fokus memulai lagi usaha,” tekadnya.

Menurutnya mulai malam ini (kemarin) ia sudah menempati huntara. Semua perkakas di tenda akan diangkut ke hunian barunya itu.

Penghuni lainnya, Ahmad M, mengaku malam ini juga akan memindahkan seluruh barangnya di tenda pengungsian di Dayodara ke huntara. Ahmad bersama istrinya, terlihat meninjau unit yang bakal ditempatinya. Demikian pula sang istri bertekad akan pindah secepatnya. Setelah beberapa hari ini jadi bulan bulanan cuaca karena hujan turun tak kenal kompromi. Perabot basah bahkan untuk tidur pun menjadi susah. Di hunian baru itu, diakuinya belum terlalu layak di tempati. Hujan deras yang mengguyur Kota Palu, membuat ruangannya basah oleh rembesan air dari luar. Pihak developer tidak membuat parit yang membatasi akses air hujan ke dalam kamar. Akibatnya, lantai kamar yang sejajar dengan permukaan tanah memudahkan air menerobos masuk ke setiap unit.

Namun pihak developer berjanji akan membuat parit agar air hujan tidak masuk ke kamar. Walau dengan kondisi yang belum terlalu layak, suami istri ini bertekad untuk segera pindah.

Keluarga ini mempunyai 3 anak. Namun karena ruangan yang tidak memadai maka hanya dua anaknya saja yang tidur bersama mereka di huntara. ”Kami ada lima orang. Tiga anak dan saya sama bapaknya. Nanti yang tidur di sini dua saja, jadi 4 orang yang tidur di sini,” kata sang istri terus terang.

Huntara yang terletak di Jalan Dayodara berdekatan dengan Pasar Talise Valangguni, pembangunannya belum rampung 100 persen. Saat ini baru 50 unit yang dibangun. Sisanya masih akan dibangun lagi. Fasilitas dasar seperti kamar mandi terlihat sudah rampung. Sedangkan lampu listrik, belum masuk. Padahal jaringannya sudah terpasang di setiap unit.

Imran Lataha, Asisten II Bidang Perekonomian Kota Palu, mengatakan, untuk mengalirkan daya ke setiap huntara, Pemkot akan menyurat ke PLN. ”Atas dasar surat itu, PLN menyuplai daya ke setiap unit,” jelasnya. Sedangkan pembayarannya, akan disatukan dengan pembayaran rekening penerangan jalan umum (PJU) yang menjadi tanggungjawab pemerinta kota.

Didi Sabir, Strategic Partnership Division Head Rumah Zakat Indonesia, relawan yang membangun huntara tersebut bilang, total yang dibangun rumah zakat ada 200 unit untuk korban musibah di Pasigala. Separuhnya dibangun di Jalan Dayodara tersebut. Sabir mengatakan, untuk membangun huntara sebanyak itu, mereka mendapat dukungan penuh dari donatur. Salahsatunya dari Soophe – sebuah perusahaan e-commerce yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap korban bencana di Indonesia termasuk di Sulawesi Tengah.

Sedangkan Rezky Yanuar – Country Brand Manager Soophe, yang hadir pada peresmian huntara, mengatakan, sebagai perusahaan e-commerce, mereka ingin memberikan penguatan pada pemberdayaan ekonomi kepada para penyintas. Khususnya soal memberikan pemahaman bagaimana berjualan secara online. Yanuar mengatakan, untuk musibah di Pasigala, pihaknya menyalurkan sedikitnya Rp1 miliar yang disalurkan melalui Rumah Zakat Indonesia. Pelaksanaan teknisnya diserahkan ke Rumah Zakat Indonesia. Bantuan itu katanya disalurkan di sejumlah wilayah yang terdampak musibah.
Di tempat yang sama, Lurah Talise Valangguni Hj Irma S.Sos mengatakan, warga yang prioritas masuk di huntara adalah mereka yang rumahnya rusak berat, perempuan, lansia dan anak-anak. Sedangkan, warga yang hanya mengontrak rumah menurut Irma dipastikan tidak mendapat huntara. ”Ini sesuai kesepakatan rapat yang dipimpin oleh wali kota,” katanya, Selasa 22 Januari 2019.
Peresmian huntara dihadiri oleh warga penyintas dan pemerintah Kota Palu serta para donatur Rumah Zakat.

(kia/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.