Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Suasana Malam Pergantian Tahun 2018, Tatkalah Suara Terompet Berganti dengan Alunan Zikir

0 148

TAK ada bunyi petasan yang memekakkan telinga.
Tidak ada percikan kembang api di angkasa.
Tidak ada seliweran warga di jalanan.
Tidak serakan sampah di jalanan.
Tidak ada kemacetan.

Sunyi.

Senyap.

—–

Laporan: Yardin Hasan

DARI kejauhan terdengar suara takbir bersahutan dari menara masjid. Itulah pemandangan baru di malam tahun baru. Pemandangan yang lain dari biasanya.

Tahun – tahun sebelumnya, suasana pergantian tahun selalu hingar bingar. Bukan hanya pesta kembang api dan petasan yang menjadi properti wajib bagi setiap orang. Pesta musik mulai yang berskala besar hingga gang sempit di hunian kumuh menjadi sajian wajib di malam megah itu.

Dalam skala terkecil warga tak segan merogok kocek tambahan, membuat pesta kecil bertema pesta taman bersama keluarga atau kerabat terdekat. Lengkap dengan kuliner kegemaran. Tapi itu dulu. Cerita setahun lalu.

Kali ini, suasananya lain. Pemandangan euforia tahun baru tak lagi ditemukan untuk tidak mengatakan, Kota Palu dan sekitarnya sedang kehilangan gairah merayakan selebrasi tahun baru itu. Wartawan koran ini, sejak pukul 19.00 wita sengaja mencari spot yang memungkinkan untuk bisa menyaksikan suasana malam kota Palu secara keseluruhan.

Kompleks BTN Palu Nagaya di Donggala Kodi – salah satu titik ideal untuk menyaksikan kilatan bola api yang sambar menyambar di atas langit Kota Palu. Namun momen yang ditunggu tak juga terlihat. Demikian juga bunyi petasan yang dimainkan anak-anak di kompleks pemukiman tak pernah terdengar.

Satu jam bertahan di ketinggian perumahan Kompleks Palu Nagaya – tak satu pun terlihat selebrasi menuju tahun baru. Lalu kemudian menyusuri Taman Ria hingga Pantai Talise suasana senyap. Pukul 23.30 wita atau setengah jam sebelum masuk tahun 2019, kembali lagi mendaki tanjakan di BTN Palu Nagaya.

Kali ini mencoba naik ke Dusun Padanjese, ini sudut terbaik untuk menyaksikan lanskap kota lembah ini. Hasilnya sama. Tidak ada bunga api yang menjulur-julur ke langit Palu. Tidak ada bunyi bunyian.

Dari kejauhan jalan jalan terpantau senyap. Kembali turun menyusuri jalan jalan utama Kota Palu, sangat terasa tidak ada keceriaan warga kota menyambut tahun baru. Di bekas Anjungan Nusantara, di Monumen solar eclipse hingga kompleks Kampung Kaili, suasananya gelap. Nyaris horor. Hanya suara deburan ombak memecah kesunyian tanpa henti. Di sana-sini tampak serakan sampah plastik dihempas ombak. Bongkahan beton di bekas wahana bermain anak-anak tampak kaku, mencuat di sana sini. Jembatan kuning yang tak lagi kuning itu, tinggal sepotong. Mengantarkan ingatan pada potongan potongan cerita kelam di senja yang malang itu.

Dari kejauhan tampak pantulan lampu penduduk di sepanjang pantai berpendar di atas laut yang tenang. Setenang suasana hati warga kota malam itu.

Lantas kemana warga kota malam itu. Jarak waktu yang relatif dekat peristiwa 28 September lalu, setidaknya menjadikan warga Kota Palu merasa tidak perlu menghabiskan waktu yang disebut identik dengan hura-hura itu. Setidaknya ini diakui, Arman (32) nelayan di Pantai Talise yang ditemui sore hari menjelang magrib. Malam nanti kata dia, ia dan keluarga berkunjung ke tenda kerabat di halaman Masjid Darusalam Palu. Menikmati penganan ringan. Tidak ada lagi musik elekton di halaman rumah seperti tahun sebelumnya.

Arman yang anak perempuannya menjadi korban tsunami di Kampung Lere mengatakan, walau berprofesi nelayan namun ia dan koleganya selalu merayakan tahun baru. Tahun ini ia tak berhasrat menggelar pertunjukan musik hidup di halaman rumahnya. Bukan karena rumahnya yang sudah lenyap. Tetapi kehilangan putri cantiknya menjadi titik balik kehidupannya. ”Jika diberi umur panjang, tahun depan juga tidak perlu ada lagi pertunjukan elekton,” katanya.

Arman mengenang putrinya yang baru menginjak bangku SMP, pada sore 28 September lalu, sedang menemaninya menikmati kuliner jagung bakar bikinan istrinya. Usai melahap jagung bakar ia beranjak meninggalkan anaknya menuju kediaman untuk menunaikan salat magrib. Di rumahnya dilihatnya istrinya sedang menanak nasi untuk jamuan malam. Selepas salat keluarga kecil ini berencana menyaksikan Festifal Pesona Palu Nomoni 2018 di Kampung Kaili.

Tak berselang lama, guncangan hebat yang diikuti tsunami menyapu semua rumah di pesisir pantai termasuk rumahnya. Arman berlari menuju tempat ia dan putrinya. Ia tidak mendapati anaknya. Sampai saat ini putri semata wayangnya bahkan tidak ditemukan.

Saat menceritakan kisah putrinya, matanya tampak sembab. Ia meminta untuk tidak difoto. Arman hanya salah satu penyintas bencana tsunami yang memilih tidak merayakan tahun baru kali ini. Suasana duka yang masih membekas kuat inilah yang menyebabkan warga tidak antusias menyambut tahun baru.

Ibu Ineke Astusi warga di Jalan Rajawali juga mengaku, tidak ada perhelatan berlebihan merayakan malam perpisahan tahun. ”Sepulang dari kebaktian, kumpul dengan keluarga berdoa untuk diberi keselamatan. Setelah itu ya di rumah saja, tidak kemana-mana,” ungkap anggota Jemaat GKST Imanuel ini. Paginya, ia dan keluarganya berencana menemui kerabatnya di tenda pengungsian. Baik muslim maupun kristen.

Aparat polisi dan TNI juga terlihat tidak menonjol. Aparat hanya terlihat berkonsentrasi di sejumlah gereja. Sedangkan di poros jalan utama, peran aparat terlihat minim. Lalu lalang kendaraan sepi. Bahkan menginjak jam 24.00, jalan jalan utama terlihat lengang. Hanya ada beberapa truk pengangkut logistik antarprovinsi yang terlihat seliweran di jalan.

Pemerintah provinsi dan pemerintah Kota Palu, sebelummnya telah mengeluarkan imbauan untuk tidak membuat selebrasi tahun baru secara berlebihan. Baik pemkot maupun pemprov, bahkan menggelar zikir di masjid. Sejumlah masjid di Kota Palu, menggelar zikir. Hingga pukul 24.00 wita, saat lonceng peralihan tahun berdentang menuju 1 Januari 2019, tidak terdengar bunyi petasan atau pesta kembang api yang menjulang di angkasa.

Sebaliknya, dari menara tinggi masjid terdengar suara takbir bersahutan – bak malam takbiran. Ribuan warga berkumpuk di masjid, di surau atau musholah. Bermunajat memohon ampun dan keselamatan dari pemilik alam semesta. (***/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.