Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Politik Dengki dan Hoax

0 126

Oleh Muhd Nur Sangadji

TULISAN Ridha Saleh tentang politik kedengkian sangat menarik untuk disimak. Bukan cuma dari segi substansi tapi juga dari aspek personaliti dari karib saya ini, selaku mantan anggota Komnas HAM RI. Cara berfikirnya runut dalam literasi yang enak dibaca.

Sepintas, secara linier satu arah, pikirannya sudah cukup bagus. Namun, arah tidak selalu linier. Bisa parabolik, bahkan berlawanan. Karena itu saya berpandangan bahwa Politik dengki, hasut atau juga hoax, bisa juga bermata dua. Dipakai oleh siapa saja untuk menutupi kelemahannya.

Inilah strategi contra flow yang dipakai di jalan tol. Secara linier, jalan tol itu satu arah dan kenderaannya laju. Karena tujuan ini tidak tercapai alias macet, maka diciptakan contranya yg menggambarkan arah balik. Hasilnya, jalan tol menjadi lancar kembali.

Strategi ini juga bisa dibilang strategis logika terbalik. Prinsipnya, lawanlah sesuatu dgn sesuatu yang kamu takutkan terjadi. Dan, kamu tidak akan takut lagi. Kamu, sebagai misal, bila tak bisa atau sulit tidur,, maka berusahalah untuk tidak tidur,, dan kamu akan tertidur.

Strategi logika terbalik ini juga pernah dipakai Napoleon Bonaparte. Dalam sebuah pelayaran yang ombaknya tinggi sekali, ada satu penumpang Afrika yang ketakutan histeris melihat laut dan ombak. Oleh Napoleon, diperintahkan untuk diikat dan di “lego” ke laut. Setelah itu, si Afrika tidak lagi ketakutan.

Berita serupa

Dari sejarahnya, hoax sudah lama dipraktekan orang. Dia bahkan menjadi pemicu beberapa perang besar. Sejumlah tentara Nazi dipimpin Alfred Naujocks menyamar sebagai tentara Polandia. Mereka menculik seorang petani Polandia, Franciszek Honiok, kemudian dibius dan dibawa ke stasion radio milik Jerman di perbatasan. Mereka lalu menyiarkan bahwa Polandia telah menguasai stasion radio dan pasukan Polandia telah siap menyerang. Besoknya, 1 September 1939, Adolf Hitler perintahkan pasukan Jerman menyerang Polandia yg memicu meletusnya perang dunia II.

Kemunculannya di AS pada era kontemporer cukup bagus dihadirkan sebagai pembanding. Masa itu, hoax ini amat kesohor dengan sebutan “conspiracy theorist”. Ini digunakan untuk meredam pemikiran yang mengkritik penguasa atau meredam isu tertentu di publik. Ketika publik sadar bahwa yg dibilang hoax itu ternyata benar maka dirubah lagi istilahnya menjadi,,, fake news..,Apa tujuannya,, untuk menghipnotis publik bahwa berita negatif atau miring tentang penguasa, pasti bohong.

Ini, tentu saja sama bahayanya dgn berkata bahwa semua yang dilakukan penguasa itu salah. Sebab, kalau ini terjadi maka penguasa atau pemerintah sesungguhnya sudah tidak ada. Terjadi malapetaka “distrust”.Populer sekali dengan istilah “civil disobediences”, yaitu ketidak patuhan warga pada apa pun yang diucap atau dilakukan penguasa.

Kasus Poso puluhan tahun silam, bisa menjadi pelajaran. Ada berita, pada siang hari tentang akan adanya penyerangan kelompok tertentu pada malam hari nanti. Berita ini dianggap hoax. Lalu, pemerintah dengan fasilitasnya bekerja menenangkan rakyat untuk tidak percaya dengan isu tersebut. Dan apa akibatnya..? Pada tengah malam, terjadi betul penyerangan ini dengan korban yg sangat menyedihkan itu. Lantas, kita mau bilang apa lagi. (***)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.